Rabu, 15 April 2026

Pilpres 2019

Nyaris Disusul Prabowo-Sandiaga Menurut Survei Litbang Kompas, Begini Respon Jokowi

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dalam survei ini turun dibandingkan survei Litbang Kompas di Oktober 2018 lalu.

"Ini bukan menunjukkan penyelenggara surveinya yang hebat, melainkan karena penyelenggara survei, dalam hal ini Kompas, tunduk pada ilmu statistik," ujar Harianto.

Dari 2007 hingga jelang Pilpres 2019 ini, Litbang Kompas telah melakukan 15 kali survei elektabilitas.

Lantas, bagaimana proses dan cara kerja Litbang Kompas dalam melakukan survei?

Cerita di balik layar Kisah mengenai kerja yang di Litbang Kompas diceritakan Manajer Database Litbang Kompas Ignatius Kristanto. Persiapan survei elektabilitas terbaru pada 22 Februari-5 Maret 2019 telah dilakukan sejak Januari 2019.

Menurut Litbang Kompas Logistik, kuesioner, dan perekrutan tenaga survei adalah beberapa persiapan yang dilakukan.

"Persiapan yang matang dan patuh kepada ilmu statistik merupakan hal yang selalu kami pegang dalam melakukan survei," ujar Kristianto.

Litbang Kompas merekrut 250 tenaga survei dan memberikan mereka upah selama masa bekerja. Mereka yang direkrut sebagai tenaga survei adalah mahasiswa semester IV ke atas dari perguruan tinggi negeri ataupun swasta.

Sebelum terjun ke lapangan, para mahasiswa ini akan mendapatkan pelatihan komprehensif dari Litbang Kompas. Seorang tenaga survei mendapatkan tugas mewawancarai delapan responden.

Survei terbaru melibatkan 2.000 responden dari desa-desa yang tersebar di 34 provinsi Indonesia. Dari satu desa, dipilih acak sebanyak empat responden.

Penentuan jumlah responden setiap provinsi dilakukan berdasarkan jumlah penduduk dan daftar pemilih tetap (DPT) terbaru serta data potensi desa menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).

Contohnya, di provinsi A terdapat 5 persen dari total DPT. Maka, di provinsi itu akan dicari responden sebanyak 5 persen dari 2.000 responden yang ditetapkan Litbang Kompas.

Dari tingkat provinsi, papar Kristianto, pencarian responden akan dipersempit ke tingkat kabupaten/kota, kelurahan, hingga RT. Pada tingkat kelurahan, Litbang Kompas memilih acak sebanyak dua RT, lalu Litbang Kompas meminta izin mendata seluruh kartu keluarga (KK) di sana. 

Setelah memperoleh data KK, Litbang Kompas akan memilih acak lagi sebanyak empat orang dari dua keluarga. Dari masing-masing keluarga itu, akan dipilih satu laki-laki dan satu perempuan yang sudah berusia 17 tahun ke atas.

"Apabila dalam pemilihan secara acak itu keluar nama ibu, si ibu lagi ke ladang atau ke pasar, ya tenaga survei kami harus menunggu dan mewawancarai ibu itu," ujar Kristianto.

Setelah berhasil menemui responden, tenaga survei meminta responden itu untuk menjawab 150 poin pertanyaan terkait pemilu. Jenis pertanyaan bervariasi, mulai dari pernyataan tertutup, terbuka, semitertutup dan semiterbuka. Proses wawancara biasanya memakan waktu 30-40 menit.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved