Rabu, 13 Mei 2026

Berita Kaltim Terkini

Potensi Mangrove di Kaltim dari Segi Wisata dan UMKM Warga Sekitar Pesisir

Dalam webinar "Satu Mangrove untuk Masa Depan Kalimantan Timur" yang digelar Senin (13/6/2022) dengan hadir akademisi

Tayang:
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
YouTube TribunKaltim
Tangkapan Layar Webinar Tribun Kaltim dan Tribun Kaltara, Peneliti Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Unmul, Dr. Erwiantono saat menerangkan potensi kawasan Mangrove. 

Meski demikian, tim peneliti pihaknya, lanjut Erwin, juga menilai memang hal ini baik untuk ketika melihat kinerja finansial.

Tanjung Batu tahun 2019 silam ketika baru dibuka memang cukup viral dan selain membawa manfaat termasuk juga membawa sampah yang mengganggu ekosistem mangrove.

Pentas webinar
Pentas webinar "Satu Mangrove untuk Masa Depan Kalimantan Timur" yang digelar Senin (13/6/2022) pagi. (YouTube TribunKaltim)

"Di sisi lain Kampung Tanjung Batu juga ada kearifan lokal yang bisa kita revitalisasi yang kita ambil substansi pesannya lalu kita bisa lakukan re-desain sehingga kemudian lebih relevan dengan kekinian yang intinya adalah bahwa masyarakat itu punya modal sosial hidup selaras dengan dengan alam," terang Erwin.

Melihat itu, Erwin tak menampik bahwa bisa memanfaatkan kawasan mangrove menjadi ekowisata yang muaranya ke pendapatan daerah.

Beberapa riset juga dilakukan, pesan yang diperoleh oleh wisatawan sendiri untuk kawasan Tanjung Batu angka kepuasan terhadap layanan wisatanya 74, angka yang menurut Erwin cukup baik.

Tetapi, pihaknya mempunyai beberapa catatan prioritas utama atau apa yang perlu diperbaiki antara lain kualitas pelayanan.

Pengoptimalan story telling yang belum optimal, termasuk hospitality dan layanan-layanan pendukung lain.

Sehingga para wisatawan yang datang itu, bersedia kembali atau belum bersedia datang kembali atau belum juga bersedia merekomendasikan kepada orang lain untuk datang ke destinasi wisata yang dikelola.

"PIM Tanjung Batu ini, kalau kita petakan ternyata memang pengelolaan di Tanjung Batu ini dia di skemanya agresif artinya kekuatannya lebih besar daripada kelemahan dan kemudian tantangannya lebih besar daripada ancamannya," beber Erwin.

Modal yang baik ini tentu perlu mengoptimalkan ekosistem, sebagai mesin penggerak ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Tentu pihaknya mencoba menyusun prioritas strategi, model pengelolaan berkelanjutan dengan pengembangan berkelanjutan harus mampu menyelesaikan permasalahan ekologis geofisik dan permasalahan kelembagaan baru kemudian masuk sebagai unit usaha yang kompetitif.

"Karena pengetahuan kami memang tidak ada pemberdayaan tanpa ekonomi hijau yang berputar, demikian dan tidak bisa terus-menerus menerapkan bantuan tentunya harus menjadi unit bisnis yang kompetitif sehingga diperlukan model bisnis," tandas Erwin.

"Mitra-mitra diperkuat, aktivitas utama menjual ekowisata, fasilitas pendukung diperbaiki, dan kualitas SDM pengelola serta pemandu," imbuhnya

Landscape Mangrove unik juga secara ekologis akan diperkuat dengan story telling agar masyarakat atau wisatawan yang datang mengetahui bukan hanya datang melihat hutan tetapi mendapat pesan serta sadar manfaat adanya mangrove.

Di resources bisa optimal, adanya tourist information, website, media sosial, produk ekonomi kreatif, dilengkapi foto juga.

Potensi ini juga harus ada dukungan daerah, wisatawan lokal dan mancanegara bisa juga terus repeat order datang ke kawasan ini.

"Produk UMKM juga bisa berkembang. Secara umum ini sangat prospektif secara ekonomi," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved