Berita Internasional Terkini
Ningen, Misteri Raksasa Antartika Mirip Manusia Setinggi 30 Meter, Terbuat dari Organisme Buatan?
Di Antartika konon ada makhluk mirip manusia yang berpostur raksasa dan berwarna putih bernama Ningen.
TRIBUNKALTIM.CO - Ningen, misteri eaksasa Antartika mirip manusia setinggi 30 meter, benarkah terbuat dari organisme buatan?
Ningen hingga kini masih menjadi misteri.
Makhluk Antartika ini disebut-sebut pernah dilihat dua kali oleh manusia.
Namun, hingga kini belum ada foto atau video yang jelas tentang Ningen ini.
Baca juga: Apa Itu Asteroid? Lengkap Pengertian, Ciri-ciri dan Kejadian Mengerikan yang Pernah Terjadi di Bumi
Baca juga: Apa Itu Pink Moon? Fase Bulan Purnama Terjadi 17 April 2022, Jadwal dan Wilayah yang Dapat Mengamati
Di Antartika konon ada makhluk mirip manusia yang berpostur raksasa dan berwarna putih bernama Ningen.
Dikutip dari Inf.news, Ningen mirip dengan manusia. Kulitnya halus, dapat berdiri dan berjalan dengan kedua kaki, dan memiliki lima jari pada masing-masing kakinya.
Tubuhnya menjulang setinggi 20-30 meter dan dikabarkan sempat terlihat dua kali oleh manusia.
Asal-usulnya tidak diketahui. Ada yang menyebut Ningen makhluk hidup, tetapi ada juga yang bilang dia makhluk buatan manusia, berasal dari luar planet, atau dari dasar Bumi.
Majalah Mu di Jepang yang membahas fenomena supernatural pada November 2007 menduga, Ningen adalah organisme buatan yang diam-diam diproduksi ilmuwan Jepang dan ditempatkan di Antartika.
Saat itu beberapa orang curiga dengan proyek penelitian paus oleh Pemerintah Jepang dan meyakini Ningen merupakan makhluk baru yang diciptakan para ilmuwan.
Ningen pun diduga sempat muncul di Google Maps yang tampak seperti lumba-lumba.
Hingga kini belum ada foto dan video yang secara jelas memperlihatkan bentuk Ningen, dan Pemerintah Jepang belum memberikan tanggapan yang pasti.
Berikut ini adalah laporan dua saksi mata yang mengaku telah melihat Ningen.
Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan jika Tidak Dapat Masuk ke Akun Google Anda di Mac
Saksi pertama
Pada Februari 1992, sebuah kapal nelayan asal Chile berlayar di perairan Selat Drake di ujung selatan Argentina yang sangat dekat dengan ujung utara benua Antartika.