Rabu, 15 April 2026

Ekonomi dan Bisnis

Harga Pertalite akan Naik, Praktisi dan Pengamat Ekonomi Berikan Respon

Kenaikan harga pertalite akan menipiskan margin emiten, membuat emiten berpotensi meningkatkan harga jual sehingga berpotensi menurunkan daya beli

Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO
Warga antre untuk mendapatkan Pertalite di SPBU Balikpapan Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Emiten menilai kenaikan harga pertalite akan menipiskan margin emiten, membuat emiten berpotensi meningkatkan harga jual sehingga berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Kabarnya, pemerintah pusat akan dongkrak harga bahan bakar minyak atau BBM jenis Pertalite

Tentu saja pemerintah akan mengurangi nilai subsidi pada Pertalite ini demi menjaga kesetabilan keuangan negara.  

Menanggai adanya rencana kenaikan harga Pertalite di pasaran, para pengamat dan praktisi ekonomi angkat bicara. 

Analisis Raditya, banyak produsen juga yang memanfaatkan pertalite sebagai bahan bakar mesin produksinya.

Baca juga: Ancaman Inflasi Tinggi jika Harga Pertalite Naik, Pemerintah Perlu Alokasikan Bantalan Sosial

“Rencana kenaikan harga pertalite tentunya akan membebani masyarakat dan membebani margin produsen apabila tidak meningkatkan harga jualnya," terang Raditya.

Menurut Raditya, kenaikan harga pertalite akan menipiskan margin emiten, membuat emiten berpotensi meningkatkan harga jual sehingga berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

Hal ini karena inflasi tentunya juga akan terkerek naik seiring meningkatnya harga pertalite.

Selain emiten barang konsumsi, kenaikan harga BBM juga ini akan berdampak negatif kepada emiten transportasi berbasis penumpang seperti taksi dan ojek online. Karena biasanya kenaikan harga BBM akan diikuti dengan kenaikan harga jasa.

Efek Domino ke Berbagai Sektor

Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, kenaikan harga BBM subsidi ini akan membuat inflasi naik signifikan.

Menurut Wawan, kenaikan harga BBM subsidi memiliki efek domino ke banyak sektor, termasuk sektor konsumer.

“Kenaikan ini akan memukul pendapatan emiten,” terang Wawan kepada Kontan.co.id, Kamis (18/8/202).

Baca juga: Di Muara Wahau, Pertalite Sempat Rp 13 Ribu Seliter di Eceran, Sekarang Sudah Rp 10 Ribu per Liter

Di sisi lain, Indonesia masih berupaya bangkit pasca pembatasan mobilitas selama pandemi.

Dengan pemerintah yang terus memperoleh surplus perdagangan, menurut Wawan, pemerintah bisa saja memilih untuk mempertahankan harga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Hingga kuartal II-2022, laporan keuangan emiten barang konsumer rata-rata mencatatkan kenaikan penjualan. Ini artinya, konsumsi masyarakat meningkat. Tren ini diharapkan akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Sumber: Kontan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved