Breaking News
Selasa, 21 April 2026

Legislator Perempuan Bontang Kutuk Predator Anak, Etha: Penjara Belum Bisa Ubah Orang jadi Baik

Penjara dan hukum hari ini belum mampu membuat pelaku kejahatan jadi lebih baik, Kira-kira seperti itu pernyataan wakil rakyat Etha Rimba Paembonan

Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO, MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
Anggota Komisi II DPRD Bontang, Eta Rimba Paembonan saat ditemui di ruang rapat kantor DPRD Bontang. 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG - Penjara dan hukum hari ini belum mampu membuat pelaku kejahatan jadi lebih baik. Kira-kira seperti itu pernyataan wakil rakyat Bontang, Etha Rimba Paembonan saat dimintai tanggapan soal kasus pidana asusila terhadap anak di bawah umur di Bontang, Kalimantan Timur.

Mengingat terduga pelaku merupakan residivisi atau mantan narapidana dengan kasus yang sama, cabul terhadap anak di bawah umur. "Secara logika saja saya berpikir begitu. Bahwa penjara dan hukum, model dan cara kita menghukum orang ternyata gak bisa bikin orang taubat atau jauh lebih baik," lugasnya.

Tak ada yang bisa menjamin seseorang mengulangi kesalahan yang sama, apabila sistem hukum dan pembinaan di penjara masih belum optimal. Kendati demikian, tak lantas semua tanggungjawab ditumpahkan kepada institusi lembaga pemasyarakatan.

Menurut politisi perempuan partai Gerindra Bontang ini, semua pihak punya andil tanggungjawab dalam persoalan ini.

"Suatu saat kembali dia ( pelaku kejahatan) ke lingkungan yang sama, polanya sama lagi. Yang salah siapa? Sistem peradilannya? berat atau ringan hukumannya? Pembinaan di Lapas, atau lingkungan tempat dia? Kalau saya semua pihak bertanggungjawab," ungkapnya.

"Pemerintah juga bertanggungjawab, mungkin kita tak mampu menyediakan lingkungan yang ideal untuk orang-orang eks narapidana itu, sehingga mereka kembali dengan perilaku yang sama," sambungnya.

Baca juga; Berikut Daftar Kontroversi Ericko Lim, Eks Jessica Jane yang Dituduh Selingkuh dengan Listy Chan

Baca juga; Besok, PDIP Umumkan SK Paslon yang Diusung di Pilkada Kukar, Nama Petahana Makin Santer Disebut

Etha mengaku prihatin lantaran korban selain di bawah umur, juga merupakan anak berkebutuhan khusus. Kata dia, negara punya tanggung jawab untuk memastikan hak-hak anak berkebutuhan khusus terpenuhi. "Mereka, kan, jadi tanggung jawab negara melihat UU. Mereka harus dapat ekstra proteksi," tuturnya.

Mereka tak memiliki kemampuan manajerial diri sebaik anak pada umumnya. Kontrol emosi dan diri yang tak stabil, kecendrungan membuat mereka lamban memahami hal-hal yeng bersifat seksual.

"Beda kalau anak lain, di usia dini bisa paham bagian-bagian tubuh mana yang tak boleh dipegang orang lain. Sudah ada di pendidikan usia dini kita. Kalau bertemu dengan orang selain ibu dan bapak, ada bagian tubuh yang tak boleh dipegang," jelasnya.

Tak bisa ditampik, anak berkebutuhan khusus memang jadi sasaran empuk para predator seks di banyak tempat. Sebab itu, dirinya mengimbau agar orang tua dapat lebih waspada dalam membesarkan anak mereka. "Agak sulit untuk mereka (anak berkebutuhan khusus) mengerti, mereka acap kali jadi sasaran empuk (predator seks)," ujarnya. (Tribunkaltim.co/Fachri)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved