News Video
NEWS VIDEO Melihat Lebih Dekat Hiu Tutul di Perairan Talisayan Berau
Melihat hiu yang beratnya bisa mencapai 1 ton itu memiliki sensasi tersendiri.
TRIBUNKALTIM.CO- Kabupaten Berau, Kalimantan Timur menyimpan sejuta pesona alam yang menakjubkan dan tersembunyi sehingga masih banyak orang yang belum mengetahui akan keindahannya.
Mulai dari situs wisata, situs bersejarah, spot foto, sampai air terjun yang memanjakan mata. Bagi yang sering ke Bumi Batiwakkal, sebutan lain kabupaten Berau mungkin tak asing dengan wisata bahari seperti di pulau Derawan, Maratua, Sangalaki dan masih banyak lainnya.
Kali ini, wisata bahari yang menjadi favorit wisatawan berkunjung ke Kacamatan Talisayan tepatnya di pesisir kabupaten Berau yakni melihat langsung hiu tutul atau bisa dikenal whale shark.
Melihat hiu yang beratnya bisa mencapai 1 ton itu memiliki sensasi tersendiri. Tak hanya bisa dilihat wisatawan juga bisa berenang dengan hiu tutul namun para wisatawan harus mematuhi aturan diantaranya jaga jarak dan hindari kontak langsung dengan ikan pemakan plankton tersebut.
Wakil Bupati Berau H Agus Tantomo menyebutkan berenang bersama hiu tutul merupakan objek andalan Kecamatan Talisayan.
"Ini sangat unik sangat bisa menjadi objek wisata favorit karena tidak banyak wisata seperti ini yang ada di Indonesia," jelas Agus Tantomo.
Menurut Agus Tantomo habitat hiu tutul di Indonesia sekitar 250 ekor saja yang ada di perairan talisayan berdasarkan hasil tag-in berkisar sekitar 92 ekor. Sehingga hiu ini sangat dijaga oleh nelayan di Kecamatan Talisayan.
Di habitat asli hiu tutul di Kecamatan Talisayan, kata Agus Tantomo tidak sulit mencari ikan tersebut. Para wisatawan hanya perlu naik perahu dari Kampung Talisayan sekitar 30 hingga 40 menit ke keramba milik nelayan.
"Biasanya hiu ini selalu mendekat di keramba karena mungkin disana banyak plankton yang merupakan makanan dari hiu tutul," pungkasnya.
Bisa jadi objek wisata di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19.
Agus Tantomo mengatakan melihat hiu tutul bisa menjadi objek wisata alternatif di tengah pandemi virus Covid-19, pasalnya wisata tersebut tidak bakal melanggar protokol kesehatan.
Karena wisatawan yang ingin melihat langsung habitat aslinya hiu tutul terbatas hanya sampai 10 orang setiap satu kapal yang bisa wisatawan sewa.
"Ini sangat menarik dikaitkan dengan pandemi ini bisa dijual tanpa harus melanggar protokol kesehatan Covid-19 karena wisatawan yang datang ke sini (Talisayan) menggunakan kapal kecil dan tidak terlalu banyak penumpang,
"Jadi saran saya kepada pemerintah Kampung Talisayan yang bisa menjadi objek wisata andalan yang tidak melanggar protokol kesehatan tidak mungkin banyak orang yang mengunjungi ini," jelasnya.
Para wisatawan juga bisa memberi makan langsung hiu tutul menggunakan ikan kecil yang bisa dibeli dari keramba nelayan.