Berita PPU Terkini

Antisipasi Cuaca Ekstrem, BPBD PPU Ingatkan Nelayan untuk Pakai Life Jacket Saat Melaut

Para nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur dilarang mengabaikan alat keselamatan melaut, dan diwajibkan menggunakan jaket pe

TRIBUNKALTIM.CO/DIAN MULIA SARI
Situasi nelayan PPU sedang mempersiapkan kapal miliknya untuk melaut. TRIBUNKALTIM.CO/DIAN MULIA SARI 

TRIBUNKALTIM.CO, PENAJAM- Para nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur dilarang mengabaikan alat keselamatan melaut, dan diwajibkan menggunakan jaket pelampung (life jacket) sebagai antisipasi ketika terjadi kecelakaan di laut karena kondisi cuaca saat ini tidak menentu hingga Februari mendatang.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila saat ditemui media ini.

Dia mengatakan di situasi cuaca yang ekstrem saat ini, para nelayan diharapkan tidak lupa menggunakan life jacket.

Baca juga: Jalan Poros Samarinda-Balikpapan Amblas, Gubernur Kaltim Isran Noor: Rumah Warga Kena Ganti Untung

Baca juga: Walikota Balikpapan tak Izinkan Galang Dana Korban Bencana di Simpang Lampu Merah, Bakal Ditertibkan

Baca juga: BREAKING NEWS Seorang Warga Sepinggan Balikpapan Ditemukan Meninggal, Diduga Terpapar Covid-19

"Life jacket tolong jangan sampai lupa, biar bagaimanapun dia bisa sangat membantu, untuk terapung di laut, kelengkapan peralatan saja dulu dari masing-masing nelayan," kata Nurlaila, Selasa (19/1/2021).

Selain life jacket, kondisi peralatan melaut seperti kondisi kapal harus benar-benar dipastikan dengan keadaan baik saat berangkat melaut.

"Paling penting untuk para nelayan di laut dengan kondisi cuaca yang ekstrem saat ini itu minimal, itu banyak kan kejadian seperti mati mesin, dipastikan kondisi alat-alat di kapalnya saat berangkat memang layak untuk berangkat," ujarnya.

Kendati demikian, Nurlaila mengatakan, banyak nelayan yang abai akan hal itu, kurangnya kesadaran nelayan akan pentingnya life jacket dan kelengkapan kapal masih diremehkan.

"Harus ada kesadaran nelayan itu sendiri, karena para nelayan itu sudah merasa itu dunianya, kadang-kadang meskipun kita tidak menuduh dia meremehkan tapi secara kenyataan mereka meremehkan hal tersebut karena dunia laut, angin itu menurut mereka biasa," imbuhnya.

Terpisah, nelayan asal Kecamatan Penajam, Hariadi mengatakan, dengan kondisi cuaca yang tak menentu saat ini, memang membuat dirinya merasa khawatir.

Kendati demikian ia harus tetap melaut untuk menghidupi keluarganya di rumah.

"Sebenarnya kita ngerasa was-was, cuman mau diapain pekerjaan kita saat ini ya begini, nggak melaut di rumah makan apa, untuk imbauan ya kita akan perhatikan, kapal kita memang sudah kita pastikan dalam keadaan baik," ujar Hariadi.

(TribunKaltim.co/Dian Mulia Sari)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved