Kamis, 7 Mei 2026

Berita Berau Terkini

Suspek PMK pada Hewan Ternak Sapi di Berau, Masih Menunggu 2 Rujukan Lab

Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, mengambil sample darah kepada sejumlah hewan yang berada di penampungan Sapi

Tayang:
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Budi Susilo
HO/PEMKAB BERAU
Distanak Berau melakukan pengambilan sampel untuk suspek PMK. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, mengambil sample darah kepada sejumlah hewan yang berada di penampungan Sapi, sebelum didistribusikan kepada para pemilik.

Dokter Hewan Distanak Berau, Iwan menjelaskan pengambilan sampel darah memang sudah rutin dilakukan sebelum adanya isu Penyakit Mulut dan Kuku.

Namun, kali ini pihaknya fokus untuk mengetahui dugaan, kasus PMK yang infonya mulai tersebar di Kabupaten Berau.

“Kami belum bisa mengatakan bahwa itu PMK, masih ambil sampel darah dan tanah. Hasilnya bisa diketahui setelah ada hasil lab, dan memerlukan waktu,” jelasnya kepada TribunKaltim.co, Senin (6/6/2022).

Baca juga: Wakil Bupati Berau Gamalis Tinjau Jalan Alternatif Untuk Penutupan Jembatan Sambaliung

Baca juga: Wisata Taman Sungai Dumaring Berau Siapkan Fasilitas Menarik untuk Pengunjung Dalam dan Luar Negeri

Baca juga: Tidak Mengantongi KTP di Berau Bukan Halangan Dapatkan Vaksinasi

Adapun sampel yang diambil, merupakan sampel hewan yang berasal dari daerah yang diperbolehkan untuk mendatangkan sapi. Seperti daerah Sulawesi Selatan dan NTT. Sedangakan dari Pulau Jawa, sudah tidak diperbolehkan lagi.

Sebelum dilakukan pengambilan sampel darah, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan lainnya, terutama pada fisiknya.

Iwan mengakui, hingga saat ini, belum ada hewan sapi yang terlihat sakit, maupun terdapat luka di mulut, lidah maupun kuku hewan sapi.

Adapun sampel darah tersebut, dikirim ke Balai vetiriner yang berada di Banjar. Jika hasil tersebut positif, maka akan diberikan rujukan untuk dikirim ke lab yang berada di Surabaya.

Jika hasil dari satu lab menghasilkan negatif, maka hewan tersebut aman. Dan bisa diambil oleh para pelaku usaha. Untuk saat ini, sapi sangat diperlukan untuk keperluan Idul Adha.

Jika terdapat kasus PMK, nantinya akan masuk ke kawasan zona merah. Namun, Iwan menegaskan, sapi yang masuk ke Berau, sudah menjalani karantina selama 14 hari sebelum masuk ke Berau.

Baca juga: Ketentuan Baru, Harga TBS Sawit di Berau Ditetapkan Dua Kali Sebulan Mulai Juni 2022

“Sapi itu kan dikarantina dulu, setelah karantina, masuk dari Balikpapan dan ke Berau, itu kebanyakan yang dari darat. Kalau dari perairan, masuk ke Berau langsung, tapi sudah dikarantina di Sulawesi dan NTT,” ungkapnya.

Iwan menegaskan, saat ini, untuk mengawasi hewan ternak tersebut, harus langsung diawasi oleh pemilik kandang atau pemilik hewan langsung. Begitu juga kebersihan kandang harus bisa terjaga. Dengan penggunaan disinfectant rutin.

Sementara mengenai hasil lab, masih harus menunggu antrian. Dan kedepannya, pihaknya juga akan melakukan tes kembali, pada sapi yang datang.

Untuk pengambilan sampel darah, juga paling tidam membutuhkan waktu satu hari penuh. Sebab, tidak bisa dalam satu waktu, melakukan banyak pengambilan sampel.

“Karena PMK ini bisa ditularkan dari manusia juga, kami bisa jadi media untuk menularkan, karena ada pengaruh tipuan angin, jadi jarak 10 kilometer, masih bisa menyebar,” tegasnya.

Meski begitu, jika nantinya terdapat kasus PMK, penyakit tersebut masih bisa diobati. Hewan ternak akan diisolasi dan diobati. Tergantung kembali, pada tingkat daya tahan dari hewan yang terkena penyakit.

Jika hewan telah sakit lama, maka akan jauh lebih sulit untuk pengobatan. Namun, Iwan menegaskan hewan yang terkena PMK masih bisa dikonsumsi.

“Kalau yang kena hewan di RPH, itu masih bisa dipotong, kalau punya peternak, maka kami akan diobati. Kita tunggu hasil labnya,” tutupnya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmaveg Distanak Berau, I Putu Setion mengatakan pihaknya masih kesulitan untuk menghitung stok pasti hewan persipn menjelang idul adha.

Saat ini, mereka hanya bisa menunggu hewan yang datang setelah karantina, untuk memastikan hewan dalam kondisi baik.

Di lapangan, pihaknya juga memantau harga sapi yang beredar semakin tinggi lantaran stok tidak banyak, dan biaya karantina mahal.

“Kami dapat laporan dari pelaku usaha, biaya karantina mahal, karena peternak lah yang mempersiapkan biaya makan dan lainnya. Sekarang sapi ada disekitaran Rp 25 juta,” tegasnya.

Sementara itu, sesuai data dari pihaknya, kebutuhan rerata sapi untuk idul adha mencapai 1.031 per tahunnya. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved