Senin, 20 April 2026

Pilpres 2019

Tanggapi soal ''Provinsi Garis Keras'', Mantan Panglima GAM Tuntut Permintaan Maaf Mahfud MD

Pernyataan Mahfud MD yang menyebut daerah yang dimenangkan capres/cawapres Prabowo-Sandi dulunya dianggap 'provinsi garis keras' menuai polemik.

Tribunnews
Mahfud MD 

TRIBUNKALTIM.CO - Pernyataan Mahfud MD yang menyebut daerah yang dimenangkan capres/cawapres Prabowo-Sandi dulunya dianggap 'provinsi garis keras' menuai polemik.

Tanggapan sejumlah pihak terkait pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut ramai di sejumlah sosial media sejak Senin (29/4/2019) hari ini, baik nasional maupun lokal.

Pernyataan itu juga ditanggapi oleh Muzakir Manaf alias Mualem, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Secara khusus, kepada Serambinews.com, Senin (29/4/2019) dalam keterangan tertulisnya, Mualem mengatakan, pernyataan Mahfud MD itu berpotensi menebar kebencian dan pecah belah antardaerah dan rakyat Indonesia.

"Rakyat Aceh telah berkomitmen merawat NKRI melalui berbagai proses panjang di mana nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin tetap dijaga melalui syariat Islam," kata Mualem.

Mualem mengatakan, pernyataan Mahfud MD seperti itu sangat menyakitkan rakyat Aceh, karena Aceh seolah-olah dilabelkan sebagai kelompok Islam garis keras.

"Kami rakyat Aceh memang garis keras dalam menentang penjajah indonesia, penista agama, dan orang-orang culas dalam merusak demokrasi, apalagi terhadap komunisme," kata Mualem.

Mualem menjelaskan, masyarakat Aceh memang akan benar-benar keras bila berhadapan dengan penista agama Islam, bila berhadapan dengan penjajah bangsa.

"Jelas kami bersikap keras terhadap penjual negara, kami bersikap keras terhadap mereka-mereka yang tidak berpihak terhadap rakyat, kami akan bersikap keras terhadap kecurangan-kecurangan oleh negara, dan kami akan selalu bersikap keras terhadap ketidakadilan," tegas Mualem.

Ketua Umum Partai Aceh ini juga mengatakan, mayoritas rakyat Aceh yang mencintai damai, mendukung penuh terhadap pilihan capres nomor urut 02, Prabowo-Sandi yang merupakan pilihan tepat dan meyakini pasangan Prabowo-Sandi mampu membawa Indonesia melindungi akidah, agama, dan menjadi rahmatan lil 'alamin.

"Karena Prabowo-Sandi adalah hasil ijtima' ulama ditambah lagi dukungan penuh dari eks kombatan GAM," kata Mualem.

"Jadi, kami meminta saudara Mahfud MD untuk segera meminta maaf secara tertulis di media cetak nasional selama seminggu berturut-turut kepada rakyat Aceh, terkait statement yang memecah belah tersebut," pungkas Mualem.

Sebelumnya diberitakan, Mahfud MD menyebut Aceh adalah salah satu daerah yang memenangkan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Menurutnya, kemenangan Prabowo-Sandi di Aceh karena Aceh tergolong provinsi 'garis keras'.

Pernyataan tersebut disampaikan Mahfud MD dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi. Video berdurasi sekitar satu menit tersebut beredar di media sosial.

Ini penggalan pernyataan Mahfud MD:

"Tapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap provinsi garis keras dalam hal agama misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga". (Serambinews/Subur Dani)

Artikel ini telah tayang di Tribunwow.com dengan judul Mantan Panglima GAM Tanggapi Pernyataan Mahfud MD dan Tuntut Permintaan Maaf di Media Cetak Nasional

 Istilah Provinsi "Garis Keras"mendadak menjadi sangat populer.

Istilah ini menjadi populer setelah disebut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dalam wawancaranya di sebuah TV swasta. 

Mahfud MD meyebut daerah keras yang dimenangkan pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 02 Prabowo-Sandiaga dulunya dianggap provinsi garis keras. Pernyataannya langsung menuai kritik keras.

Potongan wawancara yang berdurasi 1 menit 20 detik lalu beredar di media sosial dan hingga kini masih dibahas Netizen.

Mahfud MD menuai kritik gara-gara menyebut Prabowo Subianto di Provinsi 'Garis Keras' saat wawancara dengan sebuah stasiun TV swasta. 

Meski sudah diklarifikasi, pernyataannya itu tetap saja diprbincangkan, dan menuai protes terutama oleh mereka yang merasa tersinggung.

Saat menuliskan cuitan kegiatan akhir pekannya di Yogyakarta, Minggu (28/4/2019), Mahfud pun menerima sejumlah protes keberatan warganet.

"Di daerah Pakem, dekat Kaliurang, Yogya ada kedai Kopi Klothok.

Yg tersedia di sana bkn hanya kopi tapi jg masakan2 tradisional yg enak.

Pagi2 tadi sarapan bersama dua dosen muda FH-UGM Prof. Eddy OS Hiariej dan Dr. Zainal Arifin "Uceng" Mochtar di Kopi Klothok," tulisnya pada cuitan awal.

Mengutip aantauan TribunSolo.com, sejumlah warganet bukannya menanggapi soal kegiatan Mahfud.

Melainkan mempertanyakan maksud ucapan Mahfud soal 'garis keras'.

Satu di antaranya adalah sahabatnya sendiri, Muhammad Said Didu, yang mengaku berasal dari Sulawesi Selatan.

Mahfud MD Ungkap Kemungkinan Pembajak Akun Twitter Said Didu, Sebut Pihak yang Ingin Mengadu Domba
Mahfud MD Ungkap Kemungkinan Pembajak Akun Twitter Said Didu, Sebut Pihak yang Ingin Mengadu Domba (Instagram/@mohmahfudmd)

 
"Mohon maaf prof @mohmahfudmd, saya berasal dari Sulsel, mhn jelaskan indikator yg prof gunakan sehingga menuduh orang Sulsel adalah orang2 garis keras agar jadi bahan pertimbangan kami.

Kami orang Sulsel memang punya prinsip SIRI utk menjaga kehormatan.

Inikah yg dianggap keras ?" tulisnya kepada Mahfud.

Cuitan tersebut kemudian langsung ditanggapi oleh Mahfud.

Ia pun menjelaskan maksud ucapannya yang menyebut sejumlah daerah di Indonesia sebagai provinsi 'garis keras'.

"Garis keras itu sama dgn fanatik dan sama dgn kesetiaan yg tinggi.

Itu bkn hal yg dilarang, itu term politik.

Sama halnya dgn garis moderat, itu bkn hal yg haram.

Dua2nya boleh dan kita bs memilih yg mana pun.

Sama dgn bilang Jokowi menang di daerah PDIP, Prabowo di daerah hijau," terang Mahfud.



Ia kemudian memperlebar maksud garis keras dengan mencontohkan adat dan prinsip dari daerah asalnya, Madura.

Menurut Mahfud, Madura sama halnya dengan daerah-daerah lainnya yang dianggap kental dengan ajaran Islam.

"Dlm term itu sy jg berasal dari daerah garis keras yi Madura.

Madura itu sama dgn Aceh dan Bugis, disebut fanatik krn tingginya kesetiaan kpd Islam shg sulit ditaklukkan.

Spt halnya konservatif, progresif, garis moderat, garis keras adl istilah2 yg biasa dipakai dlm ilmu politik," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara di MetroTV, Mahfud menyebut paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menang di provinsi-provinsi 'garis keras'.

Beberapa wilayah yang dimaksud Mahfud adalah Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan Sulawesi Selatan.

"Dilihat dari sebarannya, Pak Jokowi kalah di daerah-daerah panas, dan diidentifikaksi kemenangan-kemenangan Pak Prabowo adalah yang dulunya dianggap sebagai provinsi garis keras dalam hal agama, misalnya Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh, Sulawesi Selatan," kata Mahfud.

Simak video wawancaranya di bawah ini:

 
Sebelumnya, Mahfud MD menegaskan soal pemenang sebenarnya dalam Pilpres 2019 adalah yang memiliki suara terbanyak dari hasil hitung manual dari form C1.

Kemenangan tersebut, menurut Mahfud, berdasarkan verifikasi dan hasil hitung manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) lewat form C1 yang sudah terkumpul.

Seluruh form C1 tersebut kemudian akan dihitung bersama-sama pada 22 Mei 2019 mendatang.

Waktu tersebut merupakan batas akhir penghitungan seluruh suara yang masuk.

Pernyataan Mahfud ini muncul setelah seorang warganet di Twitter membandingkan data hasil real count KPU lewat situng dan hasil verifikasi C1.

"Nah skr begini Prof,

misal saja hasil real count KPU yg pake Situng memenangkan salah satu calon.

Tapi ternyata pas 22 Mei setelah verifikasi C1 yg tercopy 6x itu,

mayoritas memenangkan calon yg lain, bisa gak tuh Prof?" tulis pengguna akun @wisanggenisena, Senin (22/4/2019).

Mahfud pun menanggapi bahwa kemenangan mutlak berdasarkan form C1.

"Yang dimenangkan adalah verifikasi atau hasil hitung manual dgn form C1 yg berbentuk kertas dan dihitung bersama tgl 22 Mei itu," tulis Mahfud.

[Noorchasanah Anastasia Wulandari]

Heboh Tuai Kritik, Inilah Maksud Mahfud MD Soal 4 Provinsi Garis Keras yang Menangkan Prabowo

Said Didu: Kecurangan Pemilu 2019 Sistemik dan Masif, Mahfud MD Melihat Ada Pembelokan Istilah!

Sebut Obrolan Mahfud MD tak Berkualitas, Fadli Zon Disindir Yunarto Wijaya Soal Prabowo-Sandi Menang

TERPOPULER PAGI INI: Mahfud MD Ungkap Soal Sosok Pengadu Domba, Ternyata Satu Komplotan

 

Likes dan Follow Fanspage Facebook

Follow Twitter

Follow Instagram

Follow Instagram

 

Subscribe official YouTube Channel

Sumber: TribunWow.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved