Berita Internasional Terkini

Telepon Joe Biden Ditolak Pemimpin Arab Saudi dan UEA, AS Khawatir Harga Minyak Imbas Perang Rusia

Telepon Presiden Amerika Serikat Joe Biden ditolak pemimpin Arab Saudi dan UEA, Amerika Serikat khawatir harga minyak dunia imbas perang Rusia-Ukraina

Twitter Mohamed bin Zayed
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohamed bin Zayed. Telepon Presiden Amerika Serikat Joe Biden ditolak pemimpin Arab Saudi dan UEA, Amerika Serikat khawatir harga minyak dunia imbas perang Rusia-Ukraina. 

TRIBUNKALTIM.CO - Telepon Presiden Amerika Serikat Joe Biden ditolak pemimpin Arab Saudi dan UEA, Amerika Serikat khawatir harga minyak dunia imbas perang Rusia-Ukraina.

Melonjaknya harga minyak dunia imbas perang Rusia - Ukraina membuat Amerika Serikat khawatir.

Amerika Serikat pun menghubungi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: Rusia vs Ukraina: Ancaman Perang Nuklir Vladimir Putin, Serius atau Hanya Gertakan Sambal?

Namun para pemimpin de-facto Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menolak mengatur panggilan dengan Presiden AS Joe Biden dalam beberapa pekan terakhir di saat AS berusaha menahan lonjakan harga minyak yang disebabkan invasi Rusia ke Ukraina.

Mengutip pejabat Timur Tengah dan AS, Wall Street Journal melaporkan, baik Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Sheikh Mohammed bin Zayed al Nahyan dari UEA tidak tersedia untuk permintaan diskusi dari Biden.

“Ada beberapa harapan dari panggilan telepon, tetapi itu tidak terjadi,” kata seorang pejabat AS tentang rencana Pangeran Saudi Mohammed dan Biden untuk berbicara.

“Itu adalah bagian dari menyalakan keran (minyak Saudi).”

Pekan lalu, OPEC+, yang juga mencakup Rusia, menolak meningkatkan produksi minyak meskipun ada permintaan dari Barat.

Dilansir The Guardian, laporan tegangnya komunikasi dengan pemimpin Arab terjadi di saat AS berusaha meningkatkan pasokan minyak setelah secara resmi melarang impor minyak dari Rusia pada Selasa (8/3/2022).

Hal ini menyebabkan harga minyak melonjak ke $130 per barel, level tertinggi dalam 14 tahun.

Di saat yang sama, AS untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun membuka saluran diplomatik dengan Venezuela, sekutu Rusia yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Venezuela membebaskan dua orang Amerika dari penjara, mengindikasikan isyarat baik terhadap pemerintahan Biden serta permintaan meningkatkan produksi minyak guna meredakan lonjakan harga.

Baca juga: Siap Tempur, 15 Kapal Perang Rusia Siap Hadang 2 Kapal Perusak AS yang Sudah Masuk ke Laut Baltik

Diketahui, hubungan AS dan Arab Saudi mendingin karena kebijakan Biden di kawasan Teluk.

Isu-isu yang menyebabkan renggangnya hubungan kedua negara ini meliputi kesepakatan nuklir Iran, kurangnya dukungan AS terhadap intervensi Saudi di Yaman, dan penolakan menetapkan Houthi sebagai kelompok teroris.

Selain itu, kurangnya bantuan AS terhadap program nuklir Saudi hingga kasus Pangeran Mohammed terkait pembunuhan Jamal Khashoggi juga berperan.

Selama kampanye, Biden bersumpah untuk memperlakukan kerajaan itu sebagai negara "paria", dengan mengatakan "sangat sedikit nilai penebusan sosial dalam pemerintahan saat ini di Arab Saudi."

Presiden AS Joe Biden berbicara tentang operasi kontraterorisme di Suriah dari Ruang Roosevelt Gedung Putih di Washington, DC, pada 3 Februari 2022
Presiden AS Joe Biden berbicara tentang operasi kontraterorisme di Suriah dari Ruang Roosevelt Gedung Putih di Washington, DC, pada 3 Februari 2022 (SAUL LOEB / AFP)

Awal pekan ini, juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan tidak ada rencana bagi Biden dan Pangeran Mohammed untuk segera berbicara.

Biden, kata Psaki, juga tidak memiliki rencana mengunjungi Riyadh.

Yousef Al Otaiba, duta besar UEA untuk AS, mengkonfirmasi hubungan yang tegang antara kedua negara.

“Hari ini, kami akan menjalani tes stres, tetapi saya yakin kami akan keluar dari sana dan mencapai tempat yang lebih baik,” prediksi Al Otaiba.

Arab Saudi dan UEA dianggap sebagai satu-satunya pemasok global yang memiliki kapasitas untuk memompa lebih banyak minyak untuk mengurangi lonjakan harga.

Pejabat senior AS dengan dewan keamanan nasional dan departemen luar negeri telah melakukan perjalanan ke Riyadh dan Abu Dhabi dalam beberapa pekan terakhir sebagai perwakilan langsung AS.

Wall Street Journal melaporkan bahwa Biden telah berbicara dengan ayah Pangeran Mohammed, Raja Salman, pada 9 Februari lalu.

Pada panggilan itu, mereka menegaskan kemitraan strategis dan ekonomi negara mereka.

Baca juga: Rahasia Besar Ukraina dan AS Terbongkar? Rusia Klaim Punya Bukti Program Senjata Biologis Berbahaya

Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan panggilan Biden dan Sheikh Mohammed akan dijadwal ulang.

AS berusaha menggalang dukungan internasional untuk Ukraina karena beberapa negara tetap netral mengenai invasi Rusia.

Washington berpotensi melihat Iran, Arab Saudi dan Venezuela untuk pembicaraan minyak setelah memotong impor minyak Rusia.

Namun Arab Saudi dan UEA mengatakan tidak akan memproduksi lebih banyak minyak daripada yang disepakati oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak yang dipimpin Rusia, lapor WSJ. (*)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pemimpin Arab Saudi dan UEA Menolak Telepon dari Biden yang Khawatir Soal Harga Minyak Dunia

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved