Breaking News
Selasa, 21 April 2026

Virus Corona

KENALI Gejala dan Risiko Virus Corona Baru Varian Delta Plus yang Sudah Masuk ke Indonesia

Kenali gejala dan risiko varian baru Covid-19 Delta Plus yang sudah masuk ke Indonesia.

Freepik
Ilustrasi virus Corona. Kenali gejala dan risiko varian baru Covid-19 Delta Plus yang sudah masuk ke Indonesia. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lantas mendesak masyarakat di seluruh dunia yang telah divaksinasi penuh untuk tetap memakai masker.

Gejala Varian Delta Plus

Melansir MPNRC, Kamis (29/7/2021), sejumlah gejala umum yang ditimbulkan oleh varian Delta Plus adalah batuk kering, kelelahan, dan demam.

Semantara itu, gejala beratnya kurang lebih meliputi sesak napas dan sakit perut, yang tak jarang juga disertai dengan ruam kulit, perubahan warna jari kaki, sakit tenggorokan, anosmia, dan sakit kepala.

Hindustan Times juga melaporkan, Selasa (27/7/2021), ahli virologi India mengatakan bahwa varian Delta Plus memiliki beberapa gejala yang sama dengan varian Delta dan varian Beta

Lebih lengkapnya, berikut gejala yang sering muncul akibat infeksi virus corona varian Delta Plus:

1. Batuk
2. Diare
3. Demam
4. Sakit kepala
5. Ruam kulit
6. Perubahan warna jari tangan dan kaki
7. Nyeri dada
8. Sesak napas

Adapun gejala lain yang diidentifikasi oleh para ahli terkait varian Delta Plus adalah sakit perut, mual dan kehilangan nafsu makan.

Baca juga: APA KABAR BLT BPJS? Ini 6 Jenis Pekerja yang Dapat, Cek Penerima Login sso.bpjsketenagakerjaan.go.id

Risiko Varian Delta Plus

Varian Delta Plus telah ditetapkan sebagai varian of concern oleh WHO, sama seperti pendahulunya yakni varian Delta yang mudah menular dan kini mendominasi kasus di beberapa negara.

Penelitian lebih lanjut terhadap varian Delta Plus pun terus dilakukan, salah satunya oleh Indian SARS-CoV-2 Consortium on Genomics (INSACOG).

Berdasarkan temuan protein pada permukaan varian baru ini, berikut beberapa sifat atau risikonya.

1. Lebih mudah menular
2. Ikatan dengan sel di paru-paru lebih kuat
3. Berpotensi menurunkan respons antibodi monoklonal

Seorang ahli virologi dari Louisiana State University Health Science Center, Dr. Jeremy Kamil menjelaskan siapa saja yang paling berisiko terpapar varian Delta Plus.

Seperti orang yang sudah pernah terinfeksi virus corona di awal pandemi, yang belum mendapat vaksin, maupun yang belum mendapat vaksin secara lengkap, dengan gejala yang hampir sama dengan varian Delta.

Namun, karena sifatnya yang ketiga, varian Delta Plus berisiko membuat perawatan dengan obat-obatan antibodi monoklonal seperti actemra dan kevzara menjadi tidak terlalu efektif.

Meski begitu, belum ada bukti bahwa varian ini membuat angka positif Covdi-19 meningkat tajam, lantaran sejauh ini jumlah kasus yang ditemukan relatif masih lebih sedikit. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved