Bisnis Properti di Kaltim Lesu, Puluhan Pengembang Alih Profesi
Bisnis properti di Kaltim lesu, puluhan Pengembang alih profesi Kondisi bisnis sektor hunian masyarakat (properti) di Kalimantan Timur
TRIBUNKALTIM.CO - Bisnis properti di Kaltim lesu, puluhan Pengembang alih profesi
Kondisi bisnis sektor hunian masyarakat (properti) di Kalimantan Timur saat ini tengah lesu.
Menurut Ketua Real Estate Indonesia (REI) Kaltim, Bagus Susetyo, dari 70 anggota REI ( Pengembang ) di Kaltim, tinggal setengahnya atau 35 pengembang yang aktif. Sementara, sisanya tidak aktif lagi atau bisa jadi sudah alih profesi.
Bagus Susetyo mengungkapkan, di tengah lesunya permintaan rumah di Kaltim, pihak pengembang tidak akan menurunkan kualitas bangunan perumahan.
"Sekarang ini bisnis perumahan sedang lesu. Ya kurang kebih 4-5 tahun belakangan inilah," ujarnya kepada Tribun, Jumat (13/3) lalu di Gedung Graha REI, Jl Siradj Salman, Samarinda.
Lesunya bisnis sektor perumahan dibeberkan Bagus, lebih disebabkan turunnya daya beli masyaraat Kaltim beberapa tahun belakangan. Hal ini imbas dari anjloknya sektor pertambangan.
"Kaitannya sangat jelas terlihat. Dahulu, dengan sekarang daya beli masyarakat berbeda. Kalau dulu saat tambang batu bara masih menjadi primadona seluruh sektor usaha masyarakat di Kaltim tergerak. Jadi, daya beli masyarakat pun meningkat," kata Bagus.
• Minta Jokowi Lockdown Indonesia & Perhatikan Tim Medis, Surat Terbuka Dokter Tifauzia Tyassuma Viral
• Di Mata Najwa, Jokowi Dengar Desakan Copot Terawan dari Menkes, Pramono Anung Ungkap Sikap Presiden
• Presiden Jokowi Putuskan Tes Massal Virus Corona, Apa dan Bagaimana Caranya? Ini Penjelasannya
Berkat tambang batu bara, usaha mikro kecil menengah (UMKM) pun berjalan. Pesanan logistik, perumahan karyawan tambang dan pemenuhan kebutuhan untuk mendukung perusahaan tambang juga dikelola oleh masyarakat.
"Begitu kalau dulu. Masyarakat membeli rumah untuk investasi. Tapi, kalau sekarang masyarakat mau beli rumah terbentur kebutuhan mereka sehari-hari. Pendapatan mereka hanya cukup untuk sehari-hari," tuturnya.
Permintaan masyarakat akan rumah rendah, sementara banyak unit rumah yang dibangun pengembang sampai saat ini belum laku terjual. Sehingga, para pengusaha pun mencari berbagai cara agar rumah-rumah itu terjual.
"Mau yang kredit komersil atau rumah subsidi kondisinya sama. Jadi, mereka juga menggunakan trik-trik supaya rumahnya laku terjual. Hanya saja, sampai saat ini belum ada data pasti soal berapa jumlah rumah yang siap, dan juga yang sudah dijual," katanya.
Tidak inginnya data diungkapkan kepada publik, menurut Bagus, merupakan salah satu trik pengembang menarik simpati calon pembeli untuk segera membeli rumah
"Kadang kita lihat ada perumahan yang memasang plang sold out. Nah itu trik juga, padahal ya ada saja rumah yang siap dibeli. Itu salah satu trik. Makanya mereka (pengembang) itu tertutup soal data penjualan," imbuhnya.
Ditanyakan soal apa yang harus dilakukan pemerintah untuk bisa mendongkrak kembali usaha perumahan di Kaltim, Bagus berharap pemerintah membantu pengembang dalam membangun fasilitas umum di sekitar lingkungan perumahan.
"Misalnya saja, akses jalan masuk perumahan, drainase perumahan dan fasilatas umum lainnya. Dengan seperti ini pasti akan banyak masyarakat berminat membeli rumah," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/properti-proyek-rumah_20150429_140701.jpg)