Selasa, 2 Juni 2026

Pilkada Bontang

Neni Moerniaeni Sebut Bontang Terancam Jadi Kota Mati, Ini Alasannya

Calon Walikota Pilkada Bontang nomor urut 02, Neni Moerniaeni membangun narasi besar soal kota mati pada debat publik belum lama ini

Tayang:
TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD FACHRI
Calon Walikota Bontang nomor urut 2, Neni Moerniaeni usai Debat Publik Pilkada Bontang, Sabtu (7/11/2020) di Hotel Grand Mutiara Bontang, Kalimantan Timur.TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD FACHRI 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG - Calon Walikota Pilkada Bontang nomor urut 02, Neni Moerniaeni membangun narasi besar soal kota mati pada Debat Publikk belum lama ini.

Beberapa kali calon petahana menyebut ancaman itu di beberapa segmen Debat Publikk Pilkada Bontang 2020 yang digelar di Hotel Grand Mutiara.

Ancaman Bontang menjadi kota mati, bukan dongeng atau isapan jempol.

Makin keoknya industri migas di Kota Taman (julukan Bontang), membuat siapapun pemimpin Bontang ke depan punya pekerjaan rumah berat.

Baca Juga: Dua Kepala Dinas Dilaporkan ke Bawaslu Bontang, Diduga Tak Netral dan Salahgunakan Wewenang

Baca Juga: Insan Pers Tagih Janji, Pengamat Hukum Unmul Kritik Sikap Kapolres Bontang, Patut Dipertanyakan!

Baca Juga: Tiga Orang ASN Terlibat Politik Praktis di Pilkada Bontang, KASN Jatuhkan Sanksi

"Kota Bontang ini salah satu yang membuat hidup adalah LNG. Dari 8 trane tinggal 2 trane. Kita tak berharap kota Bontang jadi kota mati," ujarnya usai debat saat dikonfirmasi TribunKaltim.Co.

Neni bahkan menyebut Arun, sebuah nama Desa di Aceh Utara yang dipakai namanya digunakan nama perusahaan gas terbesar di dunia tahun 90-an.

Adalah PT Arun Natural Gas Liquefaction. Perusahaan gas yang berada di Lhokseumawe, Aceh yang sempat dijuluki  sebagai "Kota Petrodolar" pada masa jayanya.

Kini jejak kejayaan itu tidak bersisa pasca perusahaan itu berhenti produksi tahun 2014.

Hal itu berimbas negatif pada sektor perekonomian, ditandai turunnya daya beli masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah setempat belum mengembangkan sektor potensial, seperti jasa, pariwisata, dan pendidikan. Ia kini jadi kawasan mati.

Untuk diketahui, PT Arun NGL adalah penghasil LNG (gas alam cair) terbesar di dunia pada medio 1990-an.

LNG yang dihasilkan diekspor ke sejumlah negara, terutama Jepang.

Gas dari perusahaan itu menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Lhokseumawe dan Indonesia pada periode 1980-1990.

"Dari pengalaman Kota Arun, ketika habis gas, dia jadi kota mati. Ini tak boleh terjadi di Bontang. Penguatan di Bontang  menyiapkan industri pasca migas," katanya.

Neni mengingatkan warga Bontang bahwa ancaman tersebut nyata bakal dihadapi Kota Bontang.

Ia mengajak publik membayangkan apabila PT Badak tutup. Ribuan pekerja bakal kembali ke kampung asalnya.

"Saya ingatkan semua, untuk bayangkan. Sampai LNG (PT Badak) tutup. Bagaimana yang kerja di sana kembali ke jawa. Bontang jadi kota mati," ujarnya.

"Ketika kita tak antisipasi, berkoordinasi dengan Pertamina. Kemarin, saya sudah bersurat, untuk segera utilitas dijadikan LNG bunkering, LPG. Supaya utilitas yang ada bisa tetap survive. Sementara kalau dibiarkan saja, karena itu jadi aset kita. Habis minyak, jadi kota mati," sambungnya.

Tak hanya migas, batubara pun demikian, semua industri yang bergantung pada sumber daya alam (SDA) tak terbarukan pasti akan rubuh pada waktunya.

"Kalau kita tak antisipasi. Pasca batubara, minyak dan gas, kalau tak persiapan pasti akan jadi kota mati," tuturnya.

Baca Juga: 375 Penyandang Disabilitas Bontang Tak Dapat TPS Khusus, Begini Cara Mereka Mencoblos Pilkada 2020

Baca Juga: Ditanya SDM Basri tak Mau Warga Bontang Jadi Penonton, Neni Berjuang Bangun Peti Kemas

Baca Juga: BREAKING NEWS Debat Kandidat Pilkada Bontang Berlangsung, KPU Pastikan Terapkan Protokol Kesehatan

Ditambahkan Neni, selama masa pemerintahannya ia berhasil menelurkan RTRW yang di dalamnya terdapat peruntukan kawasan industri.

Selain bertujuan menarik Pertamina untuk membangun kilang minyaknya di Bontang. Kawasan tersebut diproyeksi sebagai kawasan industri hilir bagi masa depan.

"Bayangkan industri hilir kita sekarang saja, CPO ekspor ke india dan China. Belum lagi bio diesel yang dibangun. Persiapan ini yang saya lakukan. Bontang pada waktunya gas tak ada, insha alloh akan tetap jadi kota yang hidup," ungkapnya.

Sementara pemberitaan sebelumnya, pasangan nomor urut 01, Basri Rase mengaku prioritaskan kebijakan yang memperkuat ekonomi mikro di Bontang, Kalimantan Timur.

Baginya penguatan ekonomi kerakyatan jadi satu-satunya jawaban menghadapi kondisi ekonomi pasca migas, yang saat ini semakin nyata di depan mata.

Kepada TribunKaltim.Co, usai Debat Publikk Pilkada Bontang 2020, jika terpilih ia bakal mengedepankan kebijakan yang senada dengan kebutuhan masyarakat Bontang.

"Kalau bicara makro yang menikmati hanya segelintir orang yang merasakan dampaknya. Tapi kami berbicara mikro. Bagaimana masyarakat Bontang mampu mendapat perkerjaan wajar," ungkapnya.

Ia tak menampik bahwa industri migas di Kota Bontang bakal tenggelam dalam waktu dekat.

Misal, PT Badak LNG yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur, memiliki 8 process train yang mampu menghasilkan 22,5 juta metrik ton LNG per tahun. Namun karena kekurangan pasokan gas, kilang yang dapat beroperasi saat ini hanya 2 train. 

"Bagaimana pun PT Badak pasti akan selesai. Sekarang tinggal satu train. Tahun 2022 kontrak habis," bebernya.

Sebab itu, pemerintahan ke depan harus pandai mengantisipasi kondisi tersebut. Mengingat dana bagi hasil (DBH) Bontang kian kempes.

Dari data yang dihimpung, DBH Bontang 2021 berada di angka Rp345,6 miliar, nilai itu turun dari DBH tahun 2020 berjumlah Rp444,9 miliar.

Hal itu tentu mempengaruhi postur APBD Bontang. Jangan sampai bila benar-benar hilang, ekonomi Bontang kelimpungan.

"Kenapa saya mengarah ke kepentingan (ekonomi) mikro, agar masyarakat siap menghadapi industri pasca migas," ujarnya.

"Makanya setiap daerah yang pelaku ekonomi mikronya maju, pasti maju. Bukan hanya mengandalkan ekonomi makro dengan industri besar," ujarnya.

Basri menyebut kota-kota yang berhasil maju dengan mengedepankan ekonomi kerakyatan alias mikro, di antaranya Bali, Jogja, Solo, Banyuwangi dan Malang.

"Yang penting sekarang legacy. Di situ peran pemerintah harus masuk. Dalam rangka pemberdayaan produk lokal," ungkapnya.

(TribunKaltim.Co/Fachri)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved