Jumat, 24 April 2026

Berita Nunukan Terkini

Kadisdikbud Nunukan Minta Luluskan Peserta PPPK Guru Gelombang Kedua

Khawatir nasionalisme guru honorer di perbatasan RI-Malaysia luntur, Kadisdikbud Nunukan, Junaidi minta pemerintah luluskan peserta PPPK kedua

Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/HO
Peserta PPPK di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan menuliskan curhatan agar dibaca oleh Presiden Jokowi, belum lama ini. TRIBUNKALTIM.CO/HO/ Frangky guru honorer 

TRIBUNKALTIM.CO,NUNUKAN- Khawatir nasionalisme guru honorer di perbatasan RI-Malaysia luntur, Kadisdikbud Nunukan, Junaidi minta pemerintah luluskan peserta PPPK gelombang kedua.

Junaidi mengatakan, jumlah keseluruhan guru honorer baik TK, PAUD, SD, dan SMP sebanyak 750 orang.

Sementara itu, pemerintah daerah mengusulkan 525 formasi guru PPPK dan yang disetujui oleh BKN hanya 461 formasi. Sedangkan yang lulus tes PPPK gelombang pertama hanya 88 orang.

"Jumlah guru honorer tingkat SD yang ikuti tes PPPK ada 293 orang dan tingkat SMP ada 28 orang. Itu total dari 21 kecamatan dan 17 wilayah daerah 3T," kata Junaidi kepada TribunKaltim.Co, Selasa (30/11/2021), pukul 14.30 Wita.

Junaidi menuturkan, hal itu sangat tidak adil bagi para guru honorer di perbatasan, khusunya Kabupaten Nunukan.

Baca juga: KISAH Haru Guru Perbatasan Indonesia-Malaysia Gagal Tes CPNS 2021, Tetap Tabah 18 Tahun jadi Honorer

Baca juga: Kedatangan 450 Personel TNI AD dari Perbatasan RI-Papua Nugini Disambut Peluk dan Ciuman Anak-Istri

Baca juga: UMK 2022 di Nunukan Segera Ditetapkan, Buruh Sawit di Perbatasan Minta Kenaikan Upah

Lantaran, untuk sampai ke lokasi tes saja, mereka harus keluarkan uang hingga Rp5 juta per orang. Belum lagi ujian PPPK yang sempat diundur dadakan, membuat peserta yang tidak mengetahuinya, lebih dulu berangkat ke Nunukan.

"Cukup miris kalau kita hitung pendapatan mereka per bulan dengan kos yang harus mereka keluarkan saat tes kemarin. Belum lagi saat tiba di Nunukan mereka harus bayar penginapan karena tidak punya keluarga. Sempat bolak-balik 4 kali naik pesawat karena ujian diundur dadakan," ucapnya.

Menjadi guru di perbatasan, kata Junaidi bukan lagi soal finansial, tapi nyawa taruhannya. Ada guru yang harus naik perahu menyusuri sungai agar bisa mengikuti tes PPPK.

Selain itu, gaji yang mereka peroleh disesuaikan dengan dana BOSDA. Dengan kata lain gaji guru honorer ditentukan dari jumlah siswa.

"Jadi malu sebenarnya kalau cerita gaji guru honorer di wilayah 3T. Jumlah siswa itu ada yang hanya puluhan saja satu sekolah. Gaji mereka ada yang Rp300 ribu per bulan. Insentif Rp250 ribu dari pemerintah daerah kalau dari provinsi Rp550 ribu," ujarnya.

Garuda di Dadaku, Ringgit di Dompetku

Itulah slogan yang diungkapkan Junaidi untuk menggambarkan situasi guru di perbatasan RI-Malaysia.

Ia khawatir, bila pemerintah acuh tak acuh dengan nasib guru di perbatasan, akan melunturkan nasionalisme mereka.

Apalagi jarak tempuh ke wilayah Malaysia, kata Junaidi hanya hitungan menit.

"Perbatasan ini riskan sekali karena hanya 15 menit sampai sudah di Malaysia. Harga diri bangsa perlu dijaga. Kehormatan bangsa ada di perbatasan," tuturnya.

Baca juga: Tegas Tolak Tambang, Walikota Balikpapan Rahmad Masud Soroti Tiga Wilayah Perbatasan

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved