Kamis, 9 April 2026

Hari Lahir Pancasila

1 Juni Hari Lahir Pancasila, Kontemplasi Soekarno dari Timur Indonesia dan Dua Pemuka Agama

Jauh daripada itu, ide tentang Pancasila muncul saat benak seorang Soekarno berkecamuk di pengasingan.

Penulis: Cornel Dimas Satrio | Editor: Syaiful Syafar
Dok Kompas
Hari Lahir Pancasila - Kontemplasi Soekarno dari Timur Indonesia dan Dua Pemuka Agama. 

TRIBUNKALTIM.CO - Hari Lahir Pancasila diperingati bangsa Indonesia pada Sabtu (1/6/2019).

Pancasila merupakan tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam menjalani falsafah kehidupan.

Pancasila tak serta merta lahir saat negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya.

Hari Lahir Pancasila 1 Juni
Hari Lahir Pancasila 1 Juni (Tribunkaltim.co/Fiy)

Jauh daripada itu, ide tentang Pancasila muncul saat benak seorang Soekarno berkecamuk di pengasingan.

Pancasila lahir berkat kontemplasi panjang Soekarno dari Timur Indonesia.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara, tercantum jelas histori pemikiran akan nilai-nilai kehidupan yang kelak menjadi ideologi dan falsafah hidup bangsa ini..

Pancasila berasal kata Panca dan Sila dalam bahasa Sansekerta.
Panca berarti Lima, dan Sila berarti Dasar.

Maka Lima Dasar buah pemikiran Soekarno dari Timur Indonesia itu yang menjadi dasar negara hingga saat ini.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara, tercantum jelas bagaimana Soekarno terilhami deburan ombak di pantai Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di Ende, Soekarno menjalani masa pengasingan nan sepi.

Rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)

Namun situasi tersebut justru tak menyurutkan gejolak hatinya memikirkan masa depan bangsa ini.

Selama pengasingan Soekarno menghabiskan hari-harinya dengan menggeluti berbagai macam seni.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara disebutkan juga Soekarno kerap mengisi hari-harinya dengan bertukar pandangan bersama dua pemuka agama.

Soekarno memyempatkan berkirim surat dengan tokoh Islam di Bandung bernama T A Hassan.

Sementara di sisi lain, Soekarno juga kerap bercengkerama dengan misionaris Katolik, Pastor Pater Huijtink.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved