Rabu, 15 April 2026

TOLERANSI, Enam Rumah Ibadah Dibangun Berdampingan di Perumahan Elit, Developer Sediakan Lahan

Di perumahan elite ini, enam rumah ibadah berdampingan, yakni Masjid, Gereja, kelenteng, Vihara dan Pura. Tepatnya di Surabaya

Editor: Rafan Arif Dwinanto
(KOMPAS.com/GHINAN SALMAN)
Enam rumah ibadah seperti Masjid, Gereja Katolik, Gereja Kristen Protestan, Pura, Vihara, dan Kelenteng, berjajar jadi satu di perumahan Royal Residence, Wiyung, Surabaya. 

TRIBUNKALTIM.CO - TOLERANSI, Enam Rumah Ibadah Dibangun Berdampingan di Perumahan Elit, Developer yang Sediakan Lahan. 

Di perumahan elite ini, enam rumah ibadah berdampingan, yakni Masjid, Gereja, kelenteng, Vihara dan Pura.

Perumahan elite di Wiyung, Surabaya, Jawa Timur, memiliki enam rumah ibadah berdampingan.

Keenam rumah ibadah tersebut yaitu masjid, gereja umat Katolik dan Kristen Protestan, kelenteng, vihara, dan pura.

Rumah ibadah itu berdiri di atas tanah perumahan Royal Residence, Wiyung, Surabaya Barat.

Ketua Forum Komunikasi Rumah Ibadah (FKRI) Royal Residence Indra Prasetya menceritakan, perumahan itu mulai ditempati pada 2009 lalu.

Indra sendiri mulai membeli rumah dan tinggal di perumahan tersebut sejak tahun 2010.

Selama ini, warga di sana selalu melaksanakan ibadah di luar perumahan.

Sebab, desain kompleks perumahan memang tidak disediakan tempat ibadah.

Hingga pada akhir 2014, ia mengajukan kepada pihak developer agar di kompleks perumahan tersebut disediakan fasilitas umum berupa rumah ibadah.

Mihrab di Masjid Nabawi, Madinah
Ilustrasi Masjid: Mihrab di Masjid Nabawi, Madinah (islamiclandmarks.com)

Alasannya, warga Muslim yang melaksanakan ibadah lima waktu setiap harinya, harus beribadah di luar perumahan yang jaraknya lumayan jauh dari perumahan.

"Jadi ini berawal dari warga Muslim yang menginginkan masjid di perumahan.

Karena kebutuhan ibadah lima waktu.

Selama ini, warga Muslim selalu beribdaha di luar," kata Indra kepada Kompas.com, belum lama ini.

Pada 2016 lalu, usulan untuk membangun rumah ibadah itu disetujui oleh pihak developer.

Tidak hanya masjid, pihak developer juga menyediakan lahan seluas 400 meter persegi untuk dibangun rumah ibadah bagi pemeluk agama selain Islam.

Gereja Katedral Samarinda yang bakal diresmikan Dubes Vatikan, Selasa (30/4/2019).
Ilustrasi Gereja: Gereja Katedral Samarinda yang bakal diresmikan Dubes Vatikan, Selasa (30/4/2019). (TribunKaltim.Co/Cornel Dimas Satrio)

"Pihak developer bilang gini, 'Ya sudah, kalau begitu sekalian semua.

Lahannya ada di bawah sutet, apa mau di situ?' Kita jawab mau," cerita Indra.

Karena agama yang diakui Indonesia hanya ada enam, perwakilan tokoh dari enam agama, yakni Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, bertemu dan sepakat membangun rumah ibadah berjajar.

Menurut Indra, pihak developer hanya menyediakan lahan.

Sementara biaya pembangunannya dikumpulkan secara swadaya oleh warga dengan mencari sumbangan.

"Yang bertanggung jawab membangun adalah warga.

Tentunya, bukan murni warga tetapi banyak penyumbang.

Jadi, masing-masing pengurus cari dana dan ada yang dapat dari pemerintah kota, provinsi, ada yang dapat dari pemerintah pusat dapat.

Hindu dari pusat dapat, Katolik dari provinisi dapat.

Jadi, semua sepakat untuk dibangun bersama," ucap dia.

Kegiatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang digelar di Vihara Mahabrahma, Pulo Geulis, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Ilustrasi Vihara: Kegiatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang digelar di Vihara Mahabrahma, Pulo Geulis, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu. (TribunnewsBogor.com/Vivi Febrianti)

Ketika para tokoh antar agama itu bertemu, kemudian disepakati untuk membentuk Forum Komunikasi Rumah Ibadah (FKRI).

Forum lintas agama itu dibentuk untuk menghindari adanya gesekan dan tetap menjalin hubungan kerukuran antar umat beragama.

Indra Prasetya dipilih para tokoh lintas agama untuk menjadi ketua FKRI.

Setelah mendapat dana untuk membangun rumah ibadah, pembangunan enam rumah ibadah itu dimulai pada 2017.

Rumah ibadah yang sudah beroperasi baru ada tiga, yakni masjid, gereja Kristen Protestan dan gereja Katolik.

Sementara itu, rumah ibadah agama Hindu, Budha, dan Konghucu, seperti pura, vihara, dan kelenteng masih dalam proses pembangunan.

Hoax pun Masuk Rumah Ibadah

Warga Kota Bontang Diminta Kiritis Terhadap Sumbangan Rumah Ibadah, Begini Penjelasannya

Bawaslu Bontang Tertibkan Alat Peraga Ilegal hingga ke Rumah Ibadah

Mengatur waktu Untuk mengantisipasi perbedaan pendapat antar pemeluk agama, menurut Indra, kegiatan-kegiatan besar tidak boleh dilakukan dengan jadwal yang sama.

Tujuannya agar pemeluk agama lain tidak terganggu.

Sebab, jarak antar rumah ibadah yang berjajar itu, masing-masing hanya berjarak tiga meter.

"Misalkan Katolik dan Protestan sama-sama ada Natalan.

Kita (pemeluk agama lain) harus menyesuaikan.

Nanti disampaikan ke umat lain, agar tidak melakukan kegiatan di hari yang sama.

Itu sudah disepakati," ujar dia.

Nantinya, setelah enam rumah ibadah itu beroperasi semua, warga di perumahan setempat berharap pengelola masing-masing rumah ibadah haruslah dari tokoh agama yang tinggal di perumahan tersebut.

"Kita tidak ingin sampai ada gesekan.

Yang diharapkan pengurus FKRI, pengurus (masing-masing rumah ibadah) warga Royal Residence.

Karena kalau ada benturan bisa diminimalisir.

Karena kita bertemu tiap hari.

Tapi mudah-mudahan rukun," kata dia.

Menurut Indra, untuk menjaga kerukunan antar pemeluk agama, ia bersama pengurus dan warga selalu menjalin komunikasi agar bisa saling menghargai dan menjaga toleransi.

Ia menyampaikan, ada beberapa hal yang sudah menjadi kesepakatan bersama agar tidak menimbulkan gesekan antar umat beragama.

Untuk tempat parkir, misalnya, warga yang hendak beribadah di rumah ibadah tersebut diberi kebebasan untuk memarkir kendaraannya di mana saja.

"Hari Minggu, misalnya, agama Hindu, Kristen, Katolik, Budha, dan Konghucu ibadahnya kan semua bersamaan, sehingga semua sudah sepakat bahwa tidak masalah memarkir kendaraan di depan masjid.

Kegiatan di masjid diupayakan tidak minggu pagi karena sudah banyak teman-teman yang menggunakan lokasi parkir," ujarnya.

Tidak sampai di situ, masjid di sana juga tidak menggunakan pengeras suara untuk adzan.

Di gereja juga disepakati untuk tidak memakai lonceng agar tidak mengganggu.

"Jadi speaker di masjid cuma ada di dalam gedung, termasuk lonceng di gereja ada di dalam gedung.

Semua sudah sepakat supaya bisa rukun.

Karena Tuhan menciptakan manusia untuk saling rukun dan berinteraksi," ujarnya. (*)

Subscribe YouTube newsvideo tribunkaltim:

Baca juga:

Disebut Calon Menteri Jokowi, Putri Mantan Presiden RI Ini Malah Tertawa dan Sebut Terlalu Rendah

Terungkap, Sang Suami Ternyata Sering Lakukan Hal Ini saat Lihat Nunung Konsumi Sabu di Pagi Hari

Setelah Pensiun Tentara, Edy Rahmayadi Ungkap Ada Oknum TNI Sok-sokan Dengannya, Begini Perlakuannya

Tsunami 20 Meter Ancam 584 Desa, BMKG Sebut Ada Generator Gempa Kuat di Pantai Selatan Jawa

Benda Langka yang Ditemukan Susno Duadji di Kebunnya Tak Sembarangan, Bisa Berbunyi Seperti Gong

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita 6 Rumah Ibadah yang Dibangun Berdampingan, Tetap Rukun Meski Berbeda", https://regional.kompas.com/read/2019/07/22/07010081/cerita-6-rumah-ibadah-yang-dibangun-berdampingan-tetap-rukun-meski-berbeda?page=all

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved