Berita Balikpapan Terkini
Band Monkey Mangkir Asal Balikpapan Bela Lingkungan Melalui Musik
Monkey Mangkir, Band pendatang baru yang terbentuk di tahun 2019.Menjadikan kerusakan lingkungan yang ada di Kalimantan Timur menjadi referensi lagu
Penulis: Ardiana | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN- Monkey Mangkir, Band pendatang baru yang terbentuk di tahun 2019.
Menjadikan kerusakan lingkungan yang ada di Kalimantan Timur menjadi referensi lagu-lagunya.
Band ini digawangi oleh Ahmad Larisah (Vocal), Anggara (Bass), La Dores (Gitar), Sam (Keyboard) dan Agus Larisah (Drum).
Bukan hanya dari lagunya, filosofi dari nama monkey mangkir tersebut terinspirasi dari salah satu video yang mereka tonton.
Video tersebut menampilkan seekor primata yang kehilangan tempat tinggalnya karena kerusakan lingkungan.
Baca juga: Translate Korea Indonesia: Lirik Baby dari The Rose, Band Korsel yang Lagunya Keren-keren
Baca juga: Satgas Covid-19 Minta Konser Kangen Band Malam Ini di Dome Balikpapan Ditunda
Baca juga: Covid-19 Meningkat di Balikpapan, Panggung Event Nusantara Fest Dibongkar, Kangen Band Ditunda
"Nama monkey sendiri melambangkan monyet yang kita tonton di salah satu video. Kita liat disitu akibat kerusakan alam, banyak monyet yang kehilangan tempat tinggalnya.
Kita resap ke dalam band ini. Itu juga kenapa band ini lagunya rata-rata tentang kerusakan alam. Jadi monkey mangkir ini adalah representasi dari keadaan alam khususnya di Kaltim," ucap Sam, sang keyboadis.
Band rock ini telah membuat 6 lagu. 2 diantaranya telah mereka rilis dalam kanal youtube-nya. Single pertama berjudul Hutan Limbung yang diadaptasi dari puisi karya sang gitaris yang berjudul "Hantu Sungai Kalimantan".
"Hutan limbung adaptasi dari puisi yang judul nya hantu sungai Kalimantan. Gambaran tentang selain narkoba, ekonomi, dan lain-lain. Yang urgent itu isu kerusakan lingkungan.
Apalagi mau proyek IKN. Jadi hutan limbung itu ngegambarin kenyataan Kaltim akhir-akhir ini. Dimana ada tambang ilegal, dan lain-lain," ujar Ladores, sang Gitaris.
Sedangkan di lagu kedua yang berjudul Hantam, mereka mengambil tema yang lebih general. Seperti Sosial, ekonomi, dan politik.
Mereka menganggap berkarya dalam terbagi menjadi beberapa persen. 20 persen untuk kesenangan dan selebihnya adalah kampanye soal kerusakan lingkungan.
"Intinya kami ini bermusik cuma 20 persen, 20 persen bersenang senang, selebihnya kampanye soal isu lingkungan," tambah Dores.
Hal itu karena menurut mereka, bermusik adalah tentang kejujuran. Menggambarkan apa yang memang ada didepan mata. Bukan hanya soal keindahan, melainkan meliputi keseluruhan.
"Musik itu kan tentang kejujuran. Ketika kita nyanyi tentang keindahan. Tapi sekali hujan, banjir. Itukan kita bohong jadinya. Itu aja yang menjadi modal kita berkarya ya jujur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Personil-Monkey-Mangkir-saat-latihan0.jpg)