Darurat Kabut Asap

Viral Langit Merah di Muaro Jambi Lantaran Sedang Karhutla, BMKG Sebut Hamburan Mie

Siswanto menyampaikan, pihaknya mengetahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi.

Editor: Budi Susilo
Kolase Tribunkaltim.co
Langit di Jambi berwarna merah lantaran ada kabut asap dari karhulta, begini penjelasan BMKG. 

Dari informasi tersebut, Siswanto menyampaikan, pihaknya mengetahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi terjadi di sekitar wilayah Jambi, Palembang, dan Pekanbaru.

Meski begitu, yang terdampak perubahan langit menjadi meah hanya Muaro Jambi saja.

Siswanto menjelaskan bahwa penyebab langit merah ini merupakan kondisi debu polutan di Muaro Jambi dominan berukuran 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi. "Selain konsentrasi tinggi, tentunya sebara partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah," ujar dia.

Tidak hanya terjadi sekali ini, ternyata Indoneia juga pernah mengalami kejadian serupa. Pada tahun 2015, daerah Palangkaraya, Kalimantan Tengah sempat mengalami beberapa kali perubahan warna langit menjadi warna orange akibat karhutla.

Perubahan warna langit ini juga berarti ukuran debu partikel polutan (aerosol) saat itu dominan berukuran lebih kecil daripada fenomena langit merah di Muaro Jambi.

Ada cerita pilu dari para petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Timur.

Para pemadam terdiri dari petugas Dinas Kehutanan Kalimantan Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur yang notabene sebagai calon lokasi ibu kota baru Repubulik Indonesia. 

Dan ditambah relawan yang tergabung dalam Zero Fire Forest.

Saat berjuang melakukan pemadaman, tak jarang mereka kehabisan stok makanan, tersesat di tengah hutan, hingga kelelahan karena terpapar terlalu banyak asap.

Kepala Seksi Pengendali Kerusakan dan Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Kaltim Shahar Al Haqq mengatakan, tim pemadam kadang berjalan kaki puluhan kilometer untuk menuju titik api.

Shahar yang juga sebagai koordinator tim Zero Fire Forest itu mengatakan, anggota tim pemadam kemudian membangun posko di sekitar titik api.

Kehabisan makanan persedian air, beras dan makanan ringan menjadi bekal setiap kali turun ke lokasi.

Setelah habis bahan makanan, mereka harus kembali ke pos terdekat atau pemukiman warga.

"Kalau kami sudah masuk hutan, jaraknya misalnya 100 kilometer. Tak mungkin energi kita dihabiskan hanya pikul makanan. Terpaksa stok seadanya. Setelah habis, terpaksa kembali," kata Shahar, Sabtu (21/9/2019).

Alat komunikasi menggunakan radio komunikasi (HT) hanya berjarak maksimal 5 kilometer.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved