Tentara Mampu Jadi Guru Bagi Murid SD di Perbatasan RI-Malaysia, Sudah Dibekali Kemendikbud

prajurit telah mendapatkan pembekalan dan penataran langsung dari Kemendikbud RI, sebelum berangkat ke wilayah perbatasan

Tentara Mampu Jadi Guru Bagi Murid SD di Perbatasan RI-Malaysia, Sudah Dibekali Kemendikbud
HO/Penerangan Korem 091/ASN
SEKOLAH PERBATASAN - Prajurit Satgas Pamtas RI-Malaysia, Yonif Raider 600/Modang ikut serta mengajar di SD Negeri 001 Tabur Lestari, desa Simanggaris Lama, Nunukan, Kaltara, Sabtu (20/7/2019). 

TRIBUNKALTIM.COSAMARINDA - Tahun ajaran baru 2019 telah dimulai, anak-anak perbatasan Indonesia-Malaysia, di kawasan Seimanggaris Lama, Kabupaten Nunukan, Kalimanatan Utara (Kaltara) juga tidak mau kalah dengan anak-anak di perkotaan untuk menuntut ilmu.

Ada yang berbeda pada awal masuk sekolah tahun ini, di SD Negeri 001 Tabur Lestari, desa Seimanggaris Lama. Pasalnya saat itu hadir prajurit TNI Satgas Pamtas Yonif Raider 600/Modang (MDG) di tengah-tengah murid-murid tersebut.

Kehadiran prajurit TNI itu selain membantu proses belajar mengajar, juga membantu guru dalam membangun mental karakter kebangsaan terhadap murid.

“Personel Satgas Pamtas ini bekerja sama dengan pihak sekolah untuk dapat ikut serta membangun mental dan karakter, serta ilmu pengetahuan anak-anak di perbatasan Indonesia," ucap Komandan Satgas Pamtas Yonif Raider 600/MDG, Mayor Inf Ronald Wahyudi melalui siaran pers Penerangan Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN), Sabtu (20/7/2019).

SEKOLAH PERBATASAN - Prajurit Satgas Pamtas RI-Malaysia, Yonif Raider 600/Modang ikut serta mengajar di SD Negeri 001 Tabur Lestari, desa Simanggaris Lama, Nunukan, Kaltara, Sabtu (20/7/2019).
SEKOLAH PERBATASAN - Prajurit Satgas Pamtas RI-Malaysia, Yonif Raider 600/Modang ikut serta mengajar di SD Negeri 001 Tabur Lestari, desa Simanggaris Lama, Nunukan, Kaltara, Sabtu (20/7/2019). (HO/Penerangan Korem 091/ASN)

Tidak tanggung-tanggung, tujuan prajurit TNI Satgas ini adalah ingin menumbuhkan rasa cinta dan kesadaran untuk mengikuti program Pemerintah, yakni wajib belajar 9 tahun, dengan harapan memiliki masa depan yang cerah.

"Materi yang diberikan di antaranya membaca, menulis, menghitung dan pemahaman Pancasila," imbuh Mayor Inf Ronald Wahyudi.

Terkait dengan kemampuan prajurit dalam proses belajar mengajar di kelas, Dansatgas menegaskan prajuritnya mampu melakukan hal itu, karena prajurit telah mendapatkan pembekalan dan penataran langsung dari Kemendikbud RI, sebelum berangkat ke wilayah perbatasan.

“Seluruh prajurit sudah menguasai kemampuan dasar sebagai tenaga pendidik apabila diperlukan di tempat mereka bertugas," tegasnya. (*)

Subscribe YouTube newsvideo tribunkaltim:



Halaman
12
Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved