Ekonomi dan Bisnis

Pemerintah dan Pertamina Jaga Daya Beli Masyarakat

Di tengah melonjaknya harga minyak mentah dunia sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina, Pemerintah dan Pertamina terus menjaga daya beli

Penulis: Niken Dwi Sitoningrum | Editor: Budi Susilo
HO/PERTAMINA
ILUSTRASI Pengisian BBM di salah satu SPBU milik PT Pertamina (Persero). 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Di tengah melonjaknya harga minyak mentah dunia sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina, Pemerintah dan Pertamina terus menjaga daya beli masyarakat agar perekonomian tetap tumbuh.

Pemerintah telah memutuskan terus membantu masyarakat dengan menetapkan Pertalite sebagai Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP), agar harganya tetap terjangkau di kisaran Rp7.650 per liter. Begitu juga dengan biosolar harganya disubsidi Pemerintah sehingga tetap Rp 5.150 per liter. 

Sebagai BUMN, Pertamina juga berkontribusi nyata untuk menjaga daya beli masyarakat dengan menyesuaikan harga Pertamax yang masih jauh di bawah harga keekonomiannya yang sekitar Rp16.000.

Dengan penyesuaian menjadi Rp12.500 per liter, maka Pertamina masih menanggung selisih harga jual Pertamax sebesar Rp3.500 per liter.

Baca juga: Pertamina Pastikan Stok Pertalite di Kalimantan Aman hingga 10 Hari ke Depan

Baca juga: Pertamina Jamin Ketersediaan Pasokan Pertalite di Kalimantan dan Pastikan Harga Jual Tetap

Baca juga: Soal Isu Kelangkaan Pertalite di Balikpapan, Pertamina Bantah Batasi Stok ke SPBU

Pertamina menyadari, di tengah kondisi global saat ini, tetap harus menjadi katalisator dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satunya dengan menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan memastikan kemampuan keuangan perusahaan dalam rangka menjamin suplai BBM kepada seluruh masyarakat sampai ke pelosok negeri. 

Besaran penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan Pertamina mendapat apresiasi dan dinilai banyak pihak telah mempertimbangkan masyarakat karena masih jauh dari nilai keekonomian.

Pasalnya, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina menyadari kondisi daya beli masyarakat, sehingga tidak menjual harga BBM Non Subsidi dengan harga tinggi, mengambil batas atas sebagaimana yang ditentukan dalam formulasi penentuan harga BBM Umum.

Secara historis, selama ini pun harga BBM Pertamina selalu kompetitif atau selalu lebih rendah dibanding SPBU lain yang beroperasi di Indonesia. 

Dapat dibandingkan ketika harga Pertamax (RON 92) dilakukan penyesuaian, maka harga BBM sejenis yang dijual SPBU lain harganya jauh di atas Pertamina, bahkan sampai lebih dari Rp16.000 per liter. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved