Berita Internasional Terkini
Isu G20 Indonesia, Aksi Berbasis Daratan dan Lautan untuk Perlindungan Lingkungan Hidup
Isu Presidensi G20 Indonesia, di antaranya akan memuat aksi berbasis daratan dan lautan untuk perlindungan Lingkungan Hidup.
TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Isu Presidensi G20 Indonesia, di antaranya akan memuat aksi berbasis daratan dan lautan untuk perlindungan Lingkungan Hidup.
Tiga isu prioritas dan misi-misi utama EDM-CSWG akan dibahas dan dirumuskan menjadi komitmen kolektif G20.
Yakni melalui adopsi suatu Communiqué Menteri-Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 sebagai dokumen utama hasil pertemuan.
Communiqué ini direncanakan akan diadopsi pada Pertemuan Tingkat Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 yang akan diselenggarakan pada 31 Agustus 2022 di Bali, Indonesia.
Baca juga: Cegah Perubahan Iklim, bank bjb Raih Dua Penghargaan Emisi Korporasi 2022
Baca juga: 12 Perusahaan di Kaltim Terima Proper Merah, Perubahan Iklim dan Kelola Lingkungan jadi Acuan
Baca juga: Langkah Strategis di Sektor Kritikal Perubahan Iklim, Airlangga: Upaya Pemerintah Turunkan Efek GRK
Dalam Presidensi G20 tahun ini Indonesia menunjukkan kepemimpinan dan komitmen tinggi dalam berbagai isu strategis.
Salah satunya adalah pengelolaan lingkungan hidup dan upaya Pengendalian Perubahan Iklim.
Isu tersebut dibahas dalam pertemuan Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (EDM-CSWG) negara-negara anggota G20.
Kepemimpinan Indonesia dalam pertemuan EDM-CSWG tercermin salah satunya dari berbagai isu prioritas yang disampaikan oleh Indonesia, sejak awal langsung mendapat dukungan dari negara-negara anggota, termasuk negara yang diundang, serta organisasi internasional.
Pertemuan pertama EDM-CSWG sukses diselenggarakan di Yogyakarta pada bulan Maret lalu, dan pertemuan kedua EDM-CSWG tengah berlangsung di Jakarta pada 19 sampai 22 Juni 2022.
Jumlah delegasi pada EDM-CSWG kedua, yang hadir secara faktual juga mengalami peningkatan.
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian LHK, Laksmi Dhenwanthi, yang juga sekaligus Chair 2nd EDM-CSWG pada saat pembukaan pertemuan (20/06/2022) menyampaikan bahwa, sebanyak 196 delegasi hadir dalam pertemuan kedua ini yang berasal dari negara anggota G20, negara undangan, dan organisasi internasional.
“Sebanyak 120 delegasi hadir secara faktual di Jakarta, dan 76 delegasi lainnya mengikuti pertemuan secara virtual,” ungkap Laksmi.
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian LHK, Sigit Reliantoro yang juga sekaligus Co-Chair kali ini menerangkan bahwa setelah pertemuan pertama di Yogyakarta, Indonesia telah menerima masukan atas studi-studi pembahasan untuk EDM-CSWG.
Sigit kemudian menyampaikan apresiasi atas masukan dan partisipasi dari para delegasi.
“Kami menghargai dan berterima kasih atas masukan berharga Anda yang kami terima setelah pertemuan EDM-CSWG pertama,” ungkap Sigit.