Krisis Venezuela
Mengapa AS Ingin Rusia Keluar dari Venezuela ? Padahal AS Punya Markas di Seluruh Dunia
Si Rusia melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menanggapi permintaan Amerika Serikat agar mereka meninggalkan Venezuela yang lagi krisis ekonomi.
Di taman Caracas, seorang pengacara dari kawasan La Castellana datang dan hendak membeli satu mobil tanker untuk apartemennya.
Nella Kharisma Nyanyi Sejak Usia 3 Tahun di Pagelaran Wayang, Ini Playlist Terbaiknya
Dianggap Arogan, Massa Tuntut Ketua Grab Balikpapan Mundur dari Jabatannya
"200 dollar AS (sekitar Rp 2,8 juta) untuk Castellana," ujar sopir truk dengan cepat sembari menunjuk kapasitas 8.000 liter yang dibawanya.
Meski gaji rata-rata di Venezuela adalah 5 dollar AS (sekitar Rp 71.000) per hari, pengacara itu tidak mengeluh atau mencoba menawar.
"Ini adalah harga yang harus kami bayar jika ingin tetap tinggal di Venezuela," kata si pengacara yang menolak memberi identitasnya itu.
Nasib pengacara itu masih lebih baik daripada Carmen Veliz yang tinggal di March 24 yang mengaku air tidak mereka dapat selama "berbulan-bulan".
"Apa yang pemerintah lakukan? Tidak ada. Mereka tidak akan menolong kami. Tidak ada seorang pun yang akan melakukannya," katanya.
Rusia: Mengapa AS Ingin Kami Keluar dari Venezuela, Padahal Mereka Punya Markas di Seluruh Dunia?
Rusia melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menanggapi permintaan Amerika Serikat ( AS) agar mereka meninggalkan Venezuela.
Baik Presiden Donald Trump maupun Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengatakan agar Kremlin memutuskan hubungan militer dengan Venezuela.
Pernyataan itu muncul setelah Rusia mengerahkan 100 orang pasukan dan 35 ton peralatan militer dengan dua pesawat di Caracas pada Maret lalu.
Diwartakan Newsweek Rabu (3/4/2019), dalam wawancara dengan harian lokal Moskovskij Komsomolets, Lavrov menyebut komentar itu "arogan".
"Mengapa mereka mengatakan negara di luar kawasan Barat dilarang berkepentingan di sana? Jadi, apa yang AS lakukan?" tanya Lavrov.
Dia kemudian meminta agar dibuka peta yang memperlihatkan markas AS.
"Seluruh dunia penuh dengan titik merah dan menampilkan risiko," terang Lavrov.
Newsweek memberitakan berdasarkan peta 2015, Washington mempunyai sekitar 800 markas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/krisis-ekonomi-di-venezuela.jpg)