Rabu, 29 April 2026

Berita Kaltim Terkini

Isu PLTU di Kalimantan Timur Tidak Beroperasi, Ditanggapi Kadis ESDM Kaltim Benny

Isu tutupnya beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dibantah langsung oleh kepala Dinas ESDM Kaltim C.Benny di Kota Samarinda

Tayang:
Penulis: Jino Prayudi Kartono | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/JINO KARTONO
Isu tutupnya beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dibantah langsung oleh kepala Dinas ESDM Kaltim C.Benny di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. PLTU tersebut hanya membutuhkan peremajaan saja. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Isu tutupnya beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dibantah langsung oleh kepala Dinas ESDM Kaltim C.Benny di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Dia mengatakan PLTU tersebut hanya membutuhkan peremajaan saja.

Untuk itu, PLTU tersebut membutuhkan perbaikan. Tujuannya meningkatkan produksi PLTU.

Jika PLTU tersebut dilakukan peremajaan dapat bertahan hingga puluhan tahun.

Baca Juga: Ratusan Daerah di Kalimantan Timur Belum Teraliri Listrik, Energi Terbarukan jadi Prioritas

Bahkan beberapa PLTU yang ada dipersiapkan untuk peralihan ke Energi Baru Terbarukan (EBT). Jadi tidak stak langsung dengan bahan EBT.

"Jadi pelan-pelan lah. cuman ada peremajaan di Tanjung Batu belum tua makanya perlu proses pergantian mulai tahun 2025 itu bertahap tidak bisa langsung," katanya.

Ada beberapa PLTU yang perlu dilakukan peremajaan. Dari beberapa PLTU tersebut PLTU Tanjung Batu, Balikpapan dan Bontang akan dilakukan peremajaan dalam waktu dekat

Energi Terbarukan jadi Prioritas

Energi fosil masih menjadi prioritas pasokan listrik di Kalimantan Timur (Kaltim).

Material batu bara meniadi salah satu sumber pasokan besar batu bara di Kalimantan Timur.

Sayangnya jika batubara digunakan terus menerus perlahan akan habis. Untuk itu pemerintah bersama PLN terus fokus dalam mencari sumber energi listrik yang dapat diperbaharui.

Selain diperbaharui, tentunya energi baru tersebut memiliki nilai angka yang cukup murah jika dibandingkan dengan batu bara.

Baca Juga: Mulai 2015, Lampu Jalan di Tarakan Pakai Energi Surya

Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas ESDM Kaltim C.Benny ketika dikonfirmasi Tribunkaltim.co, Senin (14/6/2021) siang. 

Dia mengatakan saat ini Kalimantan Timur sedang beralih ke sektor energi diperbaharui dan ramah lingkungan.

Tenaga air, panas matahari, angin dan gas menjadi alternatif energi pengganti batubara.

Bahkan dari seluruh energi tersebut, potensi besar menggantikan batubara adalah tenaga surya.

Baca Juga: Bulungan Manfaatkan Energi Surya untuk Penerangan Jalan

Ia menilai, ada sekitar 222 kawasan di Kalimantan Timur yang belum teraliri listrik.

Hal tersebut bisa menjadi potensi besar dalam melaksanakan sistem pemasangan tenaga Surya di ratusan kawasan yang belum teraliri listrik.

"Berpotensi tenaga Surya karena kita ada 222 tempat belum terlaluri listrik potensi tenaga Surya besar PLN tidak mau masuk karena jauh," ucapnya.

Namun sistem panel surya masih dikaji lebih lanjut.

Baca Juga: Perusda Baru Bidang Tambang dan Energi Bakal Hadir, Walikota Andi Harun: Bermitra dengan PLN

Dari tahapan tersebut, tiap rumah hanya memiliki kapasitas listrik tidak sampai 1000 Watt.

"Sistem lokal, cuman itu tahap pengkajian juga satu rumah 600 watt saja," ucapnya.

Menurutnya energi terbarukan dan ramah lingkungan tidak memiliki biaya yang besar.

Contohnya saja energi biogas yang hanya membutuhkan modal Rp 25 juta saja.

Andalkan Biogas dari Kotoran Sapi

Kisah lainnya, berita sebelumnya. Warga Balikpapan masih kerap kesulitan mencari gas subsidi elpiji 3 kg atau gas melon. 

Pasokan yang terbatas, harga yang terjangkau, permintaan yang tinggi, membuat barang ini seperti laris manis, keluar dari pabrik langsung ludes diburu konsumen. Namun tidak bagi Sadikun (45), petani di Teritip, Balikpapan Timur.

Lokasi tempat tinggalnya yang jauh dari pusat perbelanjaan dan pemerintahan, gaya hidup Sadikun serasa tenang, dirinya secara mandiri bisa memenuhi energi gas. 

Dia tidak perlu harus sibuk mencari ke sana kemari, atau sampai membela diri harus antre berburu gas subsidi ukuran tiga kilogram.

Kebutuhan bahan bakar gas Sadikun sudah terpenuhi secara mandiri, tidak perlu membeli di warung dengan harga yang selangit.  Di bagian belakang rumah hunian Sadikun terdapat kandang kayu yang dihuni 11 ekor sapi ternak. Semuanya milik dia.

Pengembangan Biogas Kotoran Sapi Bernilai Ganda bagi Masyarakat

Sapi sudah berusia muda, dipelihara sejak lama, era tahun 1980. Melalui ternak sapi inilah, Sadikun mendapat berkah dari kotoran sapi yang bisa disulap menjadi Biogas. 

Saat Tribunkaltim.co sambangi kediamannya, Jl Artomoro, RT 14 Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Senin (28/1/2019), Sadikun sedang bersantai, santap siang di rumahnya. 

Dirinya bercerita banyak, termasuk satu di antaranya mengenai soal swasembada energi gas yang bersumber dari kotoran sapi ternaknya.

“Saya pakai Biogas. Kotoran sapi saya olah, saya tampung pada sebuah bak, lalu dibuat jadi biogas,” ujarnya. 

Berkat pengolahan kotoran sapi menjadi Biogas, Sadikun bisa mendapatkan energi gas yang digunakan untuk memasak. Koleksi sapi yang berjumlah puluhan ekor, membuat Sadikun gratis bahan bakar gas. 

“Sejak pakai Biogas, saya tidak pernah beli gas di warung. Mau masak sudah ada disini. Hasilnya sama-sama bagus, apinya biru. Saban hari saya gratis, tidak mengeluarkan uang untuk beli gas,” kata pria kelahiran Tuban, Jawa Timur ini. 

Infrastruktur pembangunan Biogas saat itu Sadikun mendapat bantuan dari pemerintah, sekitar tahun 1989.

Dirinya bersama warga lainnya dibuatkan alat pembuat Biogas. Sampai sekarang, beberapa warga di Teritip ini mengandalkan Biogas. 

“Pemerintah melihat disini warganya banyak yang ternak sapi, kenapa tidak sekalian saja dibuat biogas. Kami setuju saja, bagus. Tidak perlu lagi cari kayu bakar atau gas untuk buat masak,” ungkapnya. 

Menurutnya, kotoran sapi sebanyak 10 ekor saja sudah sangat banyak untuk kebutuhan pembuatan Biogas.

Sebaliknya, kotoran sapi bisa tersisa buat yang lain seperti untuk pembuatan pupuk kompos, dipakai untuk tanaman di kebunnya, seperti di antaranya buat pupuk pohon pepaya, buah naga, dan kangkung. 

Keberadaan Kampung Artmoro Teritip, tempat tinggal Sadikun, memang secara administratif pemerintahan masuk wilayah Kota Balikpapan tapi atmosfirnya masih berkesan pemukiman desa. 

Lahan terbuka hijau masih lebar dan luas, sebagian besar warganya mengandalkan pertanian dan peternakan sapi.

Secara jumlah kepala keluarga totalnya ada 122 Kelapa Keluarga, sebagian besar memakai gas dari biogas olahan kotoran sapi. 

Hidup mengandalkan pada alam sekitar masih sangat mudah dicari, tanahnya pun subur, ditanami berbagai macam tanaman selalu berhasil, tumbuh bagus dan berbuah melimpah ruah.

“Mau cari rumput-rumput buat makanan sapi saya masih mudah di sini,” ungkapnya. 

Asalkan, imbuh Sadikun, tidak bermalas-malasan.  

“Saya bisa bertahan hidup disini. Ada usaha kerja keras dan kreatifitas, saya bisa berkembang disini. Saya ternak sapi awalnya hanya dua tapi lama-lama bisa puluhan ekor, kalau lagi musim lebaran haji sering saya jual laku banyak,” katanya.    

Berita tentang Kalimantan Timur

Penulis Jino Prayudi | Editor: Budi Susilo

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved