Berlayar di Sungai Mahakam, Kapal Motor Samarinda-Mahakam Ulu Ini Oleng 75 Derajat
Titik lokasi kejadian kecelakaan kapal tersebut berada di sekitaran Sungai Mahakam daerah Alan, Kampung Long Bagun Ulu, Kecamatan Long Bagun.
Penulis: Budi Susilo |
TRIBUNKALTIM.CO, LONG BAGUN – Satu angkutan umum kapal motor bernama KM Mira Farisma jurusan Kota Samarinda-Long Bagun mengalami petaka.
Kapal berukuran besar dan terbuat dari kayu ini mengalami oleng di kawasan perairan Sungai Mahakam, di Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Kepolisian Sektor Long Bagun, Iptu Purwanto kepada Tribunkaltim.co melalui pesan sambungan WhatsApp pada Kamis (21/2/2019) pagi.
• Pemkab Kubar Programkan Ziarah dan Umrah, Penghargaan buat Tokoh Agama dan Masyarakat
• 90 Tenaga Profesional Dampingi 190 Kampung, Kontrak Setahun Bantu Pengelolaan Dana Desa di Kubar
• Tak Jadi ke Persija, Fabiano Beltrame Pilih Persib Bandung, Beredar Percakapan dengan Bobotoh
Ia menjelaskan, kejadian kecelakaan yang dialami KM Mira Farisma berlangsung kemarin atau Rabu 20 Februari 2019 sore.
Kapal saat berlayar di Sungai Mahakam di Kabupaten Mahakam Ulu, namun tiba-tiba kapal langsung oleng.
“Kapal miring, hampir mau jatuh ke air. Untung tidak ada korban jiwa,” katanya di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu.
Titik lokasi kejadian kecelakaan kapal tersebut berada di sekitaran Sungai Mahakam daerah Alan, Kampung Long Bagun Ulu, Kecamatan Long Bagun.
Kondisi Sungai Mahakam sedang tidak kering atau banjir meluap. Kondisi air sungai dalam keadaan normal.
Muatan KM Mira Farisma berisi barang-barang belanjaan kebutuhan masyarakat setempat seperti di antaranya sembilan bahan makanan pokok dan bahan material bangunan.
“Isinya ada yang bawa beras, bawa mautan semen,” urai Kapolsek Long Bagun.
Saat sebelum kejadian KM Mira Farisma oleng, arus Sungai Mahakam bisa dikatakan lumayan kuat.
Kala KM Mira Farisma akan berencana menepi dan mengeluarkan barang muatan tiba-tiba kapal langsung miring sekitar 75 derajat.
Kontan hal itu membuat panik beberapa anak buah kapal dan untungnya, penumpang orang pun tidak dalam jumlah banyak.
• 3 Link Live Streaming Sriwijaya FC vs Madura United di Leg 2 Piala Indonesia Hari Ini
• Tentara di Perbatasan Gagalkan Penyeludupan Miras dari Malaysia
Berdasarkan informasi di lapangan, miringnya tubuh KM Mira Farisma di Sungai Mahakam Kampung Long Bagun Ulu disebabkan persoalan teknis.
Kapal mengalami celaka bukan karena tabrakan tetapi lebih kepada adanya kesalahan pada mesin kapal yang tiba-tiba mati.
“Mesin kapal mati, ya hilang kesimbangan, tapi langsung bisa di antisipasi. Tidak ada korban,” ujar Purwanto.
Keberadaan KM Mira Farimsa bukan satu-satunya alat transportasi sungai di Mahakam Ulu, Jumlahnya ada lebih dari lima. Saban hari selalu saja ada kapal sejenis.
Transportasi umum ini melayani rute Kota Samarinda, Tering Kutai Barat sampai Long Bagun Mahakam Ulu.
Angkutan umum ini bisa dibilang alat yang utama buat menuju ke Mahakam Ulu sebab, jalur darat untuk dari Kutai Barat ke Mahakam Ulu masih belum layak, kondisinya masih alami nan liar.
Masyarakat mengandalkan kapal motor besar ini jika ingin membawa barang melimpah dibawa ke Kabupaten Mahakam Ulu.
Sayangnya, kapal jenis seperti ini baru bisa mengantar sampai ke Long Bagun Hilir, belum bisa membawa sampai ke kampung paling ujung di Mahakam Ulu, yakni Kampung Tiong Ohang dan Kampung Long Apari sebab medan sungainya sudah berbeda, banyak jeram berbatu cadas dan dangkal tidak sedalam dengan Sungai Mahakam yang ada di hilir. (*)
Ujoh Bilang Ingin Tersedia Bandara
Upaya membuka keterisolasian daerah di dareah hulu Mahakam, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Pemkab Mahulu) tengah memperjuangkan membuat fasilitas transportasi udara berupa bandar udara (bandara) di Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mahulu, Stephanus Madang, saat ditemui Tribunkaltim.co di ruang kerjanya, Jl Poros Tikah, Kampung Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu.
Ia menjelaskan, belum lama ini, Bupati Mahulu bersama pihak Dinas Perhubungan Mahulu lakukan kunjungan ke Kota Jakarta, menghadiri soal kegiatan presentasi Laporan Akhir Penyusunan Rencana Induk Bandar Udara bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur.
“Kami harus melewati sampai 21 tahapan dalam rencana bangun bandara. Sekarang kita sudah masuk ke tahapan yang ke 16, masih terus berproses,” ujarnya pada Selasa (11/12/2018).
Dia menyatakan, perencanaan pembangunan bandara di Mahakam Ulu sudah bergulir sejak dua tahun yang lalu, sekitar di tahun 2016. Pemkab Mahulu terus berkomitmen mewujudkan infrastruktur bandara. “Kewenangan membuat ini semua ada dari bupati, gubernur sampai menteri,” ujarnya.
Pihaknya saat berkomunikasi dan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, direspon positif, pihak kementerian memberi sinyal lampu hijau jika Mahulu membuat bandara.
Usulan yang berhembus, titik lokasi yang bakal dijadikan bandara memilih di Ujoh Bilang, yang notabene sebagai ibukotanya Kabupaten Mahulu. Pemilihan tempat di Ujoh Bilang menjadi kajian strategis, yang kini tinggal menunggu kajian kelayakan keselamatan penerbangan.
“Daerah kita tidak ada gunung-gunung tinggi, aman buat penerbangan. Sekarang tinggal dikaji saja dari sisi kecepatan anginnya seperti apa. Ujoh Bilang jadi pilihan, dibangunnya bandara,” ungkap Madang.
• Link Live Streaming Persija vs PS Tira Persikabo, Tayang Kamis (21/2/2019) Hari Ini Pukul 15.00 WIB
• Polisi Bantah Minta Dokumen Surat Cabai pada Sopir Truk Bermuatan Lombok saat Ditilang Polisi
Hal yang menjadi latarbelakang Pemkab Mahulu berupaya membuat bandara di Ujoh Bilang pastinya ingin membuka keterisolasian. Tersedianya bandara pastinya akan memberikan akses secara luas, berharap akan berimbas bagi kemajuan daerah.
Terlebih lagi, kata dia, Mahulu ini dianggap kawasan strategis dekat perbatasan dengan negara Malaysia, Serawak, pastinya dari sisi pertahanan dan kemanan juga perlu menjadi pertimbangan dibuatnya bandara.
“Mau kita jalur darat kebuka, sungai sudah pasti telah terbuka, kenapa tidak sekalian yang udara juga harus ada aksesnya. Yakin kalau ini terbuka, Mahulu bisa mengalami kemajuan,” ujar pria berkacamata ini.
Terutama lagi, kata Madang, dari sisi sektor pariwisata. Jika bandara sudah terbangun, dunia pariwisata Mahulu yang dikenal sebagai wisata alam heart of borneo akan menjadi andalan wisata di Indonesia. Masyarakat mancanegara akan sering banyak datang menikmati panorama alam Mahulu. “Wisata itu kan prinsipnya, mudah, cepat dan murah,” tuturnya.
Sebagai langkah awal, perencanaan pengadaan bandara di Ujoh Bilang kemungkinan besar membangun untuk kelas bandara perintis yang bisa dipakai untuk pesawat untuk jenis ATR seperti halnya yang ada di Melak Kabupaten Kutai Barat, atau bandara di Tanjung Selor, Kalimantan Utara.
Pastinya, tambah dia, nanti mengikuti proses akan terus ada peningkatan, dari bandara perintis, perlahan tapi pasti naik status menjadi bandara berkelas internasional, yang bisa didaratkan pesawat berbadan besar.
“Perencanaan yang kami gambarkan, ditargetkan masuk tahun 2020 itu sudah mulai masuk ke pengerjaan fisik bandara,” ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/kapal-oleng-1.jpg)