Jumat, 24 April 2026

Bisnis Properti di Kaltim Lesu, Puluhan Pengembang Alih Profesi

Bisnis properti di Kaltim lesu, puluhan Pengembang alih profesi Kondisi bisnis sektor hunian masyarakat (properti) di Kalimantan Timur

DOKUMEN TRIBUNKALTIM
Ilustrasi Bisnis properti di Kaltim lesu, puluhan Pengembang alih profesi 

Bagus mengungkapkan, permintaan rumah di Kaltim per tahun mencapai 25 ribu unit rumah. Dalam setahun hanya 10 ribu unit rumah terbangun.

Meski lesu, bisnis perumahan tetap menjadi primadona. Sebab, rumah merupakan kebutuhan primer masyarakat. Kebutuhan di Kaltim setiap tahun itu 25 ribu rumah. Tapi, baru bisa terpenuhi 10 ribu unit rumah. Artinya, ada 15 ribu unit rumah yang belum terbangun.

 Akhirnya Presiden Jokowi Putuskan untuk Tes Massal Virus Corona, Demi Kendalikan Penyebaran Covid-19

Daya Beli Turun

Harga properti residensial di Kota Balikpapan tumbuh terbatas pada triwulan IV-2019. Menurut survei Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2019 tumbuh 0,01% (qtq), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (0,29-qtq).

Perlambatan IHPR pada periode ini didorong melambatnya pertumbuhan indeks harga untuk rumah tipe kecil dan rumah tipe sedang. Sementara IHPR rumah tipe menengah tumbuh positif paska terkontraksi pada triwulan sebelumnya.

Secara tahunan, IHPR pada triwulan IV 2019 juga lebih rendah dibandingkan triwulan III-2019, dari 0,83% (yoy) menjadi 0,52% (yoy).

"Meski begitu, di tengah kenaikan indeks harga yang terbatas, penjualan properti residensial pada triwulan IV-2019 tumbuh positif sebesar 28,45% (qtq), setelah sebelumnya terkontraksi sebesar -63,06% (qtq) pada triwulan III-2019," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Bimo Epyanto. 

Ditinjau secara tahunan, penjualan properti residensial terkontraksi sebesar -62,28% (yoy). Penurunan secara tahunan tersebut sejalan dengan menurunnya kredit kepemilikan rumah (KPR), tercermin dari pertumbuhan KPR di Kota Balikpapan pada triwulan IV-2019 tercatat sebesar -0,65% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan triwulan III-2019 yang sebesar 0,37% (yoy).

Memasuki awal tahun, IHPR Kota Balikpapan diperkirakan masih relatif belum tumbuh pada triwulan I-2010. Hal ini tercermin dari perkiraan IHPR triwulan I-2020 yang tercatat sebesar 0% (qtq), relatif stagnan dibandingkan 0,01% (qtq) pada triwulan IV-2019.

"Stagnasi kenaikan harga properti residensial ini akan dialami pada semua tipe rumah yang tercermin dari perkiraan pertumbuhan IHPR triwulan I-2020 masing-masing tipe rumah yang sebesar 0% (qtq)," prediksinya.

Sedangkan secara tahunan, harga properti residensial juga diperkirakan tumbuh terbatas dari 0,52% (yoy) menjadi 0,34% (yoy) pada triwulan I 2020. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan indeks harga pada rumah tipe kecil dan tipe besar yang masing-masing diperkirakan sebesar 1,20% (yoy) dan -0,20% (yoy).

Namun demikian, peningkatan harga diperkirakan akan dialami rumah tipe menengah sebesar 0,04% (yoy), lebih tinggi dibandingkan -0,26% (yoy) pada triwulan IV-2019.

Terpisah, Branch Manager Bank Tabungan Negara (BTN) Balikpapan, R Bambang Hendro Tjahjo mengatakan permintaan perumahan kelas menengah mengalami penurunan. Lemahnya daya beli masyarakat akan rumah hingga perlambatan ekonomi menjadi faktornya.

 Di ILC Bertema Bahas Virus Corona, Rizal Ramli Agresif Bahas Utang Pemerintah Jokowi dan Jiwasraya

"Selain karena daya beli lemah, dampak turunnya harga industri andalan, yakni batu bara dan berdampak pada KPR komersil," ujar Bambang.

Meski permintaan rumah menengah menurun, permintaan rumah subsidi mengalami kenaikan sejak tiga tahun belakangan. Data yang disebut Bambang, BTN berhasil merealisasikan KPR subsidi di tahun 2017 sebanyak 1.664 unit dan komersial sebanyak 325 unit.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved