Darurat Kabut Asap
Viral Langit Merah di Muaro Jambi Lantaran Sedang Karhutla, BMKG Sebut Hamburan Mie
Siswanto menyampaikan, pihaknya mengetahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi.
Jika jarak sudah melebihi batas maksimal, HT tak berfungsi.
Pengiriman stok makanan pun menjadi terkendala.
Otomotis kami balik ke pemukiman yang jaraknya puluhan kilometer.
Kadang waktu habis hanya di jalan kaki masuk keluar hutan, kendaraan enggak bisa masuk, karena enggak ada akses," kata Shahar.
Untuk itu, biasanya disepakati menggunakan petunjuk waktu jika alat komunikasi tak berfungsi.
"Gantian antar regu. Kami janjian dengan regu lain. Sekitar jam sekian kami harus kembali, regu lain masuk. Begitu seterusnya.
Memadamkan api di hutan itu setengah mati, bukan perkara mudah," ujar Shahar.
Tersesat di hutan Tak hanya habis makanan, Shahar menyebut, masalah lain yang juga dialami tim adalah tersesat di dalam hutan.
Shahar mengatakan, ada anggota tim yang hendak keluar hutan usai pemadaman.
Namun tak sampai ke posko. Jalan kaki sudah berjam-jam, tapi tetap kembali ke tempat semula. Awalnya, dua tim sama-sama beranjak dari titik api yang sama menuju posko, karena api sudah padam. Jarak antar tim hanya 100-300 meter.
Namun, suatu saat, ketika dipanggil untuk mendekat, tim yang satu lagi justru menjauh sampai sahutan suara mereka hilang.
Menurut Shahar, hampir 4 jam, tim yang menghilang tidak juga kembali.
"Ternyata mereka berputar-putar tapi tetap kembali ke tempat semula, ini peristiwa aneh, pasti ada penunggu," kata Shahar.
Kejadian itu terjadi di daerah Labanan, Kabupaten Berau. Pingsan akibat asap Kemudian masalah lain, banyak tim kelelahan, bahkan pingsan karena asap.
Beberapa anggota tim harus dievakuasi keluar hutan, karena tak mampu berjalan akibat kelelahan.