Wawancara Eksklusif
WAWANCARA EKSKLUSIF Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali, Nekat Kuliah meski Harus Kerja Serabutan
Rabu (17/2/2021) lalu, TribunKaltim.co berkesempatan menemui Ibrahim Ali di Kota Tarakan. Ibrahim menceritakan awal kisahnya terjun ke dunia politik.
Penulis: Risnawati | Editor: Adhinata Kusuma
IBRAHIM Ali dan Hendrik, memilih mundur sebagai Ketua dan Wakil Ketua DPRD KTT saat bertarung dalam Pilkada Kabupaten Tana Tidung (KTT) 2020. Keputusan yang berbuah manis, keduanya kini menjadi Bupati dan Wakil Bupati Terpilih KTT, Provinsi Kalimantan Utara.
Rabu (17/2/2021) lalu, TribunKaltim.co berkesempatan menemui Ibrahim Ali di Kota Tarakan. Ibrahim menceritakan awal kisahnya terjun ke dunia politik.
“Saya dulu tidak berfikir untuk menjadi politisi, saya dulu berfikirnya mudah-mudahan saya bisa masuk pegawai Dinas Perkebunan,” katanya. Lalu bagaimana Ibrahim akhirnya masuk ke politik, berikut pertikan Wawancara Eksklusif TribunKaltim.co:
Mengapa memutuskan maju sebagai calon Bupati? Kenapa tidak tetap menjadi Ketua DPRD?
Berbicara tentang politik. Saya harus bercerita mulai pertama dulu, saya lahir di Nunukan 23 Juni 1982, saya anak terakhir dari 3 bersaudara, saya SD SMP di Nunukan, kemudian saya melanjutkan sekolah pertanian saya di Samarinda.
Setelah lulus sekolah, saya sempat honor di Nunukan. Setelah sempat honor, saya izin ke Bapak untuk melanjutkan pendidikan saya, walau sempat dilarang karena tidak ada biaya untuk biaya kuliah. Tapi saya tetap nekat, akhirnya saya berangkat ke Samarinda untuk berkuliah sambil kerja serabutan.
Saya dulu tidak berpikir untuk menjadi politisi, saya dulu berpikirnya mudah-mudahan saya bisa masuk pegawai Dinas Perkebunan, jadi dulu itu saya mengidolakan bisa bekerja di Dinas Perkebunan.
Saat honor di Dinas Perkebunan, saya juga nyambi di Koni, kemudian saya juga mengajar di SMK Nunukan. Saya juga sempat jadi PPL Pertanian.
Di 2007 waktu itu ada kakak sepupu saya yang mau maju menjadi Bupati di Tana Tidung, saya diminta untuk mendampingi beliau saat itu, ya sudah saya putuskan sepertinya jiwa saya tidak ada di pemerintahan, Saya akhirnya fokus ke Tana Tidung mendampingi beliau.
Pada saat itu Bapak saya meminta saya untuk ikut tes CPNS saja tidak usah berpolitik, tapi karena jiwa saya dan saya meyakini bahwa bakat saya bukan di pemerintahan dan akhirnya satu bulan sebelum beliau meninggal dunia saya izin ke beliau bahwa saya tidak akan mengambil saran Bapak, biarlah saya fokus di dunia politik.
Alhamdulillah karena restu beliau, di 2009 pada saat itu Pak Undun yang menjadi Bupati pertama Tana Tidung. Jadi saya putuskan tidak kemana-mana dan fokus untuk membangun Tana Tidung saja.
Alhamdulillah waktu itu saya juga diberikan ruang oleh Pak Undun sebenarnya untuk bekerja di proyek-proyek. Kemudian di 2012 saya mantapkan hati untuk terjun ke politik dan diminta untuk mendampingi Pak Nurdin sebagai Ketua DPD PAN pertama saat itu.
PAN di 2009 itu nol kursi ya di DPRD, kemudian di 2014 saya mantapkan hati maju di Pileg 2014 dan Alhamdulillah saya mendapat peringkat ke 3 suara terbanyak saat itu.
Di 2016 saya dipercayai untuk menjadi Ketua DPD PAN Tana Tidung saat itu, sehingga saya harus membuat formulasi bagaimana PAN bisa mencapai target di 2019. Setelah itu, saya target di 2019 PAN akan meningkatkan perolehan kursinya dan saya optimis saya akan dapat suara pertama saat itu.
Qadar Allah saat itu saya finish di peringkat pertama suara terbanyak. Peningkatan suara saya itu hampir 200 persen, dengan ketatnya kompetisi di Tana Tidung ya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/bupati-tana-tidung-ibrahim-ali-menerima-karikatur-dari.jpg)