Berpikir Benar antara Takut Virus Corona dan Takut Allah

SEJAK diumumkan bahwa Indonesia positif Corona, masyarakat mendadak panik setelah sebelumnya bersantai ria karena anggapan Indonesia kebal virus

ist
Berpikir Benar antara Takut Virus Corona dan Takut Allah 

SEJAK diumumkan bahwa Indonesia positif Corona, masyarakat mendadak panik setelah sebelumnya bersantai ria karena anggapan Indonesia kebal virus. Data terakhir pasien yang dirawat di Kalimantan Timur berjumlah 36 pasien dalam pengawasan, pemantauan 208 orang, 1 dinyatakan positif Covid-19 (19/3).

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto mengatakan, hingga Selasa (17/2), jumlah kasus virus Corona di Indonesia mencapai 172 kasus (18/3). Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) memutuskan mengambil langkah pembatasan kegiatan dengan istilah 'local lockdown' untuk menghadapi penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan pemerintah harus mengambil langkah tersebut untuk menghindari penyebaran COVID19 di Kaltim. "Keputusan local lockdown harus diambil. Berbagai aktivitas yang melibatkan banyak orang, baik pertemuan dan kegiatan kedinasan, sekolah, perkuliahan, maupun kegiatankegiatan yang sudah teragendakan harus dibatasi," kata Gubernur Kaltim Isran Noor.

Selain local lockdown, masyarakat juga diimbau untuk melakukan social distancing (jaga jarak) seperti tidak jabat tangan, cipika cipiki, hingga shalat berjamaah di masjid. Dari kebijakan tersebut, tidak sedikit ditanggapi kontra dari kalangan kaum muslimin sebagai penduduk mayoritas Indonesia, termasuk tokoh agama.

Mereka yang kontra berpendapat bahwa berjabat tangan, salat berjamaah hingga bersilaturahmi merupakan sunnah yang harus selalu ditegakkan. Sementara ajal merupakan takdir yang pasti akan terjadi pada setiap manusia tak peduli seberapa keras usaha untuk menghindarinya.

Sehingga seorang muslim tidak layak takut kepada virus Corona sampai-sampai meninggalkan sunnah. Sebaliknya, seorang muslim hendaknya lebih takut kepada Allah daripada virus Corona.

Sesungguhnya wabah penyakit menular pernah terjadi di zaman Rasulullah seperti kusta atau lepra. Rasulullah mengisolasi lokasi wabah agar orang yang berada di tempat tersebut tidak keluar. Begitupun yang sehat atau berada di luar lokasi wabah dilarang mendekati mereka.

“Apabila kamu mendengar berita wabah virus menjangkiti suatu negeri, maka janganlah ke sana, tapi jika telah terjadi wabah virus di suatu negeri dan kamu berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar lari dari padanya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Auf).

Rasulullah juga pernah menolak berjabat tangan dengan seorang laki-laki yang berpenyakit kusta dalam berbaiat. “Dari ‘Amr bin Asy Syarid dari bapaknya dia berkata: “Dalam delegasi Tsaqif (yang akan dibaiat Rasulullah) terdapat seorang laki-laki berpenyakit kusta/lepra.

Rasulullah pun mengirim seorang utusan supaya mengatakan kepadanya: “Kami telah menerima baiat Anda. Karena itu Anda boleh pulang” (HR. Muslim).
Tidak hanya itu, perubahan lafadz azan menjadi pernah terjadi di zaman Rasulullah.

Halaman
123
Editor: Tohir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved