Berita Internasional Terkini
Presiden Putin Diyakini Bakal Kalah dan Perang Usai! Begini Strategi Jitu yang Diungkap PM Inggris
Perdana Menteri Inggris mengumumkan enam poin rencana untuk menyetop invasi Rusia ke Ukraina dan mengalahkan Vladimir Putin.
TRIBUNKALTIM.CO - Perdana Menteri Inggris mengumumkan enam poin rencana untuk menyetop invasi Rusia ke Ukraina dan mengalahkan Vladimir Putin.
Dia mengatakan, dunia harus meningkatkan upaya baru untuk memastikan invasi Rusia ke Ukraina gagal.
"Tidaklah cukup untuk menyatakan dukungan untuk tatanan internasional berbasis aturan. Kita harus mempertahankannya dari upaya berkelanjutan untuk menulis ulang aturan dengan kekuatan militer," ujar Johnson.
Sebelumnya, 141 negara dalam Majelis Umum PBB menyetujui resolusi yang mengecam invasi Rusia ke Ukraina.
Baca juga: Vladimir Putin Berani Ancam Amerika Serikat, Deklarasikan Perang Jika Lakukan Hal Ini ke Rusia
Baca juga: NEWS VIDEO Senator AS Dikecam setelah Sebut Ingin Presiden Rusia Vladimir Putin Dibunuh
Baca juga: Terbaru! Investor Rusia Mundur, Begini Akhirnya Nasib Proyek Kereta Api Borneo di Kaltim
Meski demikian, Johnson meminta para pemimpin dunia untuk melakukan upaya baru dan terpadu untuk menyetop Putin.
Dilansir BBC, berikut enam poin rencana Johnson untuk mengalahkan Putin.
Para pemimpin dunia harus memobilisasi koalisi kemanusiaan internasional untuk Ukraina.
Para pemimpin dunia harus juga harus mendukung Ukraina dalam upayanya untuk menyediakan pertahanan diri.
Tekanan ekonomi terhadap Rusia harus ditingkatkan.
Komunitas internasional harus menolak "normalisasi” Rusia atas tindakannya di Ukraina.
Resolusi diplomatik untuk perang harus dilakukan, tetapi hanya dengan partisipasi penuh dari pemerintah sah Ukraina.
Harus ada kampanye cepat untuk memperkuat keamanan dan ketahanan di antara negara-negara NATO.
Johnson juga akan menyampaikan pesannya pada pertemuan dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte di Downing Street pada Senin (7/4/2022).
Pada Selasa (8/4/2022), ia akan menjamu para pemimpin negara-negara Eropa tengah yakni Republik Ceko, Hungaria, Polandia, dan Slovakia.
Kantor Perdana Menteri Inggris mengatakan, negara-negara Eropa Tengah tersebut sudah mengalami krisis kemanusiaan.
Pasalnya, lebih dari 1 juta orang telah melarikan diri dari Ukraina ke negara-negara tetangga hanya dalam 10 hari.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace memperingatkan Putin untuk tidak mengetes Inggris.
Dalam sebuah wawancara dengan Sunday Telegraph, Wallace mengatakan, sejarah dipenuhi dengan para pemimpin otoriter yang meremehkan Barat dan Inggris.
“Dia (Putin) jelas meremehkan komunitas internasional. Jika kita tetap bersatu dan menolak untuk diintimidasi maka saya yakin dia akan gagal,” sambung Wallace seperti dilansir Kompas.com.
Baca juga: NEWS VIDEO Negara G7 Termasuk Jepang Kembali Mengutuk Rusia atas Pengeboman Fasilitas Nuklir Ukraina
Keputusan NATO buat Presiden Ukraina meradang
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan kritik keras untuk NATO, Jumat (4/3/2022) malam
Kritik ini disampaikan atas penolakan terhadap zona larangan terbang.
Kritik ini dilayangkan Zelensky beberapa jam setelah NATO mengumumkan tidak akan campur tangan melalui udara atau darat karena takut menciptakan konflik dengan Rusia yang bisa meluas ke bagian lain Eropa.
Para pemimpin aliansi bertemu di Brussels, Jumat, setelah Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengatakan pada anggotanya, pihaknya telah menolak segala kemungkinan intervensi terhadap pasukan Rusia.
Pejabat Ukraina telah menyerukan zona larangan terbang, tapi para pemimpin NATO menolak, khawatir bisa memicu perang yang lebih besar.
Presiden Rusia Vladimir Putin, mengumumkan pada bulan lalu, memperingatkan agar negara-negara lain tak ikut campur.
"Kami memiliki tanggung jawab untuk mencegah perang ini meningkat di luar Ukraina," ujar Stoltenberg, Jumat, dikutip dari The New York Times seperti dilansir Tribunnews.com di artikel berjudul Duta Besar Rusia: Kami tidak Ingin Orang Ukraina Melihat Rusia Sebagai Musuh, Ini tidak Normal/
"Jadi, kami telah menjelaskan bahwa kami tidak akan mengambil gerakan di Ukraina, baik di darat maupun wilayah udara Ukraina."
Menciptakan zona larangan terbang di atas Ukraina akan membutuhkan pengerahan pesawat tempur NATO dan kemungkinan "menembak jatuh pesawat Rusia," ujarnya.
Baca juga: GAWAT! Percakapan 90 Menit Rusia dan Prancis Bocor, Keputusan Putin Bisa Bikin Ukraina Tambah Parah
Ia memperingatkan, hal itu bisa menyebabkan "perang penuh di Eropa, yang melibatkan lebih banyak negara dan lebih banyak penderitaan manusia."
Zelensky, berbicara dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial, mengkritik keputusan itu.
Menyebut KTT itu "lemah" dan "kalah".
Ia mengatakan pasukan Rusia menembaki warga sipil, daerah pemukiman, gereja, dan sekolah.
Zelensky menyebut keputusan untuk tidak membuat zona larangan terbang sama saja seperti "memberi lampu hijau" untuk lebih banyak pemboman.
"Semua orang yang akan mati mulai hari ini, mati karena Anda (NATO)," katanya berbicara pada pemimpin NATO.
"Karena kelemahanmu, karena perpecahan kalian."
Zelensky telah mengunggah banyak video, yang dirilis larut malam lewat media sosial, untuk mencari dukungan dari luar negeri.
Sementara ia telah merayakan sanksi besar yang dijatuhkan AS pada Rusia, ia juga berulang kali meminta para pemimpin Eropa agar memberikan bantuan militer tambahan.
Sekitar 20 negara, banyak yang merupakan anggota NATO dan Uni Eropa, menyalurkan senjata ke Ukraina.
NATO juga memindahkan peralatan militer dan 22.000 tentara tambahan ke negara-negara anggota yang berbatasan dengan Rusia dan Belarusia, untuk meyakinkan mereka dan meningkatkan pencegahan.
Duta Besar Rusia Tak Berharap Perang Dunia III Terjadi
Perang dunia ketiga menjadi ancaman nyata bagi dunia menyusul ketegangan militer Rusia dengan Ukraina.
Duta Besar Rusia Lyudmila Georgievna Vorobieva mengatakan pihaknya tidak berharap perang dunia ketiga betul-betul terjadi.
"Kami tidak ingin ada korban jiwa lagi dalam operasi militer khusus ini. Kami hanya ingin Ukraina menjadi tetangga yang baik bagi Rusia," kata Lyudmila saat wawancara di kediaman Kedubes Rusia, Jakarta, Kamis (3/3/2022).
Pemerintah Rusia menjamin warga sipil Ukraina bisa tinggal dengan aman dan nyaman dengan tidak ikut menjadi bagian dari pemerintah Kiev.
Dalam perspektifnya, rencana Ukraina menjadi bagian dari NATO menjadi ancaman bagi keamanan Rusia dalam jangka panjang.
"Operasi militer adalah upaya terakhir untuk mencegah perang yang lebih besar terjadi," imbuh Lyudmila.
Selengkapnya lanjutan wawancara eksklusif Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, dengan Duta Besar Rusia Lyudmila Georgievna Vorobieva:
Apa opini Anda mengenai aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat Rusia yang meminta stop war?
Itu adalah reaksi normal yang dilakukan setiap orang. Perang merupakan tragedi. Masyarakat Rusia memahami peperangan melanggar hukum global. Setiap keluarga menjadi korban dari perang.
Anda tahu saya akan mengatakan mungkin beberapa orang tidak tahu banyak tentang politik.
Dan tentu saja, orang memiliki hak untuk mengekspresikan perasaan mereka, tetapi saya dapat meyakinkan mayoritas orang Rusia mendukung Presiden Putin. Itu karena kami menginginkan perdamaian.
Kami ingin hidup damai dan menjaga stabilitas dengan negara tetangga yang baik. Kami tidak ingin orang Ukraina melihat Rusia sebagai musuh. Ini tidak normal apalagi kalau harus terjadi selamanya.
Dan jika Anda ingin menyalahkan seseorang atas apa yang terjadi, Anda harus menyalahkan Washington, Brussel dan Kiev yang melakukannya.
Negara Barat tidak ada upaya untuk mengubah Ukraina menjadi lebih baik. Mereka ingin Ukraina seperti kata Presiden Putin menjadi anti-Rusia.
Apa yang pemerintah Rusia harapkan dari pemerintah Indonesia untuk membantu menyelesaikan konflik ini?
Kami melihat Indonesia sebagai teman baik sejak lama. Kita mempunyai hubungan tradisional yang bagus sejak rezim Presiden Soekarno. Bahkan lagu Rayuan Pulau Kelapa di translate menggunakan bahasa Rusia.
Saat Presiden Soekarno mengunjungi Rusia, lagu Rayuan Pulau Kelapa menjadi soundtrack dari documentary kunjungan kerja beliau. Itulah sebabnya orang-orang Rusia mengetahui betul isi soal lagu tersebut.
Kondisi itu mencerminkan sentimen sangat hangat yang dimiliki orang-orang Rusia terhadap Asia, dan tentu saja, kami berharap situasi ini tidak akan mempengaruhi hubungan baik ini.
Kami selalu melihat tren positif hubungan Rusia dengan Indonesia apalagi perdagangan kami tumbuh hingga 40 persen.
Bagaimana reaksi pemerintah Rusia menghadapi sanksi ekonomi dari negara-negara barat?
Kami memiliki tingkat ketahanan cukup tinggi untuk menghadapi sanksi ekonomi dari negara barat. Bahkan kami sudah menerima sanksi tersebut sejak 2014.
Presiden Obama pernah mengatakan ekonomi kami akan lebih baik. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Tahun lalu di masa pandemi ekonomi kami berdasarkan Gross Domestic Product (GDP) sebesar empat persen.
Dan tentu saja, kami pikir sanksi yang diberikan mereka itu tidak sah. Menurut kami sanksi yang diberikan negara-negara barat berlebihan.
Karena dengan sanksi ini, mereka tidak hanya mencoba untuk menyakiti Rusia, tetapi mereka juga melukai diri mereka sendiri Eropa sangat bergantung pada Rusia untuk energi minyak dan gas.
Anda lihat apa yang terjadi dengan harga dunia sekarang. Mereka tidak berpikir secara logis.
Setelah dijatuhkan sanksi di tahun 2014, ekonomi Rusia harus beradaptasi dan bahkan kami tidak cukup dalam penyediaan produk makanan.
Kami kemudian membuat pusat agrikultur, pemerintah sangat serius mengembangkan sektor ini.
Sekarang kalau anda pergi ke pameran Rusia ada begitu banyak produk makanan yang diproduksi di Rusia dan lebih murah dan kualitas lebih baik.
Anda juga pasti tahu siapa pengekspor gandum terbesar di dunia.
Apakah saat ini masih ada keluarga Anda yang berada di Ukraina?
Setelah ayah saya meninggal belum lama ini. Sudah tidak ada lagi yang tinggal di sana. Jarak Rusia ke Ukraina tidak jauh mungkin hanya sejauh Jakarta ke Yogyakarta.
Kami memiliki sedikit perbedaan tapi pada dasarnya kami satu rumpun. Jadi kami ingin perdamaian dan stabilitas dipulihkan di Ukraina. Kami tidak ingin orang ukraina melihat kami sebagai musuh kami.
Kami tidak merasa bahwa ada ancaman yang datang dari Rusia. Dan sekali lagi jika ingin menyalahkan seseorang yaitu salahkan pengaruh Barat. Negara-negara Barat yang mencoba mengubah Ukraina menjadi anti-Rusia.
Apa yang bisa Anda jelaskan mengenai munculnya ledakan kota Kiev hari ini dan kemarin?
Saya tidak memiliki wawasan cukup luas karena bukan bagian dari militer. Tetapi saya mencoba mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Rusia bahwa pasukan militer di luar Kiev menjadi sasaran senjata dari Ukraina.
Kita juga tahu fakta bahwa pemerintah Kiev memiliki akun YouTube, banyak penjahat yang dibebaskan dari penjara. Kita tahu bahwa Angkatan Darat Ukraina menggunakan warga sipil untuk dijadikan tameng mereka.
Seperti yang saya katakan, kami tidak menargetkan warga sipil. Kami ingin menyelamatkan lebih banyak warga sipil bahkan orang militer.
Jika mereka siap untuk meletakkan senjata mereka dan menyerah. Mereka bisa kembali ke keluarga mereka. Mereka tidak akan dianiaya.
Kami tidak ingin ada korban jiwa lagi dalam operasi militer khusus ini. Kami hanya ingin Ukraina menjadi tetangga yang baik bagi Rusia.
Pemerintah Rusia menjamin warga sipil Ukraina bisa tinggal dengan aman dan nyaman dengan tidak ikut menjadi bagian dari pemerintah Kiev.
Kami tidak menginginkan perang ini terjadi. Kami menginginkan perdamaian dan operasi militer adalah upaya terakhir untuk mencegah perang yang lebih besar terjadi.
Karena apa yang kami lihat di Ukraina, merupakan ancaman bagi keamanan kami dan dalam jangka panjang, ancaman bagi keamanan Eropa.
Kami tidak ingin ini terjadi. Kami menggunakan cara diplomatik selama bertahun-tahun. Kami meminta Barat untuk bersikap realistis. Mereka tidak mau.
(*)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.