Senin, 27 April 2026

Berita Internasional Terkini

Rusia Tuding Amerika Menginginkan Perang Terus Terjadi, Ukraina Ditekan Agar Tak Bicara Perdamaian

Rusia sebut Amerika Serikat menginginkan terus terjadinya perang dan menekan Ukraina untuk tak bicarakan soal perdamaian.

Genya SAVILOV / AFP
Sebuah foto yang diambil pada 3 Juli 2022 menunjukkan bagian ekor roket 300 mm yang tampaknya berisi bom cluster yang diluncurkan dari peluncur roket ganda BM-30 Smerch, tertanam setelah penembakan di Kramatorsk, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. Terbaru, inilah klaim Rusia terhadap Amerika Serikat yang dituding terus menginginkan terjadinya perang. 

"Prosesnya sudah dimulai," imbuhnya, dikutip dari The Moscow Times.

Lavrov juga mengklaim bahwa hubungan antara Rusia dan Uni Eropa telah berakhir.

"(Uni Eropa) telah menghancurkan hubungan yang telah dibangun selama beberapa dekade antara kami dan UE," kata Menlu Rusia ini.

Baca juga: Mengejutkan, Putin Tertarik Investasi di IKN Nusantara, Rusia Lirik Sektor Nuklir?

Namun ia menambahkan bahwa Moskow masih terbuka untuk negosiasi.

Lavrov juga mengatakan bahwa Kremlin sudah tidak mempercayai Barat.

"Saya hanya bisa mengatakan bahwa mulai sekarang, kami tidak akan mempercayai baik Amerika maupun UE."

"Kami akan melakukan semua yang diperlukan agar tidak bergantung pada mereka di sektor-sektor kritis," kata Lavrov.

Dalam konferensi pers bersama mitranya Vladimir Makei dari Belarusia, Lavrov juga menyinggung KTT NATO di Madrid.

TASS melaporkan, Lavrov mengatakan bahwa KTT NATO di Madrid sekali lagi menunjukkan bahwa negara-negara anggota NATO mengharapkan kepatuhan tanpa syarat atas keinginan mereka dari semua negara.

"Saya percaya bahwa jelas bagi semua orang apa yang mereka harapkan. Mereka tidak menghindar untuk membicarakannya, dan mereka mengatakannya sekali lagi kemarin selama KTT NATO di Madrid."

"Mereka mengharapkan kepatuhan tanpa syarat dari semua negara atas keinginan mereka, yang mencerminkan kepentingan egois mereka - terutama, kepentingan AS," kata Lavrov.

Dia menggarisbawahi bahwa Eropa modern, yang diwakili oleh UE, kehilangan kemerdekaannya atau tanda-tanda kemerdekaan yang dulu dimiliki, dan sepenuhnya tunduk pada AS.

Baca juga: Curhat Orang Terkuat Rusia Kepada Jokowi, Putin Bongkar Pemicu Krisis Pangan

Moskow meluncurkan operasi militer skala penuh di Ukraina pada 24 Februari.

Hal ini memicu sanksi ekonomi dan diplomatik yang berat dari Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa terhadap lembaga-lembaga negara Rusia, perusahaan dan sejumlah pejabat dan pengusaha Rusia.

Senjata Terbaru AS Untuk Ukraina

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved