Pemilu 2019
Kisah Tim Sukses Caleg Gagal, Tak Tahan Terus Ditagih Perolehan Suara Membuatnya Depresi
Mursyid mengalami depresi lantaran tak kuat terus ditagih sang caleg karena tak mampu memberikan suara yang sudah ditargetkan.
Kisah Tim Sukses Caleg Gagal, Tak Tahan Terus Ditagih Perolehan Suara Membuatnya Depresi
TRIBUNKALTIM.CO - Gegara gagal mengumpulkan target suara untuk sang caleg, Mursyid kini mengalami depresi.
Muryid adalah tim sukses bagi seorang calon legislatif DPRD Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Orang yang didukungnya tak lain adalah adik kandungnya sendiri. Caleg tersebut diketahui bernama Khaeruddin.
Mursyid mengalami depresi lantaran tak kuat terus ditagih sang caleg karena tak mampu memberikan suara yang sudah ditargetkan.
Khaerudin mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kabupaten Cirebon dengan nomor urut enam dari Partai Amanat Nasional (PAN).
Dia mewakili daerah pemilihan tujuh yang meliputi enam kecamatan antara lain: Kecamatan Astanajapura, Beber, Greged, Mundu, Sedong dan Susukan Lebak.
“Saya tim sukses ring satu untuk Caleg PAN Nomor 6 Dapil 7, namanya Khaerudin. Dia adik kandung saya,” kata Mursyid kepada sejumlah media.
Dia hanya mendapatkan 567 suara dari jumlah suara yang ditargetkan sebanyak 3000 suara.
Anak kedua dari pasangan Basyir (alm) dan Aminah ini menceritakan, tekanan itu diduga terjadi setelah Kherudin memberikan sejumlah nominal uang dan 3.000 butir telur dalam dua buah mobil boks kepada Mursyid.
“Sekarang kalau orang silaturahim enggak ngasih-ngasih kan enggak enak. Udah ngeganggu waktunya, enggak enak kalo enggak ngasih. Saya bilang, ini sih titipan telur dari adik saya, sodakoh aja, doa dan dukungan pilih adik saya ya,” kata Mursyid mengingat kata-kata saat dia mengampanyekan adiknya.
Mursyid meyakinkan bahwa dirinya sudah kerja keras siang dan malam menyosialisasikan adiknya dari rumah ke rumah.

Dia memberikan satu bungkus paket berisi empat butir telur untuk satu orang pemilih.
Namun, saat proses penghitungan suara, Khaerudin mulai menanyakan perolehan hasil suaranya.
Mursyid berulangkali ditelepon dan ditagih suara yang pernah ditargetkan. Kenyataannya jauh, suara di Desa Penpen untuk Khaerudin hanya 567 dari 3.000 suara yang ditargetkan.
Akhirnya, Mursyid merasa kecewa pada diri sendiri karena tidak dapat memenuhi target. Dia juga kesal dengan warga yang sudah dia beri sesuatu namun hasilnya tidak sesuai harapan.