Berita Internasional Terkini
China & Taiwan Diambang Perang, Dampaknya Bisa Lebih Parah Dibanding Rusia vs Ukraina
China dan Taiwan diambang perang, seperti yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina
TRIBUNKALTIM.CO - China dan Taiwan diambang perang, seperti yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina.
Bahkan, sejumlah pihak menilai perang antara China dengan Taiwan bakal lebih besar dampaknya dibandingkan dengan Rusia vs Ukraina.
Lantas, apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya perang antara China dengan Taiwan, benarkah hal ini imbas dari perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina?
Salah satu dampak terjadinya perang yakni berkaitan dengan perekonomian, pasalnya hal ini tak hanya berimbas kepada dua negara yang bertikai, namun dapat berdampak secara global.
Seperti yang terjadi pada perang Rusia-Ukraina sejak Februari lalu, memicu kenaikan harga komoditas dan larangan ekspor pangan, yang menyebabkan kekhawatiran bencana kelaparan di negara-negara miskin.
Kepala Negosiator Perdagangan Taiwan John Deng mengatakan pada Selasa (14/06/2022) bahwa serangan China ke Taiwan akan berpotensi menimbulkan gangguan perdagangan yang lebih buruk.
Baca juga: Rusia Hancurkan Jembatan Tersisa, Pasukan Azov Ukraina Terjebak di Sievierodonetsk
Baca juga: Rusia Dibantu Boneka Besi Putin Serang Wilayah Ukraina, Sosoknya Dijuluki Monster oleh Amerika
Baca juga: Severodonetsk Pusat Manufaktur Dibombardir, Presiden Ukraina Beber Banyak Korban Berjatuhan
Dia mengingat ketergantungan dunia pada Taiwan, khususnya untuk chip semikonduktor yang digunakan pada kendaraan listrik dan ponsel.
"Gangguan terhadap rantai pasokan internasional, gangguan pada tatanan ekonomi internasional, dan kesempatan untuk tumbuh akan jauh, jauh lebih signifikan, daripada yang ini (perang Rusia-Ukraina)," katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara di sela-sela pertemuan tingkat menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Jenewa, Swiss, dilansir dari Kompas.com.
"Akan ada kekurangan pasokan di seluruh dunia," tambahnya sebagaimana dilansir dari DW pada Rabu (15/4/2022).
Pemerintah Taiwan belum melaporkan tanda-tanda akan adanya serangan dari China, tetapi mereka telah meningkatkan tingkat kewaspadaannya terhadap niat Beijing, sejak serangan Rusia ke Ukraina dimulai.
Pemerintah China mengatakan ingin "reunifikasi damai", tetapi mencadangkan opsi lain untuk Taiwan, yang dianggapnya sebagai provinsi China, yang secara demokratis memiliki pemerintahan sendiri.
Baca juga: Kibarkan Bendera Ukraina di Puncak Everest, Pendaki Rusia Protes Keputusan Putin
Taiwan mendominasi pasar global untuk produksi chip paling canggih dan ekspornya bernilai 118 miliar dollar AS (Rp1.742 triliun) pada 2021.
Dengan mengatakan dia berharap dapat mengurangi 40 persen bagian dari ekspor Taiwan ke China.
WTO, sejauh ini merupakan salah satu dari sedikit organisasi multilateral di mana China dan Taiwan bekerja berdampingan sejak Beijing memblokir partisipasinya pada negara lain.
Bagi WTO, Invasi Rusia ke Ukraina merupakan tragedi yang pertama dalam sejarah pengawas badan perdagangan global itu, di mana satu anggotanya telah menginvasi anggota yang lain.
Badan itu pun berharap untuk mencapai paket kesepakatan, termasuk keamanan pangan untuk meringankan pasokan.
Baca juga: Rusia Terus Gempur Severodonetsk, Namun Belum Berhasil Kuasai Ukraina di Hari 108
Taiwan sendiri, turut andil dalam sanksi Barat terhadap Rusia dan memberikan sambutan baik terhadap delegasi WTO Ukraina pada Minggu (12/06/2022).
Sementara itu, China tidak akan ragu untuk memulai perang jika Taiwan mendeklarasikan kemerdekaan.
Hal ini diucapkan oleh Menteri Pertahanan China Wei Fenghe, memperingatkan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin dalam pembicaraan tatap muka perdana di antara keduanya di Singapura pada Jumat (10/6/2022), menurut para pejabat.
"Jika ada yang berani memisahkan Taiwan dari China, tentara China pasti tidak akan ragu untuk memulai perang tidak peduli biayanya," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian mengutip omongan Menteri Pertahanan China Wei Fenghe dalam pertemuan dengan Lloyd Austin.
Menteri Pertahanan China juga bersumpah bahwa Beijing akan menghancurkan hingga berkeping-keping setiap plot kemerdekaan Taiwan dan dengan tegas menjunjung tinggi penyatuan tanah air, menurut Kementerian Pertahanan China.
Baca juga: Tejawab Alasan Rusia Gempur Habis Donbas, Lokasi Strategis Serang Seluruh Ukraina
"(Dia) menekankan bahwa Taiwan adalah Taiwan-nya China... Menggunakan Taiwan untuk menahan China tidak akan pernah berhasil," tambah Kementerian itu, dilansir dari Kantor Berita AFP.
Sementara itu, Austin mengatakan kepada Wei Fenghe selama pembicaraan tersebut, bahwa China harus menahan diri dari tindakan destabilisasi lebih lanjut terhadap Taiwan, kata Kementerian Pertahanan AS.
Taiwan merupakan sebuah pulau demokratis yang memiliki pemerintahan sendiri.
Taiwan hidup di bawah ancaman invasi China yang terus-menerus.
China memandang pulau itu sebagai wilayahnya dan berjanji suatu hari akan merebutnya, dengan paksa jika perlu. (*)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/FOTO-AFP-Patrick-LIN-PATRICK-LIN-AFP.jpg)