Adi Darma- Neni Moerniaeni Diprediksi Kembali Bersaing Di Pilkada Bontang, Ini Kata Bawaslu
Adi Darma- Neni Moerniaeni Diprediksi Kembali Bersaing Di Pilkada Bontang, Ini Kata Bawaslu
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG -Adi Darma- Neni Moerniaeni diprediksi kembali bersaing Di Pilkada Bontang, ini kata Bawaslu
Rivalitas politik kandidat bacalon Pilkada Bontang 2020 dinilai dapat menimbulkan kerawanan tersendiri.
Hal itu disadari penyelenggara Pemilu, pengawas Pemilu dan aparat keamanan Kota Bontang.
Sosok kuat dalam perebutan kursi nomor satu di Bontang masih di seputaran kalangan itu-itu saja.
Bahkan dari perkembangan situasi politik saat ini, rivalitas Adi Darma dan Neni Moernieni diprediksi bakal kembali menghiasi gelaran Pilkada serentak 2020 mendatang.
• Jelang Timnas U23 Indonesa vs Laos, Kabar Gembira Hampiri Skuad Asuhan Indra Sjafri
• Eks Anak Didik Beri Kekalahan Perdana Jose Mourinho di Tottenham
• Sebelum 2024 Istana Negara dan Infrastruktur Ibu Kota Negara Harus Dibangun, Tambahan 400 Ribu Ha
• Lulusannya di UI hingga ITB, Kak Seto Beber Bukti Sekolah Saja 3 Hari Efektif, Serasa Bebas Penjara
Patut diketahui, Adi Darma mantan Walikota Bontang 2011-2016 telah menyatakan diri maju di Pilkada Bontang 2020 mendatang.
Bentrok dengan bacalon petahana yang merupakan lawan politiknya di Pilkada 2015 merupakan konsekuensi politik yang harus dihadapi.
Uniknya, Adi Darma sukses menggaet mantan lawan politiknya di Pilkada 2015, Basri Rase yang saat ini merupakan Wakil Walikota Bontang, untuk maju bersama di Pilkada 2020.
Spanduk dan baliho keduanya telah beredar di sudut dan persimpangan Kota Taman (julukan Bontang).
Berbeda dengan Neni Moerniaeni yang sampai saat ini belum secara tegas mempublikasikan pasangan pada Pilkada 2020.
Neni yang kini duduk sebagai walikota Bontang masih gencar melakukan komunikasi politik, baik personal maupun dengan partai politik.
Dari informasi yang berkembang sejumlah politisi dan birokrat masuk dalam radarnya, di antaranya, Agus Haris (Gerindra), Joni Muslim (Nasdem), Agus Amir (Plt Sekda), dan Bajuri (Polisi).
Banyak pihak berpendapat Adi Darma dan Neni, masih jadi sosok yang memiliki kekuatan politik besar di Bontang.
Bila Pilkada 2020 mereka kembali bertarung. Kontestasi politik tersebut jadi yang ketiga kalinya dilakoni keduanya.
Menurut catatan Tribunkaltim.co, rivalitas jilid pertama pada Pilkada 2015, Adi Darma sukses jadi pemenang. Berdasarkan hasil rekapitulasi pasangan Adi-Isro berhasil menyisihkan 5 pasangan lainnya dengan perolehan suara sebanyak 35.062 atau 48,51 persen dari total 72.276 suara sah.
Posisi suara terbanyak kedua diraih oleh pasangan nomor 5 Neni Moerniaeni-Irwan Arbain sebanyak 26.978 atau setara dengan 37,33 persen.
Sementara empat pasangan lainnya yakni, Muh Nasution-Agung Masuprianggono memperoleh suara, Artahnan-Rediyono, Abdul Rahman-Nur Ali dan Sjahid-Hasan Aidil memperoleh suara kurang dari 6 persen.
Beda cerita rivalitas jilid II, Neni yang maju bersma Basri Rase lewat jalur independen secara mengejutkan mampu mengungguli perolehan suara calon petahana pada Pilkada 2015.
Mereka berhasil mengalahkan duet Adi Darma-Isro Umarghani.
Dari 124.105 warga yang mempunyai hak pilih, Neni-Basri berhasil meraih 44.300 suara atau 35,7 persen, sementara Adi-Isro meraih 35.018 suara (28,2 persen).
Catatan merah pelaksanaan Pilkada 2015 lalu, warga yang tidak menggunakan hak pilih alias golongan putih (golput) mencapai 44.787 atau sekitar 36,1 persen.
Itu artinya suara golput di Bontang ternyata lebih tinggi dibandingkan kedua pasangan calon yang bertarung.
Rivalitas jilid III kedua tokoh tersebut bakal dirasakan warga Bontang tak lama lagi. Tahapan pemilu sudah berjalan. Lobi-lobi dan komunikasi politik semakin hangat dari hari ke hari.
Rivalitas yang berulang dari calon yang itu-itu saja mulai menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak.
Bawaslu Bontang yang saat ini tengah menyusun indeks kerawanan pemilu (IKP) menaruh perhatian terhadap rekam jejak perjalanan Pilkada kurun waktu 10 tahun terakhir.
Komisioner Bawaslu Bontang, Agus Susanto kepada Tribunkaltim.co mengaku bila Pilkada 2020 masih jadi arena rivalitas segelintir elit politik lama, membuat potensi kerawanan semakin tinggi.
Baik dari sisi pelanggaran Pemilu, kecurangan Pemilu, pidana Pemilu bahkan situasi kamtibmas kota Bontang.
"Ada rivalitas politik yang bakal 3 kali bertemu di gelaran Pilkada di Bontang.
Bila kembali head to head Pilkada 2020, tentu ini jadi pekerjaan besar Bawaslu, KPU dan kepolisian. Karena mereka sudah paham kelemahan dan kelebihan masing-masing," ungkapnya, Rabu (4/12/2019) usai rapat koordinasi penyusunan IKP di kantor Bawaslu.
Sebab itu, Bawaslu sadar betul ancaman pembelahan dan polarisasi masyarakat akibat bentrokan dari rivalitas yang berulang cukup tinggi.
Apalagi bila arena Pilkada 2020 hanya diikuti oleh 2 pasangan calon alias head to head.
"Makanya kita dari Bawaslu melihat lagi potensi kerawanan, seperti kasus yang pernah terjadi (di Pemilu) sebelumnya.
Jadi indikator dan catatan yang bakal kita sampaikan secara nasional," ungkapnya.
Kendati meyakini tingkat kerawanan Pilkada tinggi. Namun dari setiap penyelenggaraan Pilkada masih dalam kategori kondusif.
Hal itu sudah teruji pada 2 Pilkada sebelumnya. Yang kalah tetap lapang dada menerima hasil rekapitulasi penyelenggara Pemilu. (*)
Langganan berita pilihan tribunkaltim.co di WhatsApp klik di sini >> https://bit.ly/2OrEkMy

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/adi-darma-dan-neni-moerniaeni-diprediksi-akan-kembali-bersaing.jpg)