Berita Internasional Terkini
Sampai Kapan Perang Rusia - Ukraina akan Berlangsung? Prediksinya, Langkah Zelensky dan Putin
Sampai kapan perang perang Rusia - Ukraina akan berlangsung? Prediksinya, langkah Volodymyr Zelensky dan Vladimir Putin.
TRIBUNKALTIM.CO - Sampai kapan perang Rusia - Ukraina akan berlangsung?
Simak prediksinya terkait perang Rusia - Ukraina.
Bagaimana dengan kelanjutan langkah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Hingga saat ini, perang Rusia - Ukraina masih terus berlangsung.
Perang Rusia - Ukraina bermula dari 24 Februari 2022 kemarin.
Selama perang dengan Ukraina, Rusia menghadapi perlawanan yang lebih keras dan biaya yang lebih tinggi daripada yang dibayangkan Kremlin.
Namun tampaknya, pemimpin Rusia masih tidak terpengaruh dalam upaya mewujudkan ambisinya.
Satu bulan sejak perang Rusia- Ukraina, Moskwa menghadapi kerugian militer yang besar dan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi progresnya relatif sedikit di medan tempur.
Para Analis Barat mengatakan, berbagai faktor termasuk perubahan musim bahkan penerimaan wajib militer baru Rusia yang akan datang, dapat mendorong Vladimir Putin untuk menekan perang Rusia Ukraina selama berbulan-bulan mendatang.
Baca juga: UPDATE Perang Rusia vs Ukraina, Dibuat Menderita, Ukraina Klaim Akan Hancurkan Kapal Militer Rusia
Banyak analis Barat dan sumber keamanan yang berbicara dengan AFP mengatakan tujuan utama Rusia tetap menguasai seluruh Ukraina hingga perbatasan Polandia.
Namun demikian, kini ada kemajuan militer yang terhenti di lapangan dapat mendorongnya untuk mengejar penyelesaian yang dinegosiasikan.
Dan selanjutnya, Rusia mencari konsesi kecil dari Kyiv yang kemudian dapat diklaim Moskwa sebagai kemenangan.
Dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com, salah satu tujuan awal Kremlin yang tampaknya ditunda untuk saat ini adalah penggulingan langsung Presiden Volodymyr Zelensky.
Seruan untuk perubahan rezim sekarang jarang terlihat dari pernyataan Kremlin.
"Rencana awal, yang mungkin merupakan perang kilat untuk menguasai Kyiv dengan sangat cepat dan menjatuhkan pemerintah Ukraina, tidak berhasil," kata Marie Dumoulin direktur program Wider Europe di European Council on Foreign Relations (ECFR).
"Hasil yang paling mungkin sekarang adalah Putin akan mengintensifkan upayanya dan beralih ke strategi perang kotor untuk meningkatkan korban jiwa bagi Ukraina dan memaksa mereka menyerah," tambahnya.
"Penghancuran dan hukuman"
Baca juga: RESPON Amerika dan Inggris Saat Ukraina Ledakkan Kapal Rusia, Tengok Nasib Tangki BBM 3 Ribu Ton
Perlawanan Ukraina yang gigih dan kerugian besar yang ditimbulkan pada Rusia--yang selama berminggu-minggu tidak mengungkapkan korban tewas di pihak militer--berarti perang ini sangat berbeda dari operasi untuk mencaplok Crimea pada 2014, dan intervensi tahun 2015 di Suriah.
Saluran negosiasi terbuka sementara ini. Volodymyr Zelensky mengatakan, dia siap berbicara dengan Vladimir Putin.
Delegasi Rusia dan Ukraina juga mengadakan beberapa putaran pembicaraan di Belarus, dan Turki siap untuk turun tangan sebagai mediator.
Rusia belum dapat mengambil langkah-langkah seperti penggunaan senjata kimia atau menargetkan konvoi kemanusiaan, kata para analis.
Faktor penting lainnya adalah jika pasukan dari sekutu Rusia yaitu Belarus memasuki perang dalam upaya menggoyahkan keseimbangan di front utara.
"Putin masih berpikir tidak akan berlanjut seperti ini dan dia akan memaksakan kehendaknya dengan apa pun perlawanannya," kata Frederic Charillon profesor hubungan internasional di Clermont Auvergne University.
Dihadapkan dengan kesulitan tentara Rusia di lapangan dan sanksi terhadap Rusia, Putin "bagaimanapun semakin bergerak ke arah perang kehancuran dan hukuman," tambahnya.
"Pertanyaannya bukanlah apa yang ingin dia dapatkan, tetapi bagaimana dan seberapa risikonya," kata Tatiana Stanovaya pendiri firma analisis R.Politik dan peneliti di Carnegie Moscow Center.
Baca juga: Update Perang Rusia vs Ukraina: Hari ke 30, Daftar Peristiwa Penting yang Terjadi hingga Kini
"Ini akan memakan waktu, akan menyebabkan lebih banyak masalah, tetapi dia yakin bahwa dia tidak punya pilihan dan dia sedang dalam misi bersejarah" untuk memulihkan pengaruh Rusia.
Netralitas Ukraina tidak cukup bagi Putin
Tuntutan teritorial dari Rusia--selain Ukraina menjauh dari NATO--kemungkinan besar adalah pengakuan Ukraina atas Crimea sebagai bagian dari Rusia, dan wilayah Donetsk serta Luhansk yang memisahkan diri sebagai wilayah merdeka.
Rusia juga ingin menguasai wilayah di tenggara Ukraina--dan terutama kota Mariupol yang terkepung--untuk menghubungkan Crimea dengan Rusia melalui jalur darat.
Pasukannya kemudian bisa menekan ke arah barat ke kota pelabuhan Odessa di Laut Hitam.
Zelensky mengatakan, status Crimea dan negara bagian pro-Moskwa yang memisahkan diri dapat didiskusikan, tetapi dengan ketentuan setiap perubahan besar perlu dimasukkan ke dalam referendum.
Kerugian Rusia yang meningkat dapat menempatkan Putin di bawah tekanan domestik, tetapi sejauh ini belum ada tanda-tanda perpecahan kritis di dalam elite Rusia.
"Kunci bagi Putin adalah kekuatan, tekanan, dan kemenangan," kata Abbas Gallyamov, mantan penulis pidato Kremlin yang sekarang menjadi konsultan politik.
"Dia tidak bisa mundur tanpa memiliki sesuatu untuk ditunjukkan.
"Dia membutuhkan kesepakatan tentang netralitas Ukraina. Tapi ini jelas tidak cukup.
Dia juga menginginkan pengakuan Crimea dan republik separatis pro-Rusia Luhansk dan Donetsk."
Baca juga: Presiden AS Joe Biden Perbaharui Peringatan kepada China agar Tidak Membantu Rusia di Ukraina
(*)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/sampai-kapan-perang-rusia-ukraina-akan-berlangsung-prediksinya-langkah-zelensky-dan-putin.jpg)