Berita Video
Keliling Kalimantan Bawa Catatan Lapar dan Haus, Penulis Muda Ini Singgah di Balikpapan
Joe Prasetyo penggiat literasi Balikpapan dan Ahmad Fitriadi aktivis literasi Gemar Belajar (Gembel) PPU dipercaya mengulas
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani |
Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Muhammad Fachri Ramadhani
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Pemuda Kaltim yang berani mengatakan dirinya sebagai penulis muda, M Nata, mendarat di Balikpapan membawa karya tulisnya.
Buku Catatan Lapar dan Haus, olahan pemuda kelahiran Samarinda, coba dibedah dalam tajuk Bincang Buku di Go Game on Cafe Balikpapan, Minggu (12/8/2018).
Nama pembedah seperti, Joe Prasetyo penggiat literasi Balikpapan dan Ahmad Fitriadi aktivis literasi Gemar Belajar (Gembel) PPU dipercaya mengulas karya pemuda berusia 23 tahun yang masih studi di Yogyakarta ini.
"Saya menyebutnya karya ini catatan. Bebas untuk diekspresikan," kata Nata dalam perbincangan.
Baca Juga :
Harga Telur ayam di Pasar Klandasan Balikpapan Berangsur Normal
Putri Marino tak Suka Ditanya Usia Kehamilannya, Begini Jawaban Pamungkasnya
Dinkes PPU Janji Besok Gaji dokter PTT Dibayarkan
Disperindag Kota Balikpapan Sebut Harga Bahan Pokok Masih Stabil Jelang Idul Adha
Catatan Lapar dan Haus menurut penulis merupakan rangkuman peristiwa yang dialaminya, dalam perenungannya sebagai mahasiswa rantau di pulau jawa. Banyak cuplikan kejadian yang dikonversi menjadi karya tulis dalam buku catatannya.
Pendekatan memaknai ruang remeh diperlihatkan dalam setiap bait tulisannya. Seperti persoalan kamar mandi. Setiap jengkal lantainya ternyata mampu disulap menjadi syair yang pedas. Belum lagi berbicara di kamar indekos, lebih-lebih perkara kasur.
"Motifnya itu kemuakan. Ada keresahan menerima apa yang diberikan semesta kepada diri kita. Sayang tak ditulis," kata pemuda berambut ikal ini.
Kendati demikian, memang pemilihan diksi yang vulgar jadi catatan menarik dalam perbincangan buku kedua yang dilahirkan penulis yang saat ini studi di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta.
Kemerdekaan penulis mengungkapkan gagasan dalam karyanya, seperti terhambat oleh nilai-nilai dan norma lingkungan yang melingkupinya. Tak jarang, para apresiator yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa mempertanyakan maksud dan tujuan penulis.
"Mengapa menghadirkan bahasa yang begitu vulgar. Hal-hal begitu masih tabu di masyarakat," tanya Sirhana, mahasiswa Uniba.
Mengolah keintiman, bagi Nata, dengan bahasa yang lebih jujur menjadi kepuasan tersendiri dalam ia menuliskan syair-syairnya.
Hal itu juga diamini oleh Jo Prasetyo, yang menilai bahwa hal tersebut merupakan kebebasan berekspresi seorang seniman. Namun ia juga menitipkan kata 'tanggungjawab' kepada penulis, setelah apa yang dikemukakan pada bukunya.
Simak Videonya :
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/buku-catatan_20180813_141746.jpg)