Berita Internasional Terkini
NATO Terpecah 2 Kubu, Perancis-Jerman Ingin Rusia-Ukraina Damai, Polandia cs Tak Percaya Putin
Meskipun menunjukkan kompak di depan umum, di belakang layar blok keamanan NATO terbelah menyikapi konflik Ukraina.
TRIBUNKALTIM.CO - Perang Rusia - Ukraina masih terus berlanjut, sementara upaya perundingan damai juga masih terus ditempuh.
Upaya perundingan terakhir dilakukan di Turki, yang membawa sedikit hasil positif.
Namun perang belum berakhir. Sanksi yang diberikan Amerika Serikat, Uni Eropa dan sejumlah negara juga masih dirasakan Rusia.
Baca juga: AKHIRNYA Rusia dan Ukraina Mulai Dapat Titik Temu Perundingan di Turki, Putin dan Zelenssky Bertemu?
Baca juga: Babak Baru Perang Rusia vs Ukraina, Vladimir Putin & Volodymyr Zelensky Bakal Saling Berhadapan
Meskipun menunjukkan kompak di depan umum, di belakang layar blok keamanan NATO terbelah menyikapi konflik Ukraina.
Media ternama Bloomberg melaporkan masalah ini mengutip dokumen dan sumber anonim yang disebut akrab dengan elite anggota NATO.
Laporan Bloomberg dikutip Sputniknews, Rabu (30/3/2022).
Anggota NATO terbelah antara kelompok yang ingin berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dan kelompok lain yang ingin memaksakan Ukraina terus melawan Rusia.
Termasuk pernyataan nyata Presiden AS Joe Biden (meskipun kemudian dikoreksi) untuk "perubahan rezim" di Moskow.
Kelompok yang ingin perundingan damai diwakili Prancis dan Jerman.
Mereka percaya dialog harus berlanjut dan kesepakatan gencatan senjata dicapai antara Rusia dan Ukraina.
Kelompok lain menurut sumber Bloomberg, bersikap Putin tidak dapat dipercaya dan dengan demikian pembicaraan tidak boleh diadakan dengannya.
Perbedaan posisi kedua kelompok telah terlihat di berbagai titik dalam retorika resmi, seperti ditunjukkan Bloomberg.
Kanselir Jerman Olaf Scholz menyerukan agar perjanjian NATO-Rusia yang mengatur penempatan pasukan tetap berlaku.
Baca juga: Kremlin Bantah Roman Abramovich Diracun, Peran Bos Chelsea dalam Negosiasi Rusia-Ukraina di Turki
Berlin percaya tindakan itu mungkin masih berguna, sementara yang lain menunjukkan fakta membatalkannya tak akan menghentikan operasi Rusia.
"Prioritas tertinggi untuk saat ini adalah dapat mencapai gencatan senjata sehingga pembunuhan dapat dihentikan," kata juru bicara Scholz tentang posisi Berlin di Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/polisi-ukraina-31322.jpg)