Bisnis WO Lesu di Balikpapan Akibat Pandemi Covid-19, Tukang Dekorasi Banting Setir Jualan Semangka

Virus Corona tidak hanya mematikan bagi manusia, namun juga berdampak serius di berbagai lini usaha, salah satunya bisnis Wedding Organizer (WO).

Penulis: Heriani AM |
TRIBUNKALTIM.CO, MIFTAH AULIA ANGGRAINI
Simulasi pernikahan yang dilakukan oleh gabungan Wedding Organizer dalam persiapan menyambut New Normal. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Virus Corona tidak hanya mematikan bagi manusia, namun juga berdampak serius di berbagai lini usaha, salah satunya bisnis Wedding Organizer (WO).

Hal itu dikarenakan adanya larangan membuat keramaian termasuk membuat pesta pernikahan demi menekan penyebaran virus menular tersebut.

Bisnis WO seakan mati suri karena tidak berjalan selama pandemi ini. Banyak acara terpaksa ditunda hingga beberapa bulan ke depan, bahkan ada yang langsung membatalkan.

Fenomena ini membuat para pelaku bisnis vendor pengantin ini, banting stir demi menyambung hidup.

"Kami harus punya usaha sampingan karena banyak karyawan yang kami rumahkan. Mereka, dari teman-teman dekor bahkan ada yang banting setir berjualan semangka karena perekonomian terhenti maka kami harus mencari jalan lain," ujar Humas Asosiasi Pengusaha Dekorasi Indonesia (Aspedi) Balikpapan, Hambali, Kamis (25/6/2020).

Ia mengemukakan, perkembangan bisnis ini menurun jauh. Sebagian di antara klien yang sudah memiliki jadwal melakukan pembatalan (cancel). Jika itu terjadi, WO harus mengembalikan DP (Down Payment atau uang muka).

"Kami ada beberapa opsi kalau ada yang mengajukan cancel, kami tidak mengembalikan DP tapi menggantinya dengan dekor akad atau pemberkatan," tuturnya.

Baca juga: Kasus Pengambilan Paksa Jenazah Covid-19 di Surabaya, Suami Jadi Tersangka, Istri Positif Corona

Baca juga: Sang Ibu Terindikasi Virus Corona Jasad Janin Berusia 11 Pekan Dimakamkan dengan Protokol Covid-19

Hambali membeberkan, sejak Januari 2020 ada ratusan calon pengantin yang sudah dealing saat gelaran Balikpapan Wedding Festival.

Dari ratusan calon pengantin itu, beberapa memilih batal, namun ada beberapa yang reschedule ke akhir tahun dengan harapan di akhir tahun resepsi dan gedung sudah dibuka.

"Dari ratusan yang sudah deal, 30 persen di antaranya cancel, 30 persen lainnya yang sudah membayar uang muka, dialihkan ke akad saja tanpa resepsi. Sisanya reschedule," ucapnya.

Yang memberatkan WO adalah saat klien memilih batal, karena pihak vendor harus mengembalikan pembayaran kedua atau ketiga yang sebelumnya sudah disepakati. Namun apa mau dikata, kondisi sulit harus tetap dihadapi.

Hambali berharap pemerintah segera mengeluarkan edaran tentang pedoman pernikahan dengan protokol covid-19, yang sudah diterapkan berbagai daerah di Indonesia. Namun hal itu masih dirasa sulit jika terus ada lonjakan kasus positif tiap harinya.

"Kami berharap kasus positif akan turun atau tidak ada sama sekali dalam beberapa minggu ke depan agar pak Walikota segera mengeluarkan surat edaran tentang pedoman penyelenggaraan pernikahan. Karena beberapa kota di Jawa Tengah, Jawa Barat sudah ada yang membuka," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved