Simak Warisan Mbah Moen Berupa 8 Petuah Bijak Soal Orang Pintar dan Orang Benar, Patut Diteladani
KH Maimun Zubair wafat di Mekkah, namun, sebagai ulama kharismatik, Mbah Moen banyak meninggalkan petuah bijak. Ini diantaranya
TRIBUNKALTIM.CO - Simak Warisan Mbah Moen Berupa 8 Petuah Bijak Soal Orang Pintar dan Orang Benar, Patut Diteladani.
KH Maimun Zubair wafat di Mekkah, namun, sebagai ulama kharismatik, Mbah Moen banyak meninggalkan petuah bijak. Ini diantaranya.
Pada usia 21 tahun, Maimun Zubair meninggalkan kampung halamannya di Rembang, Jawa Tengah, menuju ke Mekkah, Arab Saudi.
Dikutip dari nu.or.id, di Tanah Suci, Mbah Moen belajar mengaji.
Ia berada di bawah bimbingan Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan beberapa ulama lainnya.
Mbah Moen adalah putra ulama Kiai Zubair.
Ayahnya merupakan seorang alim dan faqih, murid dari Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.
Dilansir dari Tribun Style, selain di Tanah Suci, Mbah Maimun juga belajar mengaji di sejumlah pesantren di Tanah Jawa, di antaranya Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim.
• Kenang Pesan Penting Mbah Moen Saat Melawat di Balikpapan, Warga NU Diimbau Lakukan Sholat Ghoib
• Tak Dibawa ke Tanah Air, Jenazah Mbah Moen Dimakamkan di Mekkah dan Dishalatkan di Masjidil Haram
• Mbah Moen Wafat, Kiai Rujukan Politisi, Presiden Jokowi dan Prabowo Pun Sowan Minta Doa dan Restu
• Mbah Moen Wafat, Kiai Rujukan Politisi, Presiden Jokowi dan Prabowo Pun Sowan Minta Doa dan Restu
Selain itu, Mbah Maimun juga mengaji ke beberapa ulama di Jawa.
Para ulama itu di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), dan Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban).
Hingga akhirnya Mbah Moen dikenal sebagai seorang alim, faqih sekaligus muharrik (penggerak).
Ia kerap menjadi rujukan ulama Indonesia dalam bidang fiqh karena menguasai secara mendalam ilmu fiqh dan ushul fiqh.
Kitab-kitab yang pernah ditulisnya, seperti berjudul "Al-Ulama Al-Mujaddidun" menjadi rujukan para santri.
Pada 1965, Mbah Moen mulai mengembangkan Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.
Pesantren ini menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/mbah-moen-wafat_4.jpg)