Kisah Warga saat Tsunami Datang: 3 Kali Dihantam, Berhasil Lolos dari Maut dengan Cara Tak Terduga
BNPB mencatat 5.744 desa berpotensi terdampak bencana tsunami di Indonesia, dimana 584 di antaranya berada di selatan Jawa.
TRIBUNKALTIM.CO - Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat 5.744 desa berpotensi terdampak bencana tsunami di Indonesia, dimana 584 di antaranya berada di selatan Jawa.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan mengatakan, Potensi bencana tsunami di pesisir selatan Jawa yang ditinggali oleh lebih dari 600.000 jiwa masih terkendala infrastruktur menuju lokasi evakuasi.
Hal ini menjadi salah satu perhatian dalam Ekpedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) 2019 di daerah Selatan Pulau Jawa, oleh BNPB.
Untuk wilayah DIY, yang memiliki infrastruktur yang memadai hanya ada di Pantai Kwaru, Bantul.
"Paling tidak satu tahun sekali desa-desa melakukan simulasi. Mengingat daerah selatan jawa ini selama kurun waktu 25 tahun terakhir ada tiga kejadian tsunami. Pertama pada tahun 1994 di daerah Banyuwangi, lalu 2006 di Pangandaran, dan 2018 ada di Selat Sunda," ujarnya, ditemui di Pantai Sadeng. Rabu (24/7/2019).
Lilik Kurniawan mengatakan, untuk kegiatan Destana tsunami pihaknya akan melakukan kunjungan ke 584 desa di pesisir Jawa.
Untuk kali ini pihaknya mengunjungi Pantai Sadeng, Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul, Rabu.
Selama ekspedisi akan dilakukan penilaian ketangguhan masing-masing desa dalam menghadapi bencana tsunami.
Harapannya dengan kegiatan ini bisa membuat perencananan tiga tahun ke depan. Salah satu yang menjadi sorotan yakni pembuatan jalur evakuasi bagi masyarakat terdampak.
"Kita temukan paling krusial adalah masalah infrastruktur ya. Jadi tempat-tempat yang rawan tsunami itu kita masih temukan jalannya itu masih belum bagus. Mereka sudah menentukan sendiri tempat evakuasinya, tetapi akses menuju ke tempat itu yang masuk di atas bukit itu belum tertata dengan baik. Bahkan kalau dia lewat sungai, jembatan nya masih belum ada, ini kan riskan bagi masyarakat," kata Lilik.
Menurut dia, pembangunan infrastruktur menjadi tanggung jawab pemerintah daerah masing-masing.
Masyarakat bisa belajar sendiri mengenai evakuasi karena mudah dan tidak memerlukan biaya.
Menurut dia, desa-desa yang memiliki potensi terjadinya tsunami agar melakukan simulasi penanganan terjadinya bencana tsunami, sehingga kesiapsiagaan selalu terlatih pada masyarakat.
Salah satu upaya sosialisasi program Ekpedisi Destana 2019 digelar selama 34 Hari.
Perjalanan diawali pada Kamis (11/7/2019) menuju Banyuwangi, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, kemudian ke Jawa Barat seperti Garut dan Pangandaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/puji-nelayan-yang-selamat-dari-tsunami-setelah-diterjang-selombang-sebanyak-3-kali.jpg)