Sabtu, 16 Mei 2026

Virus Corona di Berau

Pasien Positif Covid-19 Membludak di Berau, Pihak RSUD Khawatirkan Pasokan Oksigen Tak Cukup

Dokter Spesialis Paru RSUD dr Abdul Rivai, Robert Christian Naiborhu, mengakui saat ini sudah tidak ada ruangan yang kosong sehingga tidak memungkinka

Tayang:
TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI
Ilustrasi Bupati Berau Sri Juniarsih memeriksa pasokan oksigen di Kabupaten Berau belum lama ini. Pasien positif covid-19 membludak, dikhawatirkan pasokan oksigen di RSUD dr Abdul Rivai tidak cukup. TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Dokter Spesialis Paru RSUD dr Abdul Rivai Berau, Robert Christian Naiborhu, mengakui saat ini sudah tidak ada ruangan yang kosong sehingga tidak memungkinkan untuk menampung pasien tambahan yang membutuhkan bantuan oksigen.

“Sudah tidak ada lagi slot oksigen sentral yang kosong. Semua sudah digunakan sama pasien,” ujarnya kepada TribunKaltim.co, Rabu (21/7/2021) kemarin.

Robert menjelaskan, stok oksigen di rumah sakit masih sanggup untuk disalurkan ke pasien, namun terkendala dengan nozzle yang menyalurkan dari tabung ke Non Rebreathing oxygen face mask (NRM) tidak ada.

Selain itu, dengan membludaknya jumlah pasien dengan gejala berat, membuat pihaknya harus menyediakan sekira 12 tabung untuk satu pasien per hari.

“Kami khawatir, si penyedia tabung oksigen tidak sanggup memenuhi kebutuhan RSUD sekarang,” bebernya.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Berau Melonjak, RSUD Abdul Rivai akan Tambah Ruang Isolasi

Robert menuturkan, mayoritas pasien saat ini membutuhkan suplai oksigen sekira 15 liter per menit.

Sedangkan, untuk ukuran tabung yang digunakan pihaknya hanya terisi sekira 900 hingga 1.000 liter.

“Dan itu akan habis tidak sampai satu jam,” tuturnya.

Robert mengemukakan dalam satu hari ada 5 pasien yang bertambah dengan gejala berat, maka RSUD harus menyediakan 60 tabung.

“Sebenarnya kami punya stok sekira 200 tabung. Tapi, untuk memindahkan tabung itu ke dalam ruangan juga sangat menyulitkan,” katanya.

Pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak ketiga sebagai penyedia tabung, tetapi pihak ketiga mengaku tak mampu harus menyuplai oksigen ke RSUD.

Baca juga: Zona Merah di Pedalaman Berau, Banyak Kasus Positif Covid-19 di Kampung Merabu

“Walaupun begitu, ada kendala lain lagi. Orang dari pihak ketiga itu hanya dua orang. Dan itu dibagi dua shift. Sangat tidak mungkin kalau kebutuhan tabung segitu banyaknya, diangkat oleh satu orang,” ucapnya.

Jika ruang isolasi ketambahan 10 pasien yang menggunakan NRM, maka penyedia harus mengantarkan 120 tabung ke ruang isolasi.

Robert mengatakan, saat ini ada sekira 42 pasien yang di rawat di ruang teratai, di mana 5 di antaranya menggunakan High Flow Nasal Cannula (HFNC), sisanya menggunakan NRM dari oksigen sentral.

“Untuk yang di ruangan tidak masalah dengan kebutuhan tabung. Tabung itu menjadi masalah bagi pasien yang akan masuk. Kalau yang di ruangan itu aman. Tapi yang jadi masalahnya ruangan penuh,” ungkapnya.

Menurut Robert, pasien yang membutuhkan bantuan oksigen 15 liter per menit, sangat tidak memungkinkan jika harus dipindahkan ke Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19.

“RSD itu 3 lantai. Siapa yang bisa angkat oksigen itu ke lantai atas. Itu bukannya ringan,” imbuhnya.

Untuk kondisi sekarang, pasien yang baru masuk dirawat di lorong-lorong ruang isolasi agar memudahkan petugas memonitor kondisi pasien.

“Mau tidak mau seperti itu,” tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved