Pembina Pramuka Ajarkan Yel-yel SARA ke Murid SD, Menkopolhukam Mahfud MD: Gurunya Agak Bego Kali
Pembina Pramuka ajarkan yel-yel SARA ke murid SD, Menkopolhukam Mahfud MD: Gurunya agak bego kali
TRIBUNKALTIM.CO - Pembina Pramuka ajarkan Yel-yel SARA ke murid SD, Menkopolhukam Mahfud MD: Gurunya agak bego kali.
Kasus Pembina Pramuka mengajarkan Yel-yel bernada SARA di Yogyakarta menuai respon Menkopolhukam Mahfud MD.
Mahfud MD pun meminta Pembina Pramuka tersebut dipanggil dan diberikan Pembinaan.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan atau Menkopolhukam, Mahfud MD angkat suara terkait dengan Yel-yel "Islam yes kafir-kafir no" di Yogyakarta.
Yel-yel ini diajarkan oleh peserta Kursus Mahir Lanjutan (KML) Pembina Pramuka kepada para siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Timuran, Kota Yogyakarta.
Mahfud MD mengatakan, Yel-yel yang diajarkan oleh peserta KML Pembina Pramuka merendahkan keberagaman.
• Anak Buah Anies Baswedan di Pemprov DKI Jakarta Siapkan Tim Hukum Lawan Ratusan Warga Korban Banjir
• Pengelola Mal Tuntut Ganti Rugi ke Pemprov, Beda dari Pernyataan Anies Baswedan, 2 Mal Masih Tutup
• Kerap Disoroti Netizen tak Becus Atasi Banjir, Anies Baswedan Sebut Banjir Daerah Lain Lebih Parah
• Anies Baswedan tak Diundang Rapat Soal Banjir, Rocky Gerung Sebut Sinyal Jokowi Menikmati Persaingan
"Merendahkan keberagaman dan keberagamaan.
Ya itu tanggapan saya," ujar Mahfud MD usai menghadiri acara dialog kebangsaan di Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (14/01/2020).
Mahfud MD menyampaikan, Yel-yel tersebut tidak baik bagi keutuhan bangsa.
Karenanya, pemerintah daerah perlu memanggil oknum yang mengajarkan Yel-yel tersebut kepada para siswa sekolah dasar.
Oknum tersebut juga perlu diberikan Pembinaan.
"Pembinaan dulu aja deh, dipanggil.
Itu jangan-jangan gurunya agak bego kali, dipanggil aja dulu siapa, masak ada Yel-yel begitu.
Dilihat dulu, dipanggil Pembina pramukanya siapa," ujar Mahfud MD.
Seperti diketahui, seorang oknum peserta Kursus Mahir Lanjutan (KML) Pembina Pramuka mengajarkan Yel-yel yang dinilai bernada SARA kepada siswa SD Negeri Timuran, Kota Yogyakarta.
Hal itu menuai protes dari seorang wali murid.
Kejadian itu diketahui setelah beredar tangkapan layar tulisan keluhan dari seorang wali murid.
Di dalam tangkapan layar tersebut, Yel-yel yang diajarkan di hadapan para siswa menggunakan kata-kata "Islam yes kafir-kafir no".
Kronologi
Seorang oknum peserta Kursus Mahir Lanjutan (KML) Pembina Pramuka mengajarkan yel yang dinilai berbau SARA kepada siswa SD Negeri Timuran, Kota Yogyakarta.
Hal itu menuai protes dari orangtua murid.
Salah satu orangtua murid mendengar yel itu saat menunggu anaknya pulang sekolah.
Awalnya semua bernyanyi-nyanyi normal.
Tiba-tiba ada seorang Pembina Pramuka masuk dan mengajak anak-anak menepuk dan diakhiri dengan yel.
"Saya kaget karena di akhir tepuk kok ada Yel-yel Islam Islam yes, kafir-kafir no.
Spontan saya protes dengan salah satu Pembina senior.
Saya menyampaikan keberatan dengan adanya tepuk itu, karena menurut saya itu mencemari kebinekaan Pramuka," ujar salah satu orang wali murid berinisial K, Senin (13/1/2020).
Setelah itu, seketika seorang Pembina Pramuka senior menyampaikan permintaan maaf, dan berjanji menyelesaikannya dengan Pembina terkait.
Adapun Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri Timuran Kota Yogyakarta, Esti Kartini, baru mengetahui hal itu dari media.
Namun, Esti membenarkan bahwa sekolahnya menjadi tempat praktik Kursus Mahir Lanjutan (KML) Pembina Pramuka.
"SD Timuran hanya ketempatan untuk praktik KML dari Kwarcab," tegas Esti.
Sementara itu, Ketua Kwarcab Pramuka Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menjelaskan memang sedang mengadakan Kursus Mahir Lanjutan (KML) Pembina Pramuka.
Peserta kursus ini berasal dari dalam dan luar Yogyakarta.
"Pada kasus yang terjadi di SD Timuran itu, pada saat itu praktik dari salah satu peserta dari Gunungkidul," sebut Heroe.
Dalam KML Pembina Pramuka, Heroe mengatakan, tidak diajarkan tentang tepuk ataupun yel tersebut.
Namun, peserta yang sedang praktik itu tiba-tiba menyampaikan tepuk yang diakhiri dengan yel itu.
"Ini sebenarnya spontanitas dari peserta," ucap Heroe.
Heroe yang juga Wakil Wali Kota Yogyakarta juga menuturkan, Pembina setempat pada saat itu mendapat laporan dari salah satu yang ada di sana.
Kemudian, salah satu wakil ketua Kwarcab Pramuka Kota Yogyakarta menyampaikan permintaan maaf.
"Di akhir salah satu wakil ketua Kwarcab menyatakan pada peserta, pada anak-anak bahwa tepuk itu tidak ada dan dianggap tidak ada.
Sekaligus menyampaikan permintaan maaf karena membuat tidak nyaman," jelas Heroe.
Kwarcab Pramuka Kota Yogyakarta juga akan mendalami kejadian tersebut.
• Anak Buah Anies Baswedan di Pemprov DKI Jakarta Siapkan Tim Hukum Lawan Ratusan Warga Korban Banjir
• Pengelola Mal Tuntut Ganti Rugi ke Pemprov, Beda dari Pernyataan Anies Baswedan, 2 Mal Masih Tutup
• Kerap Disoroti Netizen tak Becus Atasi Banjir, Anies Baswedan Sebut Banjir Daerah Lain Lebih Parah
• Anies Baswedan tak Diundang Rapat Soal Banjir, Rocky Gerung Sebut Sinyal Jokowi Menikmati Persaingan
Peserta KML Pembina Pramuka yang mengajarkan yel itu juga akan dipanggil.
"Secepatnya akan dipanggil di kantor Kwarcab.
Kita undang, kita luruskan kembali persoalan-persoalan yang terjadi seperti apa, bagaimana, dan konsekuensinya seperti apa," pungkasnya.
(*)