Senin, 13 April 2026

Virus Corona

Vaksin Covid-19 Buatan Rusia Siap Diproduksi Massal, WHO tak Jamin Keamanannya

Meski demikian banyak pihak yang meragukan keamanan dari vaksin covid-19 buatan Rusia itu.

Kolase TribunKaltim.co / freepik.com
ILUSTRASI - Vaksin Virus Corona 

TRIBUNKALTIM.CO - Rusia mengklaim telah menemukan vaksin virus Corona.

Vaksin Covid-19 itu bahkan disebut siap diproduksi secara massal.

Meski demikian banyak pihak yang meragukan keamanan dari vaksin covid-19 buatan Rusia itu. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak menjamin keamanan vaksin virus corona (Covid-19) Sputnik V yang diproduksi oleh Rusia. WHO mengatakan, sebelum diproduksi secara massal, vaksin tersebut masih harus melewati tahap prakualifikasi.

"Kami berhubungan erat dengan otoritas kesehatan Rusia dan diskusi sedang berlangsung sehubungan dengan kemungkinan prakualifikasi vaksin WHO. Tetapi sekali lagi prakualifikasi vaksin apapun mencakup tinjauan dan penilaian yang cermat dari semua data keamanan dan kemanjuran yang diperlukan," kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic, dalam jumpa pers di Swiss, seperti dilansir Associated Press, Rabu (12/8/2020).

Sejumlah ilmuwan memang mempertanyakan keamanan dan data uji coba dari vaksin tersebut yang sejauh ini belum dipublikasi.

 Risma dan Khofifah Duduk Bareng Satu Meja di Balai Kota Surabaya, Didampingi 2 Jenderal

 Ramalan Zodiak Cinta Kamis 13 Agustus 2020, Virgo Harus Tetap Tenang, Aries Keluar dari Zona Nyaman

 Driver Ojol Relawan Uji Klinis Bongkar Efek Samping yang Dirasakan Setelah Disuntik Vaksin Covid-19

 Kabar Gembira, Jokowi Umumkan BLT Karyawan Swasta Rp 600 Ribu Cair Lebih Cepat, Catat Jadwalnya

Ayfer Ali, spesialis obat-obatan di Britain’s Warwick Business School mengatakan, persetujuan cepat yang diberikan Rusia terhadap vaksin Sputnik V itu dapat memberikan efek buruk dari vaksin yang tidak terdeteksi sebelumnya, mengingat Rusia juga belum melakukan uji coba dalam skala besar untuk melihat apakah vaksin bekerja dengan aman atau tidak.

"Rusia pada dasarnya tengah melakukan eksperimen tiNgkat populasi besar," kata Ali, menyamakan persetujuan vaksin Sputnik V seperti eksperimen.

Francois Balloux, seorang ahli di University College London’s Genetics Institute berpendapat, tindakan Presiden Rusia, Vladimir Putin dengan memberikan vaksin Covid-19 Sputnik V kepada putrinya adalah keputusan sembrono dan bodoh.

Ia juga mengatakan vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji coba secara tidak tepat adalah tindakan salah. Itu bisa menyebabkan bencana bagi kesehatan masyarakat.

Peneliti rekanan senior di Universitas Southampton, Michael Head, juga meragukan kemanjuran vaksin Sputnik V.

Dia menduga vaksin itu hanya diuji ke beberapa orang, dan pemerintah Rusia dinilai terlalu terburu-buru dalam menyetujui vaksin itu.

Menurut standar dunia, uji klinis tahap tiga sebuah vaksin harus melibatkan sekitar 10 ribu orang dan memakan waktu berbulan-bulan.

Tahap itu juga dinilai menjadi satu-satunya tahapan eksperimen untuk menguji apakah vaksin itu aman dan manjur. Sebagai perbandingan, uji tahap akhir vaksin di Amerika Serikat mewajibkan untuk diuji coba kepada 30 ribu relawan.

Meski banyak yang meragukan keampuhan dan keamanan Sputnik V, namun sejumlah negara sudah menyatakan minatnya membeli vaksin virus corona buatan Rusia itu. Israel salah satunya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved