Berita Kaltim Terkini
Potensi Mangrove di Kaltim dari Segi Wisata dan UMKM Warga Sekitar Pesisir
Dalam webinar "Satu Mangrove untuk Masa Depan Kalimantan Timur" yang digelar Senin (13/6/2022) dengan hadir akademisi
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Modal yang baik bagi pengembangan mangrove di Kalimantan Timur tentu perlu mengoptimalkan ekosistem.
Hal itu sebagai mesin penggerak ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Pihaknya mencoba menyusun prioritas strategi, model pengelolaan berkelanjutan dengan pengembangan berkelanjutan.
Tentu saja harus mampu menyelesaikan permasalahan ekologis geofisik dan permasalahan kelembagaan baru kemudian masuk sebagai unit usaha yang kompetitif.
Baca juga: Tanam 2.061 Pohon Mangrove, bank bjb Dukung Indonesia Tanpa Pencucian Uang dan Pendanaan Teroris
Baca juga: Negara Beli 13 Ribu Rumah dari Pengembang di IKN Nusantara, Rumah ASN TNI dan Polri
Baca juga: Paser Penyangga IKN Nusantara, Andalkan Pertanian, Sudah Ada 2 Investor yang Berminat
Karena pengetahuan memang tidak ada pemberdayaan tanpa ekonomi hijau yang berputar.
Tidak bisa terus-menerus menerapkan bantuan tentunya harus menjadi unit bisnis yang kompetitif sehingga diperlukan model bisnis.
Dalam webinar "Satu Mangrove untuk Masa Depan Kalimantan Timur" yang digelar Senin (13/6/2022) dengan hadir akademisi dari Universitas Mulawarman (Unmul) serta beberapa pemangku jabatan.
Diskusi dalam jaringan (daring) terkait keberlangsungan mangrove yang di inisiasi Tribun Kaltara dan Tribun Kaltim ini dihadiri Peneliti Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Unmul, Dr. Erwiantono.
Pria yang karib disapa Erwin tersebut, banyak menjelaskan terkait potensi ekonomi masyarakat pesisir dari hasil penelitian ekowisata mangrove.
Tim peneliti dimana dia menjadi Ketua-nya, sudah banyak menelisik potensi-potensi Mangrove.
Baca juga: Mendalami Keunggulan Mangrove Kaltim, Penopang Ekonomi Warga Melalui Wisata
Erwin mengambil contoh kawasan mangrove di Tanjung Batu, Kabupaten Berau, Kaltim.
"Kami menggunakan beberapa penelitian kolaborasi kemudian ada skema penelitian mandiri juga. Bagaimana untuk dimanfaatkan bagi penghidupan masyarakat," ungkapnya diawal keterangan, Senin (13/6/2022).
Dilanjutkannya, solusi untuk mangrove memang masih harus di elaborasi sehingga policy-policy bisa bekerja di tingkat bawah karena secara umum masih berlaku prinsip transaksional.
Jika manfaat mangrove sendiri yang jauh lebih besar dan kemudian masyarakat belum mendapatkan edukasi cukup tentang manfaat keberadaannya bagi jangka panjang.
"Kami melihat Pusat Informasi Mangrove (PIM) Tanjung Batu yang banyak mendapat dukungan ini, sangat bagus untuk upaya-upaya mengenalkan," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/peneliti-sosial-ekonomi.jpg)