Berita Balikpapan Terkini
Dampak Covid, 80% UMKM Alami Penurunan Omzet, Pengusaha Perempuan Lebih Matang Hadapi Pandemi
Pandemi covid-19 membawa dampak negatif terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Hal ini disampaikan Ekonom United Nations Deve
Penulis: Heriani AM |
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Pandemi covid-19 membawa dampak negatif terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Hal ini disampaikan Ekonom United Nations Development Programme atau Badan Program Pembangunan PBB Indonesia, Rima Prama Artha secara daring, Kamis (21/1/2021).
Di mana para UMKM kesulitan mendapat bantuan, mayoritas kesulitan mendistribusikan produk mereka, dua per tiga UMKM mengalami penurunan omzet, 80 persen mengalami penurunan.
Baca juga: Bangunan Sarang Walet di Paser Kalimantan Timur Banyak Tidak Mengantongi IMB
Baca juga: Empat Dokter di Rumah Sakit Balikpapan Terpapar Covid-19
Baca juga: Warga Sekitar Pantai Nipah-nipah Penajam Mengeluh, Lokasi Wisata Dijadikan Tempat Pesta Miras
Sampel ini diambil dari 1.100 UMKM se-Indonesia, di mana 60 persen dari pulau Jawa dan sisinya di luar Jawa.
"Sebagai upaya untuk bertahan, UMKM banyak tergabung dalam online shop atau e-commerce," ujar Rima.
Dari hasil riset itu juga dihasilkan bahwa pengusaha perempuan lebih mungkin untuk menyiapkan rencana pemasaran, strategi bertahan menghadapi pandemi dibandingkan pengusaha laki-laki.
"Dari semua aspek, pengusaha perempuan mengalami tantangan yang lebih berat dari pengusaha laki-laki. Walau mungkin tidak terlalu banyak," tuturnya.
Lebih jauh dia menjelas, hampir dari setengah UMKM ini sudah menyiapkan rencana jangka panjang apabila covid-19 terus berlanjut.
Sebanyak 30 persen dari UMKM berencana untuk menggunakan dana cadangan mereka.
Rencana UMKM ini menformalitaskan usaha mereka.
Mayoritas dari mereka juga berusaha untuk tidak mengubah orientasi pasar mereka.
Pihaknya juga menawarkan rekomendasi kebijakan.
Pertama, pemerintah diminta tetap fokus kepada bantuan yang diberikan kepada UMKM.
Bantuan yang dimaksud bukan hanya dana, melainkan jaringan hingga akses pasar.
"Misalnya dari sisi permintaan, dengan mengurangi halangan untuk konsumen membeli barang dengan menginisiasi online market place. Bukan hanya mendorong, tapi skill literasi digital juga harus ditingkatkan. Persaingan di e-commerce sangat ketat," ujarnya.
