Berita Internasional Terkini
HASIL Pertemuan Langsung Rusia & Ukraina di Turki, Kesepakatan Penting Tercapai, Perang Masih Lanjut
Hasil pertemuan langsung Rusia dan Ukraina di Turki, inilah kesepakatan penting tercapai, namun perang Rusia vs Ukraina masih berlanjut.
Mengingat Rusia dan Ukraina sendiri merupakan pemasok utama gandum dan pupuk dunia.
Sebelum menyetujui kerjasama ini Rusia diketahui telah mengajukan beberapa syarat pada dewan PBB, dimana Rusia akan melakukan pengontrolan serta penggeledahan pada kapal kargo Ukraina yang melewati laut Hitam, ini dimaksudkan untuk mencegah adanya penyelundupan senjata.
"Kondisi kami yang dapat dimengerti termasuk kemungkinan untuk mengontrol dan menggeledah kapal untuk mencegah penyelundupan senjata, dan komitmen Kyiv untuk tidak melakukan provokasi," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Pyotr Ilyichev.
Meski Ukraina belum menyatakan pendapat apapun terkait syarat yang diajukan Rusia, namun menurut dewan PBB dengan berjalannya kerja sama ini diharap krisis pangan yang saat ini tengah menimpa jutaan warga dunia bisa teratasi dengan cepat.
Baca juga: Putin Gigit Jari, AS Luncurkan Bujuk Rayunya pada Cina dan India soal Harga Mati Minyak Rusia
Respon Korea Utara
Dilansir Al Jazeera, keputusan Kyiv datang tak lama setelah berita Korea Utara mengakui kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhansk (LPR) di wilayah Donbas Ukraina.
"Kami menganggap keputusan ini sebagai upaya Pyongyang merusak kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina," kata Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs resminya.
Langkah Korea Utara secara resmi mengakui dua wilayah itu menjadikannya negara ketiga di dunia, setelah Rusia dan Suriah yang melakukannya.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), kantor berita milik pemerintah Korea Utara, mengatakan Menteri Luar Negeri Korea Utara mengirim surat kepada rekan-rekannya di Donetsk dan Luhansk.
"(Pyongyang) menyatakan keinginan untuk mengembangkan hubungan antar negara dengan negara-negara tersebut dalam gagasan kemerdekaan, perdamaian, dan persahabatan," lapor KCNA.
"Korea Utara telah mengakui kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk (DPR)," kata pemimpin Donetsk Denis Pushilin, dikutip TASS.
"Republik Demokratik Rakyat Korea mengakui Republik Rakyat Donetsk hari ini," tulisnya di Telegram.
"Status internasional Republik Rakyat Donetsk dan kenegaraannya terus menguat. Ini adalah kemenangan diplomatik lain bagi kami," tambah Pushilin.
Dia berterima kasih kepada Korea Utara atas dukungan besar untuk rakyat Donbass.
"Keputusan politik ini juga akan memberikan dasar bagi pengembangan hubungan ekonomi di masa depan. Kemitraan bilateral akan memungkinkan perusahaan kami untuk memperluas perdagangan mereka. Saya menantikan kerja sama yang aktif dan bermanfaat," tegas Pushilin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/presiden-rusia-vladimir-putin-dan-presiden-ukraina-volodymyr-zelensky-14.jpg)