Meski Bermanfaat, Earth Hour Pernah Dikirik Gara-gara Diduga jadi Penyebab Warga Tewas di Lakalantas
Ada sejumlah pertanyaan yang kerap dilayangkan masyarakat ketika hadir di aksi Earth Hour. Salah satunya, seberapa besar manfaatnya?
Penulis: Doan Pardede | Editor: Januar Alamijaya
TRIBUNKALTIM.CO - Aksi Earth Hour 2019 akan kembali digelar di seluruh dunia pada hari ini, Sabtu (30/3/2019).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, aksi Earth Hour 2019 yang digalakkan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) ini akan diisi dengan pemadaman lampu selama 60 menit (1 jam) sejak pukul 20.30 hingga 21.30 WIB.
Berdasarkan catatan Tribunkaltim.co, aksi Earth Hour yang sudah mulai diperkenalkan ke masyarakat luas sejak tahun 2007 ini sudah cukup akrab di telinga masyarakat, khususnya kalangan milenial.
Aksi Earth Hour ini, selalu ramai dihadiri masyarakat.
Namun, ada sejumlah pertanyaan yang kerap dilayangkan masyarakat ketika hadir di aksi Earth Hour.
Salah satunya, seberapa besar manfaatnya?
Baca juga :
Kampanye Earth Hour, Tamu Aston Samarinda akan Dihibur Tarian dan Akustik, juga Diskon Minuman
Earth Hour, Grand Tjokro Gelar Talkshow Lingkungan
Dilansir oleh Tribun Jakarta, pada Earth Hour 2019, WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour di 30 kota mengajak Presiden RI, pemimpin kota, pemerintah lokal, pimpinan perusahaan dan masyarakat khususnya generasi muda untuk menjadi bagian dalam membangun masa depan dan planet yang sehat dan berkelanjutan untuk semua.
CEO WWF Indonesia, Rizal Malik mengatakan, pelestarian lingkungan merupakan prioritas utama dalam agenda nasional dan lokal.
"Earth Hour adalah momen untuk mengembalikan hubungan yang lebih baik antara manusia dengan alam, serta menempatkan pelestarian lingkungan sebagai prioritas utama dalam agenda nasional dan lokal," ujar Rizal saat Presscon Earth Hour 2019 di stasiun MRT Dukuh Atas, Rabu (27/3/2019)
Bisa mengurangi emisi gas rumah kaca
WWF juga berharap ada peningkatan kesadaran dari para anak muda untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih hijau dan berkelanjutan di tahun 2020.
Caranya adalah, kata Rizal, hanya dengan menggunakan transportasi umum demi mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
Langkah ini juga sebagai upaya untuk membantu pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.
"Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 29% pada 2030. Dan 11 persennya adalah dari transportasi publik, untuk itu publik juga harus ikut serta dengan cara menggunakan transportasi publik," kata Rizal.
Berikut sejumlah fakta yang sudah dirangkum Tribunkaltim.co seputar Earth Hours, termasuk aksi Earth Hours 2019 dari berbagai sumber :
Istilah Earth Hour mulai diperkenalkan tahun 2007
DIlansir oleh wikipedia, Earth Hour (Jam Bumi) adalah sebuah kegiatan global yang diselenggarakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada setiap hari Sabtu di akhir bulan Maret.
Kegiatan ini berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam.
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran perlunya tindakan khusus guna menghadapi perubahan iklim di bumi.
Logo yang digunakan dalam Earth Hour adalah tanda 60+ dengan motif gambar planet bumi.
Awalnya Earth Hour hanya menggunakan angka 60 saja yang melambangkan 60 menit sebagai waktu yang digunakan untuk berpartisipasi dalam Earth Hour.
Pengurangan konsumsi energi yang cukup besar
Meski hanya dipadamkan 1 jam, pengurangan konsumsi energi selama aksi arth hours ternyata cukup besar.
Menurut WWF Thailand, Bangkok mengurangi pemakaian listrik hingga 73,34 megawatt yang dalam satu jam setara dengan 41,6 ton karbon dioksida.
Bangkok Post menyampaikan angka 165 megawatt-jam dan 102 ton karbon dioksida.
Jumlah ini lebih sedikit daripada kampanye serupa yang dicanangkan Balai Kota Bangkok pada Mei tahun sebelumnya. Saat itu, 530 megawatt-jam dihemat dan 143 ton emisi karbon dioksida dipangkas.
Philippine Electricity Market Corp. mencatat adanya pengurangan konsumsi listrik sebesar 78,63 megawatt di Metro Manila dan 102,2 megawatt di Luzon.
Penurunan permintaan maksimum sebesar 39 MW terjadi pukul 20.14 di Metro Manila dan 116 MW pukul 20.34 di Luzon.
Ontario menghemat 900 megawatt-jam saat Earth Hour. Pada satu waktu, Toronto, Ontario, mengalami penurunan konsumsi energi sebesar 8,7% ketimbang Sabtu-Sabtu lain pada bulan Maret.
Irlandia mengalami penurunan pemakaian listrik sebesar 1,5% pada malam itu. Pada periode tiga jam antara 18.30 dan 21.30, terjadi penurunan konsumsi sebesar 50 megawatt, sehingga menghemat 150 megawatt-jam yang setara dengan 60 ton karbon dioksida.
Jembatan Golden Gate dan Marin Headlands di belakang, sebelum (inset) dan selama Earth Hour 2008
Di Dubai, setelah lampu eksternal di sejumlah gedung ternama dipadamkan dan lampu jalanan di beberapa daerah diredupkan hingga 50%, Electricity and Water Authority melaporkan terjadi penghematan listrik sebesar 100 megawatt-jam.
Dikutip dari laman WWF Indonesia, setiap 10% dari warga Jakarta yang turut mematikan lampu saat Earth Hour, energi yang dihemat dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di 900 desa dan menyediakan Oksigen untuk 534 orang.
Selain itu, mematikan lampu selama satu jam juga dapat mengurangi 267 ton emisi karbon dioksida (CO2).
Aksi Earth Hours 2019 diikuti 13 bandara di Indonesia
Dilansir oleh Tribunnews.com, aksi Earth Hours 2019 ini juga akan diikuti oleh sejumlah bandara di Indonesia.
PT Angkasa Pura I (Persero) juga mengikuti acara Earth Hour 2019, dengan mematikan lampu-lampu dan penggunaan listrik bandara yang tidak akan mengganggu aktivitas operasional dan pelayanan di bandara-bandara Angkasa Pura I.
"Seluruh penumpang pesawat udara, masyarakat, komunitas, dan stakeholders diharapkan ikut menyukseskan kegiatan Earth Hour itu dengan memadamkan lampu atau peralatan elektronik yang tidak digunakan pada tanggal 30 Maret 2019 selama satu jam mulai pukul 20.30 waktu setempat," ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero), Faik Fahmi, dikutip dari Kompas.com.
"Misal lampu pada tulisan 'bandara', jadi yang tidak akan mengganggu operasional bandara. Kalau di toilet seperti itu ya tidak (dimatikan)," lanjut Faik Fahmi.
Adapun bandara-bandara tersebut antara lain:
1. Bandara I Gusti Ngurah Rai - Denpasar
2. Bandara Juanda - Surabaya
3. Bandara Sultan Hasanuddin - Makassar
4. Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan - Balikpapan
5. Bandara Frans Kaisiepo - Biak
6. Bandara Sam Ratulangi - Manado
7. Bandara Syamsudin Noor - Banjarmasin
8. Bandara Ahmad Yani - Semarang
9. Bandara Adisutjipto - Yogyakarta
10. Bandara Adi Soemarmo - Surakarta
11. Bandara Internasional Lombok - Lombok Tengah
12. Bandara Pattimura - Ambon
13. Bandara El Tari - Kupang
Kritik Earth Hour
Selain memberikan manfaat, pelaksanaan Earth Hour juga ternyata beberapa kali menuai kritik. Berikut sejumlah kritik yang sudah dirangkum dari wikipedia.
- Christian Science Monitor mengatakan bahwa banyak lilin terbuat dari parafin, sebuah hidrokarbon berat yang diolah dari minyak bumi, suatu bahan bakar fosil, dan bergantung pada banyaknya lilin yang dinyalakan satu orang (bila menggunakan lilin ketika Earth our), benar atau tidak mereka biasanya menggunakan lampu fluorescent compact, dan sumber energi apa yang digunakan untuk memberikan listrik bagi mereka, dalam beberapa hal, menggantikan bola lampu dengan lilin akan menyebabkan peningkatan, daripada penurunan emisi karbon dioksida.
- Sebuah perayaan alternatif "Human Achievement Hour" dipromosikan oleh think tank liberal Competitive Enterprise Institute untuk merayakan kemajuan atas kemakmuran manusia. Partisipan perayaan ini diminta untuk "merayakan pencapaian kemanusiaan seperti makan malam, menyaksikan film, berkendara, menyalakan penghangat di rumah".
- Ayn Rand Institute menulis, "Orang-orang menghabiskan enam puluh menit dalam kegelapan, aman dalam arti bahwa keuntungan dari lingkungan industri hanya beda satu saklar saja... Lupakan satu jam dengan padamkan lampu. Bagaimana dengan Earth Month... Coba habiskan satu bulan dalam kegelapan tanpa penghangat, listrik, kulkas; tanpa pembangkit listrik atau generator; tanpa produk pembantu, hemat waktu, dan penyelamat yang menjadi mungkin bila ada energi listrik."
- Meskipun mendukung Earth Hour, "Carbon Sense Coalition" menginginkan agar Earth Hour berganti nama menjadi "Blackout Night," dan diadakan pada hari terpendek dan terdingin pada satu tahun"... untuk mempersiapkan penduduk dunia untuk hari-hari gelap mendatang".
- Bjorn Lomborg, pengarang The Skeptical Environmentalist, menulis, "Sudah seharusnya menjadikan tenaga surya dan teknologi baru lainnya lebih murah dari bahan bakar fosil secara cepat sehingga kita dapat mengurangi sumber energi karbon lebih banyak daripada satu jam dan membuat planet ini terus beraktivitas... Bahan bakar fosil memberikan kita pencerahan, dengan menerangi dunia kita dan memberikan kita perlindungan dari berbagai masalah. Sangat ironis bahwa simbolisme murni hari ini harus dikembalikan ke era kegelapan."
- Pada 29 Maret, satu hari setelah Earth Hour 2009, harian Dân Trí menerbitkan artikel mengenai dampak lain dari Earth Hour. Dikhawatirkan bahwa banyak pemuda memilih untuk berkendara keliling kota yang dipadamkan untuk bersenang-senang, menghabiskan bahan bakar dibandingkan listrik dan mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang panjang.
- Selama Earth Hour 2010 di kota Uusikaupunki, Finlandia, seorang pengendara motor wanita berusia 17 tahun menabrak seorang pria berusia 71 tahun yang sedang berjalan di jalanan ketimbang di trotoar atas alasan yang tidak diketahui. Pria tersebut meninggal sementara pengendara sepeda motor dan penumpangnya tidak apa-apa. Pada waktu itu, lampu jalanan dipadamkan sebagai bagian dari Earth Hour. Polisi menyatakan bahwa ketiadaan penerangan jalan turut ambil bagian dalam kecelakaan ini, sementara wali kota mengatakan penerangan jalan terlalu remang untuk mencegah kecelakaan tersebut.
- Jeremy Clarkson, pembawa acara program Top Gear di BBC, mengaku bahwa ia menyalakan semua peralatan listrik di rumahnya sebagai protes terhadap dampak semu Earth Hour dengan mengklaim bahwa kegiatan ini tidak memberi dampak apapun terhadap perubahan iklim.
(Tribunkaltim.co/Doan Pardede)
Follow Instagram Tribunkaltim.co di bawah ini:
Subscribe Youtube Channel Tribunkaltim.co di bawah ini:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/aksi-earth-hour-akan-kembali-digelar-pada-sabtu-3032019.jpg)