Breaking News:

Gadis Kutim Ditemukan Meninggal

Ayah Juwanah Sebut Putrinya sebagai Tulang Punggung Keluarga, Minta Pelaku Dihukum Setimpal

Subandi, ayah Juwanah, mengaku sangat kehilangan putri kesayangannya itu. Sang istri juga tak henti-henti menangis di sampingnya. Bagi Subandi, Juwan

TRIBUNKALTIM.CO/ MOHAMMAD FAIROUSSANIY
Subandi, ayah korban Juwanah alias Julia (berbaju biru) dan ibu korban berada di sekitar kamar jenazah RSUD AW Syahranie, menunggu diambil DNA-nya oleh pihak forensik, Senin (27/9/2021) hari ini. Subandi menyebut putrinya sebagai tulang punggung keluarga. TRIBUNKALTIM.CO/ MOHAMMAD FAIROUSSANIY 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Subandi, ayah Juwanah, mengaku sangat kehilangan putri kesayangannya itu.

Sang istri juga tak henti-henti menangis di sampingnya. Bagi Subandi, Juwanah adalah tulang punggung keluarga.

Kedua orangtua korban Juwanah alias Julia (25) tampak hadir di kamar jenazah RSUD AW Syahranie, Senin (27/9/2021) tadi pagi untuk diambil DNA-nya (deoxyribonucleic acid).

Di sela-sela menunggu, reporter TribunKaltim.co bertemu dengan ayah korban Juwanah, Subandi.

Pria kelahiran Tulungagung tahun 1964, berharap pelaku dihukum setimpal sesuai perbuatannya.

Baca juga: BREAKING NEWS Gadis Muara Ancalong Kutim yang Hilang Ditemukan tak Bernyawa, Diduga Korban Kejahatan

Baca juga: FAKTA-FAKTA Kasus Julia Hilang 16 Hari, Sempat Viral di WhatsApp Sebelum Ditemukan jadi Tengkorak

Baca juga: Keluarga Juwanah Bantah Korban Pacaran dengan Pelaku yang Berprofesi sebagai Sopir Kantor

"Ya, hukumannya setimpal sesuai dengan perbuatannya (pelaku). Kalau perlu dipenjara seumur hidup," tutur Subandi sambil tersedu menangis saat diwawancarai, Senin (27/9/2021).

Dikatakan Subandi, mulai dari lulus sekolah, Juwanah pergi mencari kerja di Samarinda.

Anak satu-satunya ini juga menjadi tulang punggung keluarga, meskipun sang ayah juga bekerja di kampung.

"Dari lulus sekolah, bekerja dan sudah membantu perekonomian keluarga. Anaknya baik dan nurut," kata Subandi mengenang anaknya.

Semasa bekerja, Juwanah juga tidak lupa dengan kampung halaman.

Dia kerap memberi kabar, menyapa orang tua dan meminta doa agar pekerjaan yang digelutinya berjalan lancar.

"Setiap hari telpon, sehabis subuh telpon kami (orangtuanya)," ucap Subandi.

Saat ditanya kapan Subandi mendengar kabar hilangnya anak semata wayangnya ini, dia mengaku pada tanggal 6 September 2021 dari keluarga yang berada di Kota Samarinda.

Dia juga sempat melapor ke pihak kepolisian di Kota Samarinda perihal anaknya yang hilang.

"Saya pergi mencari pas tanggal 7 September 2021 ke Samarinda, keluarga juga mengabarkan hilangnya. Sempat melapor ke polisi, anak saya sudah tidak ada, jadi saya juga sempat menunggu 3 hari baru balik dulu ke kampung Muara Ancalong. Lalu dengar kabar sudah ketemu," jelas Subandi. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved