Sabtu, 18 April 2026

Berita Paser Terkini

30 Desa di Kabupaten Paser Ini Masuk dalam Kategori Rawan Pangan

Tingkat Kerawanan pangan masih dialami sejumlah wilayah yang ada di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.

Penulis: Syaifullah Ibrahim |
TRIBUNKALTIM.CO/SYAIFULLAH IBRAHIM
Taharuddin, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikuktura Kabupaten Paser, saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan terkait wilayah-wilayah rawan pangan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Kamis (2/6/2021). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER- Tingkat Kerawanan pangan masih dialami sejumlah wilayah yang ada di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.

Tercatat dari 139 desa yang terdiri dari 10 kecamatan, 30 di antaranya masuk kategori rawan pangan.

Hal itu dikatakan oleh Taharuddin, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikuktura, Kabupaten Paser.

"Ini merupakan hasil dari pemetaan nasional, tercatat di tahun 2017 lalu terdapat 77 desa yang masuk kategori rawan pangan semetaa di tahun 2019 lalu mengalami penurunan menjadi 40 desa," terangnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (2/6/2021).

Ia menambahkan, untuk tahun 2020-2021 ini, tersisa 30 desa di Kabupaten Paser yang mengalami rawan pangan.

Wilayah ketahanan pangan itu, tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Kecamatan Batu Engau, Muara Samu, Tanjung Harapan, hingga Kecamatan Long Kali.

Baca juga: Untuk ke-7 Kalinya Secara Berturut-turut, Kabupaten Paser Raih Predikat WTP dari BPK

Pemetaan desa rawan ketahanan pangan tersebut, menurutnya, sudah ditetapkan oleh Bupati Paser.

Indikasi desa masuk rawan ketahanan pangan, lanjutnya, bukan hanya dari komoditas ketersedian pangannya yang kurang.

Namun beberapa faktor lain yang mempengaruhi, misalnya akses jalan, lahan yang kurang, daya beli masyarakat, varian komoditas kebutuhan pokok, hingga tenaga kesehatan.

"Ada nggak tenaga kesehatannya, yang bisa mengatasi bagaimana pangan itu bisa diproduksi dengan baik, gizi seimbang, serta akses jalan," kata Taharuddin.

Ia beranggapan bahwa, bagaimana pangan bisa sampai ke desa-desa sementara untuk aksesnya kurang bagus, begitupun dengan varian komoditasnya yang harus diperhatikan.

Tak hanya ada karbohidrat, melainkan juga tersedianya protein, lemak dan serat.

Menurutnya, semua hal itu harus seimbang.

"Kalau protein tak terpenuhi. Maka cenderung mengonsumsi pangan yang tinggi karbohidrat," tambahnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved