Rabu, 22 April 2026

Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Wabup Kutim Kasmidi Bulang Ngaku Menelepon Pasien Covid-19, ‘Ini Siapa’?

Kasmidi Bulang menyebutkan bahwa luasnya daerah hingga posisi Kutim yang menjadi tempat transit, menjadi salah satu penyebab tingginya kasus Covid-19

Penulis: Syifaul Mirfaqo | Editor: Adhinata Kusuma
TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE TRIBUNKALTIM OFFICIAL
Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang saat Talkshow Virtual VIP ROOM Tribun Kaltim dengan tema Desa Tanggung dan Penanganan Covid-19 di Kutim, pada Jumat (10/9/2021). 

TRIBUNKALTIM.CO - Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, sempat berkutat dalam status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4.

Hingga akhirnya pada 6 September 2021 lalu, Kutai Timur (Kutim) berhasil turun level PPKM.

Wakil Bupati Kutai Timur, Kasmidi Bulang menyebutkan bahwa luasnya daerah di Kutim hingga posisi Kutim yang menjadi tempat transit, menjadi salah satu penyebab tingginya angka terkonfirmasi Covid-19.

“Kami tidak ingin Kutim ini menjadi sorotan nasional, setelah masuk 30 besar (penyumbang kasus), angka yang meninggal atau fatality rate-nya juga tinggi di Kalimantan Timur kita masuk 3 besar,” kata Kasmidi saat talkshow virtual Tribun Kaltim VIP Room dengan tema “Desa Tangguh dan Penanganan Covid-19 di Kutim”, pada Jumat (10/9/2021).
Berbagai upaya dilakukan oleh Tim Satgas Covid-19 Kutim, mulai dari penyekatan jalan hingga pembatasan keluar masuk wilayah ini.

Berikut petikan wawancara eksklusif Wakil Peminpin Umum Tribun Kaltim, Ade Mayasanto bersama Kasmidi Bulang.

Sekitar Juni 2021, Kutim sempat di angka nihil kasus Covid-19, tapi tiba-tiba itu melonjak drastis bahkan menjadi salah satu penyumbang covid-19 terbesar di Kalimantan Timur, apa yang terjadi dengan Kutai Timur pak?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita ini sekarang lagi berjuang bersama, semua di dunia, negara, bangsa, kita yang ada di Kutai Timur. Begitu juga saudara-saudara yang ada di daerah lain.

\Kemarin memang Kutai Timur itu salah satu penyumbang angka terkonfirmasi tertinggi kasus Covid-19 ya selain saudara kami yang ada di Kukar, Samarinda, bahkan Balikpapan. Bahkan masuk nomor 3, masuk 30 besar dari kabupaten/kota se-Indonesia yang wajib melaksanakan isolasi terpadu waktu itu.

Jadi tidak bisa dipungkiri dengan luas wilayah Kutai Timur, terus juga menjadi wilayah persinggahan, baik yang dari utara ke selatan maupun dari selatan ke utara, ini salah satu daerah tempat lewatnya jalur-jalur transportasi ya.

Jadi mau ke Berau, mau ke Nunukan, mau ke Malinau itu jalur daratnya ada di situ. Tapi kami juga tidak menyalahkan itu semua, memang itu risiko daerah-daerah yang jadi tempat persinggahan.

Yang kedua kita memiliki luas wilayah dan juga jumlah penduduk terbesar ke empat di Kalimantan Timur. Ini juga pasti jadi model penyebaran tercepat ya.

Tapi Alhamdulillah setelah kami berkoordinasi dengan satgas covid bahkan dipimpin langsung oleh bapak Bupati, satgas terpadu ya, di dalamnya ada pak Kapolres, ada pak Dandim, dan lain-lain dari pangkat tertinggi yang ada di Kutai timur kami bahu-membahu.

Bahkan kami melakukan instruksi PPKM level 4 yaitu pengetatan dan juga pembatasan wilayah sehingga orang ini tidak dengan mudahnya masuk Sangatta, ke Kutai Timur harus lewat swab paling tidak anti gen, wajib.

Ketika terkonfirmasi, kami terpaksa masukkan ke isolasi mandiri atau kami suruh balik kanan, sehingga tidak bisa masuk ke Sangatta.

Itulah mengapa angka Covid kami sedang tinggi-tingginya pada Juni lalu.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved