Disdik Berau Mulai Sosialisasi Bahaya Ngelem di Sekolah-sekolah,Ini Contoh Dampak Ngelem pada Remaja

Disdik Berau Mulai Sosialisasi Bahaya Ngelem di Sekolah-sekolah,Ini Contoh Dampak Ngelem pada Remaja

Disdik Berau Mulai Sosialisasi Bahaya Ngelem di Sekolah-sekolah,Ini Contoh Dampak Ngelem pada Remaja
Tribunkaltim.co, Geafry Necolsen
Jajaran Polres Berau mengamankan sejumlah remaja yang kedapatan sedang ngelem dan mengonsumsi alkohol oplosan di Kecamatan Tanjung Redeb. Aktivitas ngelem ini, makin marak di kalangan anak dan remaja Berau. 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ) Berau, Abdul Jabbar Kareem sebelumnya mengatakan,

mereka yang terbiasa menghisap aroma lem yang mengadung bahan kimia berbahaya, bisa mengalami

kerusakan organ dalam tubuh.

Gagal pernapasan akut, kerusakan otak, aritmia hingga menyebabkan kematian,

harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat,

khususnya para orangtua. Karena ngelem ini dalam banyak kasus, dilakukan oleh anak dan remaja.

“Kandungan bahan kimia dalam lem, seperti zat toluena dan naftalena, dapat merusak selubung mielin.

Mielin adalah lapisan tipis di sekitar serabut saraf otak dan sistem saraf,” jelasnya.

Ngelem, kata pria yang akrab dipanggil Jaka ini, biasanya dilakukan dengan cara menghirup aroma dengan

tarikan nafas yang dalam, sehingga dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur atau aritmia.

Dalam beberapa kasus, ritme abnormal dapat menyebabkan gagal jantung yang dapat menyebabkan kematian.

Hal ini juga dikenal sebagai sudden sniffing death syndrome (SSDS), yaitu sindrom kematian mendadak setelah menghirup lem.

Belum lagi dampak negatif yang bersifat psikologis. “Kebanyakan seseorang yang menghirup aroma lem

akan mengalami depresi, perilaku mabuk atau linglung, hidung merah atau berair, mata merah berair, bau

napas kimia, mimisan, mual atau kehilangan nafsu makan, mudah cemas dan gelisah,” jelasnya.

Jaka juga mengatakan, kebiasaan ngelem, bisa membawa seseorang menjadi pecandu narkoba. “Karena

lama kelamaan, zat kimia dalam kandungan lem sudah tidak cukup memabukan lagi. Sehingga perlu

menaikan ‘dosis’ dengan beralih ke narkoba,” tandasnya.

Menurut Jaka, tidak hanya lem yang kerap disalahgunakan oleh para remaja dan anak-anak. Obat batuk

dan alkohol medis, juga kerap digunakan untuk mabuk-mabukan. Karena itu, IDI Berau juga mengimbau

masyarakat, agar mengawasi pergaulan putra-putri mereka.

 Sebelumnya IDI Berau Sebut Ngelem Bisa Akibatkan Kematian Seketika

Meski tidak termasuk tindakan kriminal, menghisap lem atau

lebih familiar disebut dengan ngelem, disebut-sebut dapat merusak moral generasi bangsa.

Bahkan, ngelem menurut Agus Tantomo Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Berau,

adalah awal mula anak dan remaja menjadi pengguna narkoba.

Celakanya, ngelem nyaris jadi pemandangan sehari-hari.

Tidak hanya remaja, anak usia sekolah dasar pun sudah meniru perilaku ini.

Karena itu, Agus Tantomo mengajak seluruh lapisan masyarakat, agar lebih peduli dengan lingkungan sekitar.

Terutama terhadap perilaku anak.

Pasalnya, BNK maupun aparat penegak hukum, juga tidak mungkin melakukan pengawasan secara menyeluruh.

Baca Juga;

Ngelem di Emperan Toko Pasar Baru, 2 ABG Digelandang Satpol PP Balikpapan

20 Anak Ngelem Direhab BNN Balikpapan, Korban Sampai Merasa Masuk di Game PUBG

Tangani Anak Ngelem, Perlu Perda Penanganan Kenakalan Remaja

VIDEO - Usai Ngelem, Dua Pemuda Merampok Counter HP, tapi Digagalkan Warga

 

 

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved